Sukses

Indef Sebut Atasi Harga Pangan Tak Ada Jalan Pintas

Liputan6.com, Jakarta - Peneliti Indef, Bhima Yudhistira turut menanggapi pernyataan calon presiden (capres) nomor urut 02, Prabowo Subianto yang berjanji akan menurunkan harga bahan pokok seperti telur sampai daging jika ia terpilih menjadi presiden. 

Dalam pertemuan dengan ratusan ibu-ibu yang tergabung dalam Forum Komunikasi Majelis Ta'lim (FKMT) serta relawan Aliansi Pencerah Indonesia (API), Prabowo bahkan menyebutkan harga kebutuhan pokok itu akan turun pada 100 hari pertama ia menjabat sebagai presiden.

"Itu (harga telur) tidak bisa 100 hari, lebih baik prosesnya terencana matang 5 tahun. Soal pangan tidak ada jalan pintas," kata Bhima, di Jakarta, Sabtu (9/2/2019).

Dia menuturkan, pengaturan harga pangan perlu dilakukan hati-hati dan direncanakan secara matang agar tidak merugikan peternak.

Langkah-langkah untuk menurunkan harga pangan, misalnya pemangkasan rantai distribusi, menekan praktik tengkulak. Hal yang juga penting adalah membangun infrastruktur pertanian sehingga ongkos transportasi tidak mahal.

"Jika dipaksa turun, misalnya harga telur ayam, maka akan merugikan harga di tingkat peternak," ujar dia.

Bhima menilai, langkah penurunan harga kebutuhan pokok tersebut belum terlalu mendesak untuk dilakukan. Sebab saat ini angka inflasi nasional masih relatif terjaga. Inflasi 2018 tercatat 3,13 persen. Inflasi itu sesuai dengan target pemerintah.

 

Reporter: Wilfridus Setu Embu

Sumber: Merdeka.com

 

2 dari 2 halaman

BPS: Inflasi Sepanjang 2018 Tercatat 3,13 Persen

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi pada Desember 2018 sebesar 0,62 persen. Dengan demikian, inflasi tahunan (year on year) selama 2018 mencapai 3,13 persen.

"Pada Desember inflasi tercatat 0,62 persen. Dengan inflasi ini berarti inflasi tahun kalender sebesar 3,13 persen," ujar Kepala BPS Suhariyanto di Kantornya, Jakarta, Rabu 2 Januari 2019.

Suhariyanto mengatakan, inflasi tahunan sebesar 3,13 persen berada di bawah target pemerintah sebesar 3,5 persen plus minus 1. Dia pun berharap hal yang sama dapat terjadi pada 2019.

"Dengan target 3,5 persen berarti inflasi 2018 berada di bawah target. Kita harap 2019 harga pangan dan bahan makanan sudah stabil sehingga inflasinya berada pada target," jelasnya.

Suhariyanto melanjutkan, dari 82 kota IHK yang dilakukan pemantauan pada Desember 2018, sebanyak 80 kota mengalami inflasi. Sedangkan 2 kota lainnya mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi terjadi di Kupang sebesar 2,09 persen, sedangkan terendah yaitu Banda Aceh sebesar 0,02 persen. Sementara untuk deflasi tertinggi dialami Sorong sebesar -0,15 persen dan deflasi terendah di Kendari sebesar -0,09 persen.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Emosi Ditagih Utang, Pria Bunuh Rekan Sendiri

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Infrastruktur Tak Efisien, Harga Avtur Jadi Mahal
Artikel Selanjutnya
Indef: Penerapan Bagasi Berbayar Bebani Sektor Logistik