Sukses

Cerita Febriana Bangun Bisnis Alekroti, Rangkul Teman Jadi Reseller

Liputan6.com, Jakarta - Selama pandemi covid-19, banyak sektor usaha yang terdampak. Tak terkecuali usaha roti rumahan “Alekroti” milik Febriana (43). Penjualan Alekroti menurun hingga 70 persen sepanjang 2020.

Namun dibalik pandemi ada hikmah yang ia peroleh, yakni bisa mendapatkan banyak waktu untuk berinovasi menciptakan roti dengan varian baru.

Usaha yang dirintisnya pada 2013 itu, terbilang tidak cukup mulus. Mulanya Febriana bersama suami dihadapkan dengan situasi yang memaksa mereka untuk berwirausaha. Karena tempat kerja suami Febriana bangkrut, sehingga mereka memutar otak untuk menghasilkan pendapatan melalui usaha roti.

“Awalnya itu kita berdua sama-sama pegawai dulunya, terus kebetulan suami saya itu kantornya bangkrut. Jadi waktu itu posisinya suami saya kerja saya juga kerja. Nah suami saya kantornya bangkrut waktu itu kita mikir, usaha apa ya gitu apa kita udah umur nanti kepala empat mau tidak mau kita harus berwirausaha nih,” kata Febriana kepada Liputan6.com, Minggu (28/3/2021).

Waktu itu dengan modal Rp 3 juta, digunakan untuk membeli peralatan baking seperti oven, mixer, loyang dan sebagainya. Karena anak-anaknya gemar memakan roti, maka sang suami berinisiatif untuk membuat roti sendiri, dan belajar secara otodidak melalui Youtube.

“Suami saya itu tidak punya latar belakang pastry, karena dia latar belakangnya di advertising. Tapi kita tidak putus asa, kenapa sih orang saja bisa kok gitu, kenapa kita nggak bisa. Suami saya mencoba sendiri belajar dari YouTube. Tiga bulan kita coba-coba resep itu kita modifikasi resep yang satu dengan yang lain gitu sampai dapat formula yang pas,” ungkapnya.

Setelah mendapatkan formula yang tepat, tidak berarti roti yang dibuatnya langsung di pasarkan. Melainkan Febriana memberikan tester kepada tetangga. Kemudian para tetangga menilai kalau roti buatan Febriana dan suami itu teksturnya lembut, dan mereka menyarankan agar Febriana memasarkan produk rotinya.

“Waktu itu kita belum pede, masih maju mundur. Nah tapi dengan keadaan waktu itu mau tidak mau, dengan modal nekat akhirnya kita pasarkan. Awalnya itu, saya jual roti ke warung tetangga, alhamdulillah roti yang kita taruh habis, roti yang dijual roti kecil-kecil harga Rp 2000-an,” katanya.

Dengan langkah kecil itu, seiring berjalannya waktu akhirnya Febriana dan suami mulai memasarkan rotinya ke toko-toko lain. Selain itu, dirinya juga memberanikan diri untuk menitipkan roti ke kantin sekolah di Depok. Biasanya ia memasok 100 pcs ke setiap sekolah, dalam sehari ia mampu memproduksi 300-500 pcs roti.

“Hampir berjalan 2013 hingga awal sebelum pandemi kita masih supply. Cuman kemarin selama pandemi kita berhenti supply karena sekolahnya online. Untuk bertahan di masa pandemi kita open PO setiap hari, alhamdulillah sudah banyak yang tahu roti kita,” ujar Febriana.

 

2 dari 2 halaman

Reseller

Lebih lanjut, Febriana menyebut harga rotinya dijual mulai dari Rp 3 ribu hingga Rp 65 ribu. Dalam sebulan sebelum pandemi covid-19, biasanya Febriana mengantongi keuntungan hingga Rp 15 juta per bulan. Tapi semenjak pandemi turun hingga 70 persen.

Untuk pemasarannya sendiri, Alekaroti biasa dijual ke Bogor, Jakarta dan sekitar Depok saja. Sejauh ini Alekaroti tidak menjual keluar kota seperti Bandung, Yogyakarta dan kota lainnya. Sebab rotinya hanya bisa bertahan selama 2 hari saja.

“Pernah waktu itu teman ngotot minta dikirim roti ke Yogyakarta karena penasaran dengan roti saya, kita kirim pake ekspedisi, seminggu baru diterima dan rotinya sudah buluk tidak bisa dimakan. Jadi pemesanannya masih terbatas masih sekitar Depok, Jakarta,” imbuhnya.

Sementara ini Febriana hanya bekerja berdua dengan suami. Mereka tidak memiliki pekerja, namun mereka memberdayakan reseller di sekitarnya. Jumlahnya diperkirakan ada 10 orang reseller yang menjual Alekaroti.

“Untuk sementara kontribusinya kita membantu teman-teman reseller yang mau menjual roti kita. Kan biasanya reseller itu mengambil keuntungan sedikit jadi kita membantu reseller untuk mendapatkan pemasukan,” ungkapnya.

Namun ke depannya, Febriana dan sang suami bercita-cita ingin memiliki pegawai dengan memberdayakan masyarakat sekitar. Untuk mendukung hal itu, Febriana juga ingin memiliki tempat produksi sendiri, karena selama ini produksi masih dilakukan di dapur pribadinya.

“Pasti ada, cuman ada beberapa kendala yang harus kita pikirin. Pertama, karena produksi kita masih di dalam komplek perumahan, untuk merekrut karyawan dari luar tempat tinggal kita harus urus izin RT/RW dulu. Kedua, ruang produksinya kita masih campur dengan produksi pribadi. Jadi produksi kita masih menyatu jadi masih ada beberapa hal yang belum kita handle,” pungkasnya.