Sukses

Mentan Syahrul Yasin Limpo Minta Petani Kediri Asuransikan Lahan Pertanian

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan 2 langkah yang bisa dijalankan petani di Kabupaten Kediri untuk menjaga lahan pertanian. Dua langkah itu adalah gerakan pengendalian (gerdal) hama dan asuransi. Hal ini disampaikan mengingat tanaman petani diserang hama di tengah cuaca ekstrim.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, petani harus mencegah hal yang bisa merugikan usahanya.

"Sektor pertanian cukup rentan terhadap sejumlah kondisi, seperti perubahan iklim, cuaca ekstrim, bencana alam, juga serangan organisme pengganggu tanaman dan hama yang bisa dicegah dengan gerdal. Tapi, agar terhindar dari kerugian, petani bisa mengasuransikan lahannya," tutur Syahrul seperti dikutip dari keterangan tertulis, Minggu (28/2/2021).

Hal senada disampaikan Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian, Sarwo Edhy.

"Asuransi adalah bagian dari mitigasi bencana yang akan membantu petani menjaga lahan. Jika terjadi gagal panen, asuransi akan mengeluarkan klaim sebesar Rp 6 juta perhektare," jelasnya.

Dengan klaim ini, Sarwo Edhy menambahkan, petani tidak akan menderita kerugian.

"Justru petani tetap memiliki modal untuk tanam kembali. Sehingga produksi pertanian juga tidak berhenti," katanya.

Keluhan mengenai serangan gama di tengah cuaca ekstrim disampaikan para petani padi di Kabupaten Kediri. Diantaranya di Desa Doko Kecamatan Ngasem.

Para petani mengeluhkan banyaknya serangan penyakit xanthomonas oryzae atau yang biasa disebut kresek lalat daun.

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

2 dari 3 halaman

Pertanian TetapPertanian Tetap Menjadi Sektor Lokomotif Ekonomi di 2021 Menjadi Sektor Lokomotif Ekonomi di 2021

Sebelumnya, Kementerian Pertanian (Kementan) bersama dengan IPB University mengevaluasi kondis makro pertanian 2020 yang akan menjadi dasar outlook 2021.

Hasil evaluasi menyatakan jika sektor pertanian Indonesia pada Kabinet Indonesia Maju terutama di tengah pandemi covid-19 telah memberikan andil besar dan menopang perekonomian nasional, bahkan di gadang-gadang sektor pertanian menjadi lokomotif ekonomi Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan Rektor IPB University, Arif Satria usai pertemuan terkait evaluasi makro pertanian 2020 bersama dengan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian di Bogor, Senin (22/2/2021).

Menurut dia, pertumbuhan sektor pertanian di sepanjang era pandemi 2020 berhasil menjadi sektor terkemuka.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, sektor pertanian pada kuartal ke empat, 2020, tercatat tumbuh sebesar 2,59 persen secara year on year, di mana subsektor pendukung utamanya adalah tanaman pangan yakni sebesar 10,47 persen.

“Saya berharap kondisi seperti ini terus berlanjut pada 2021, dikarenakan sektor teknis lainnya anjlok maka sektor pertanian menjadi penyelamat bagi perburukan resesi ekonomi di kuartal 3,” jelas dia.

Kemudian keberhasilan kebijakan dan program di sektor pertanian tidak hanya dilihat dari kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB), namun juga diikuti dengan kinerja ekspor.

Terkait outlook 2021, Arif berharap tahun ini benar-benar ada upaya sistematis satu penguatan infrastuktur pertanian termasuk irigasi.

“Karena berdasarkan simulasi yang sudah kami ternyata faktor-faktor yang akan berpengaruh infrastuktur irigasi kemudian yang kedua adalah kemampuan kita memitigasi perubahan iklim yang ketiga adalah sejauh mana kita ini mampu untuk mendorong inovasi inovasi termasuk litbang,” tutur dia.

Dikatakan jika berbagai riset pada 2021 dan penerapan inovasi terbaik dalam bidang pertanian harus benar-benar di dorong.

Terakhir soal logistik, di mana arus distribusi barang akan menjadi kunci di tengah ketidakpastian Covid-19 akan berakhir.

"Kita belum tau sampai kapan berakhir maka salah satu kuncinya adalah aspek logistik supaya apa supaya supply yang ada di desa itu bener-bener bisa terakomodasi dan kemudia bisa termanfaatkan dengan baik," jelas dia.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: