Sukses

Pertumbuhan Kredit Konsumsi Bank BTN Kontraksi Hingga Minus 10 Persen

Liputan6.com, Jakarta - Selama pandemi Covid-19, pertumbuhan kredit perumahan Bank Tabungan Negara (BTN) tetap tumbuh positif di angka 1,98 persen di tahun 2020. Sayangnya, ini tidak diikuti dengan penyaluran kredit konsumsi. Kredit konsumsi di Bank BTN justru kontraksi hingga negatif 10 persen.

"Kredit konsumsi tahun ini turun, negatif 7 persen sampai negatif 10 persen," kata Direktur PT Bank Tabungan Negara (Persero) Pahala N Mansury di Hotel Sultan, Jakarta, (10/12/2020).

Meski begitu Pahala optimis tahun depan penyaluran kredit konsumsi akan membaik. Dia memperkirakan kredit konsumsi akan naik 5 persen sampai 6 persen.

"Tahun depan paling tidak kondisi berbalik, ini bisa tumbuh 5-6 persen," kata dia.

Asalkan, lanjut Pahala kredit konsumsi bisa mengambil momentum positif yang diciptakan. Sebab pembiayaan di sektor perumahan tidak hanya untuk pembangunan perumahan dan konstruksi perumahan. Pembiayaan juga bisa disalurkan melalui sektor pendukung lainnya seperti PLN.

Pahala menjelaskan penting bagi BTN untuk bekerja sama juga dengan perusahaan listrik tersebut. Sebab biasanya lokasi pembangunan perumahan KPR subsidi belum terhubung dengan transmisi dan konstruksi listrik.

"Kita bangun perumahan subsidi ini belum ada transmisi dan konstruksi listrik," kata dia.

Maka, perlu Pahala mendorong pemerintah untuk mendukung masuknya Public Service Obligation (PSO) ke sektor lainnya. Sehingga ada BUMN terkait bisa mendapatkan penugasan langsung dari pemerintah.

2 dari 3 halaman

Selama Pandemi Covid-19, LDR BTN Turun jadi 88 Persen

Direktur Utama Bank BTN, Pahala Nugraha Mansury mengatakan risiko likuiditas atau load to deposits (LDR) perbankan di masa pandemi Covid-19 perbankan tetap terjaga. Bahkan LDR Bank BTN menurun dari sebelumnya 117 persen menjadi 88 persen.

"Sebelum pandemi, LDR kita di atas 117 persen. Saat ini LDR kita turun, hanya 88 persen," kata Pahala dalam Webinar Banking dan Financial Outlook 2021: How Banking Leaders Manage Strategy To Reborn From Crisis, Jakarta, Selasa (1/12).

Di awal pandemi, likuiditas perbankan menjadi perhatian banyak orang. Tidak sedikit pihak menilai perbankan akan mengalami masalah likuiditas. Namun faktanya, kata Pahala, LDR tetap terjaga.

Kondisi ini dipicu dari pola hidup masyarakat yang cenderung menahan diri untuk melakukan kegiatan konsumsi. Sehingga dana yang mereka miliki disimpan. Sehingga risiko likuiditas perbankan tidak begitu terasa.

"Mereka tidak pakai uangnya untuk belanja dan risiko likuiditas ini tidak terlalu terasa," kata Pahala.

Hal yang sama juga terjadi di banyak perbankan nasional maupun secara global. Sisi lain Pahala menilai kondisi ini juga ikut dipengaruhi oleh hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika Serikat bulan lalu.

"Tapi ini mungkin ada pengaruh dengan pilpres Amerika Serikat yang membuat nilai rupiah menguat di Rp 14.000 sampai Rp 14.100-an," kata Pahala.

Sektor lain selain perbankan yang tetap bisa bangkit bahkan mengalami pertumbuhan antara lain, pertanian, telekomunikasi, kesehatan dan yang sifatnya kebutuhan pokok.

Namun tidak semua sektor juga mengalami hal yang sama. Banyak sektor bisnis yang mengalami penurunan permintaan seperti sektor transportasi, industri, konstruksi hingga pariwisata.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: