5 Calon Manajer Kopdes Meninggal, Kemhan Lakukan Tracing dan Isolasi Massal

Kemhan melakukan tracing dan isolasi massal peserta SPPI usai satu calon manajer Kopdes meninggal karena pneumonia.

Diterbitkan 27 Juni 2026, 17:23 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Kemhan lakukan tracing dan isolasi massal peserta SPPI setelah satu meninggal pneumonia.
  • Novia Sihotang didiagnosa TBC, namun Kemhan membantah, sebut infeksi paru-paru virus.
  • Lima peserta SPPI meninggal karena berbagai penyakit, Kemhan klaim rekrutmen sesuai SOP.

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Pertahanan (Kemhan) melakukan tracing dan isolasi massal terhadap sejumlah peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih, setelah salah satu peserta terdiagnosis pneumonia dan meninggal dunia.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemhan, Mayjen TNI. Ketut Gede Waten Pasti, mengatakan pihaknya juga melakukan klasterisasi dan tindakan medis bagi peserta.

"Sekaligus menjawab yang terakhir, pasca kejadian yang saudari kita Sihotang, dari satlat setempat yaitu dari Halim Perdanakusuma langsung melaksanakan tracing kepada seluruhnya, pada lingkungan, termasuk kepada penyelenggara sendiri. Kemudian dilaksanakan klasterisasi dan tindakan kedokteran lebih lanjut," kata Ketut di Kementerian Pertahanan, Sabtu (27/6/2026).

Hingga saat ini, sudah ada lima peserta latsarmil program SPPI calon manajer Kopdes meninggal dunia akibat berbagai penyakit yang diderita. Mulai dari hipertensi, obesitas, pneumonia, infeksi paru-paru akibat virus, hingga tuberkolosis (TBC).

Berdasarkan pemeriksaan, peserta atas nama Novia Ramadhani Sihotang didiagnosa meninggal akibat tuberkolosis (TBC). Namun, hasil tersebut dibantah oleh Tim Kesehatan Kemhan.

Tim Kesehatan Kemhan, Letkol Ckm dr. Ikhsan, menegaskan pelaksanaan rekrutmen dilakukan sesuai dengan standar operasional (SOP). Pemeriksaan dilakukan melalui laboratorium, fisik, rontgen, hingga USG.

"Tetapi kalau TBC yang kami sempat diskusi dengan ini, itu bukan TBC tapi adalah pneumonia atau infeksi paru-paru yang disebabkan oleh virus," kata dia.

 

Bukan TBC

Ikhsan juga menegaskan, peserta yang memiliki riwayat penyakit tuberkolisis atau TBC tidak akan diloloskan. Ia menyebut, TBC adalah penyakit yang tidak lulus atau tidak memenuhi syarat.

"Kenapa ada pertanyaan tadi agak ini? Itu dari hasil pemeriksaan itu bukan TBC, tetapi adalah infeksi paru-paru yang disebabkan oleh virus," kata dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6