Sukses

Larangan Ekspor Nikel Kadar Rendah untuk Kembangkan Kendaraan Listrik

Liputan6.com, Jakarta Pelarangan ekspor nikel yang berlaku mulai 1 Januari 2020 akan mendorong pengembangan industri mobil listrik. Pelarangan ini akan mendorong pengelolaan nikel kadar rendah yang mengandung lithium dan kobalt.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Gatot mengatakan, pelarangan ekspor nikel berlaku untuk semua kadar, termasuk kadar rendah di bawah ‎1,7 persen yang sebelumnya boleh diekspor.

"Pemerintah dengan pertimbangan cost benefied-nya mengambil insiatif menghentikan ekspor nikel segala kualitas. Dulu di bawah 1,7 diekspor atas dasar itu kita hentikan," kata Bambang, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (2/9/2019).

Menurut Bambang, nikel kadar rendah saat ini sudah bisa diolah dengan teknologi ‎hydrometalurugi untuk dijadikan komponen baterai yang bisa mendukung pengembangan industri kendaraan listrik di Indonesia.

‎"Kedua saat ini perkembangan teknologi sudah maju, justru dapat mengelola nikel kadar rendah, nikel tersebut dapat digunakan sebagai komponen baterai," tuturnya.

Menurut Bambang, saat ini ada empat perusahaan yang sedang dibangun untuk mengelola nikel kadar rendah menjadi baterai kendaraan listrik. Jika empat pabrik tersebut beroperasi maka total kebutuhan nikel kadar rendah pada 2021 akan mencapai 27 juta ton per tahun.

‎"Ini ada perusahan yang ingin mengolah kadar rendah jadi kobalt dan lithium," tandasnya.

 

2 dari 2 halaman

Rincian Perusahaan

‎Empat perusahaan tersebut adalah, PT Harita Prima Abdi Mineral atas nama PT Halmahera Persada Lygend kapasitas olahan 8,3 juta wet ton bijih nikel per tahun dan kapasitas menghasilkan 278.534 ton dalam bentuk Mixed Hydroxide Percipitate,nikel sulfat dan cobalt sulfat.

PT Smelter Nikel Indonesia dengan kapasitas kelola 2,4 juta wet ton bijih nikel per tahun dan kapasitas menghasilkan 76.500 ton bentuk Mixed Hydroxide Percipitat (MHP), nikel suflat dan cobalt sulfat.

Huayue Bahodopi PT Huayue Nickel Cobalt di Morowali Sulawesi Tengah, mampu mengolah 11 juta ton bijih nikel per tahun menghasilkan 60 ribu Ni per tahun dan 7.800 ton cobalt.

QMB Bahodopi‎ Morowali Sulawesi Tengah, kapasitas kelola 5 juta ton bijih nikel per tahun, kapasitas menghasilkan 50 ribu ton Ni per tahun dan 4 ribu cobalt.

Loading
Artikel Selanjutnya
Top 3: Akhir Kisah Sedih Koala Australia Hingga Penjelasan Jika Bumi Datar Tersorot
Artikel Selanjutnya
Dubes Uni Eropa: Larangan Ekspor Nikel Indonesia Merugikan Kami