Sukses

Menunggu Data Inflasi AS, Rupiah Menguat ke 14.230 per Dolar AS

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada perdagangan Kamis pekan ini. Investor tengah menunggu rilis data Ekonomi AS.

Mengutip Bloomberg, Kamis (10/6/2021), rupiah dibuka di angka 14.255 per dolar AS, stabil jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya. Menjelang siang, rupiah menguat ke 14.236 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.230 per dolar AS hingga 14.255 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 1,32 persen.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang ditransaksikan antarbank menguat jelang rilis data inflasi di AS.

"Investor bersikap hati-hati menjelang rilis data inflasi AS," tulis Tim Riset Monex Investindo Futures dalam kajiannya dikutip dari Antara.

Mayoritas investor memilih menunggu data inflasi AS periode Mei 2021 yang diproyeksikan mencapai 4,7 persen (yoy) atau lebih tinggi dari inflasi April 4,2 persen.

Indeks dolar yang mengukur kekuatan dolar terhadap mata uang utama lainnya saat ini berada di level 90,177, naik dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yaitu di posisi 90,12.

Sedangkan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun saat ini berada di level 1,481 persen, turun dibandingkan posisi penutupan sebelumnya 1,489 persen.

Selain data inflasi AS, investor juga mencermati pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB) yang akan datang untuk membantu mengukur laju pemulihan ekonomi saat ini.

Investor akan mengawasi setiap petunjuk ECB tentang perlambatan yang akan segera terjadi pada program pembelian obligasi.

2 dari 3 halaman

BI Akui Nilai Tukar Rupiah Masih Undervalued, Ini Prediksi Besaran di 2021

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mengakui bahwa nilai tukar rupiah masih undervalued terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Namun tetap ada berbagai pontensi untuk menguatkan rupiah.

"Apakah nilai tukar kita masih undervalued secara fundamental? iya karena inflasi kita rendah, defisit transaksi berjalan rendah, dan juga ekonomi kita yang membaik," jelas Gubernur BI Perry Warjiyo, dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu (2/6/2021).

Kendati demikian, ada potensi-potensi nilai tukar menguat. Namun juga ada ketidakpastian dan risiko tekanan nilai tukar dari sisi global, termasuk kenaikan US treasury yield.

"Kami akan terus melakukan stabilitas nilai tukar rupiah, dan ini juga didukung oleh cadangan defisa kami yang akhir bulan lalu adalah USD 138,8 miliar," tutur Perry.

Secara keseluruhan, BI memproyeksikan nilai tukar rupiah pada tahun ini berada di level Rp 14.200 - Rp 14.600. Kemudian diprediksi akan terus menguat pada tahun depan.

"Untuk nilai tukar di 2022, kami prediksi dikisaran Rp 14.100 sampai dengan Rp 14.500. Masih menguat dari 2021 karena ketidapastian global itu penguatannya memang tidak seperti mengarah betul kepada fundamental," ungkap Perry.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: