Sukses

Program Kartu Prakerja Gelombang 3 Tak Capai Target, Ini Sebabnya

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Eksekutif PMO Kartu Prakerja Denni Purbasari, mengatakan awalnya 50 persen pendaftar kartu prakerja gelombang 3 merupakan peserta yang diusulkan oleh Kementerian Ketenagakerjaan.

“Untuk peserta batch 3 yang terkakhir kemarin, jumlah yang mendaftar atau join batch 3 yaitu sebanyak 1,5 juta orang, yang diterima itu 224.675 peserta dari target 300 ribu perserta,” kata Denni dalam Diskusi Online INDEF, Selasa (19/5/2020). 

Lalu mengapa dari target peserta penerima kartu prakerja bisa turun dari 300 ribu peserta menjadi 224.675 peserta? Denni mengatakan perubahan itu dikarenakan pihaknya menerapkan teknologi face matching, yang bertujuan untuk memastikan kalau penerima Kartu Prakerja merupakan orang yang tepat.

Denni menambahkan karena Kemenaker sudah bersinkroninasasi dengan data dari BPJAMSOSTEK, sehingga mereka yang mengambil Jaminan Hari Tua (JHT) atau sudah berhenti mengiur artinya kehilangan pekerjaan, menjadi prioritas untuk mendapatkan kartu prakerja.

“Namun pada saat kita melakukan pengecekan dengan pendaftar yang masuk di batch 3 ini hanya 97 ribu saja dari 1,7 juta usulan Kemenaker yang mendaftar di batch 3. Nah, dari 97 ribu itu, yang lolos face matching  54.490 orang,” jelasnya.

 

2 dari 2 halaman

Peta Pendaftar

Selanjutnya, Denni menyampaikan, bahwa hingga dilakukannya gelombang 1-3, pendaftar kartu prakerja yang paling banyak didominasi dari Jawa Barat, Jawa tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, Sumatera Utara.

Sedangkan untuk pendaftar yang paling sedikit berasal dari Gorontalo, Kalimantan utara, Maluku utara, Papua, dan Papua Barat.

Selain itu, Denni mengungkapkan ternyata banyak sekali tujuan dari peserta yang mendaftar kartu prakerja ini untuk berwirausaha, karena menurut mereka dengan beriwirausaha bisa mendukung perekonomiannya dengan mengikuti pelatihan di kartu prakerja.

“Jenis pelatihan yang disediakan dalam Prakerja ini pun bervariasi, karena pendaftar kita beragam, mulai dari pendidikan dan kesukaannya berbeda, karena  tidak semuanya  mau menjadi karyawan apalagi tahun 2020 ada covid-19 ini susah mencari pekerjaan, itulah gambaran batch 3 ini,” pungkasnya.