Sukses

Ekonomi Dunia Melambat pada 2019, Bagaimana Indonesia?

Liputan6.com, Jakarta - Pertumbuhan ekonomi dunia diproyeksi melambat pada 2019, tak terkecuali Indonesia. Tensi perang dagang pun malah diprediksi memburuk dan mempengaruhi alur dagang dan rantai suplai global. 

Laporan Moody's menyebut pada Januari 2019 tarif Amerika Serikat (AS) ke China diprediksi bertambah dan setelahnya akan ada tarif lagi untuk produk China senilai USD 267 miliar. Ada pula restriksi investasi China di sektor teknologi AS, serta sengketa Brexit yang akan mencapai puncak di Maret 2019,

"Kami tidak berpikir bahwa deskalasi perang dagang (di G20) adalah penyelesaian permanen," ucap Joy Rankothge, Vice President-Senior Analyst Moody's Investors Service dalam acara Moody's 'Inside ASEAN - Spotlight on Indonesia' di Jakarta, Kamis (6/12/2018).

Dia menuturkan, ada faktor-faktor di luar yang memengaruhi perang dagang, seperti isu politik. Namun, di tengah isu tersebut, ekonomi Indonesia diproyeksi tumbuh lebih baik jika dibandingkan dengan negara emerging market lain seperti Turki, Brazil, dan Argentina.

Berdasaran laporan Moody's Investors Service, ekonomi Indonesia diproyeksi tumbuh 4,8 persen pada 2019 dan 4,7 persen pada 2020. Itu lebih baik dari proyeksi pertumbuhan rata-rata G20 Emerging Economies, yakni 4,6 persen di tahun 2019. Pertumbuhan Indonesia juga lebih tinggi ketimbang Turki yang tahun depan pertumbuhan akan minus 2 persen dan pada 2020 baru naik menjadi 3 persen.

Negara berkembang lainnya seperti Argentina juga mengalami pertumbuhan minus 1,5 persen pada 2019 dan 1,5 persen di 2020. Sementara, Brazil tumbuh 2 persen dan 2,5 persen pada 2019 dan 2020.

Laporan itu juga menjelaskan mata uang Indonesia tidak termasuk ke dalam 10 besar negara yang nilainya jatuh terhadap dolar Amerika Serikat. Peringkat Indonesia ada di nomor 14, dan posisi lima besar dipegang oleh Argentina, Turki, Pakisan, Tunisia, dan Brazil.

 

2 dari 2 halaman

Kondisi Utang

Untuk utang, Moody's menyebut utang Indonesia tergolong rendah (modest). Hanya saja, analis Moody's mengingatkan utang masih didominasi oleh mata uang asing sehingga menambah risiko sentimen negatif dari eksternal.

"Utang pemerintah sangatlah modest, yaitu di bawah 30 persen PDB," ujar Anushka Shah, Vice President-Senior Analyst Moody's Investors Service.

"Tetapi strukturnya utangnya sekitar 40 persen utang pemerintah didominasi kurs mata uang asing. Dan hampir 40 persen surat utang mata uang lokal dipegang oleh investor asing," tambah dia.

Dominasi utang di mata uang asing tersebut akan membuat nilai utang semakin besar jika dolar AS menguat dan berpotensi melemahkan cadangan devisa, tahun ini saja devisa sudah turun USD 108,6 miliar pada akhir September 2018. Hal itu dipandang karena Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi di pasar valuta uang untuk memperlancar volatilitas.

Laporan tersebut juga menyebut defisit transaksi berjalan Indonesia telah melebar, akan tetapi defisit masih dalam level dapat terkelola (manageable)

 

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Artikel Selanjutnya
Ekonom: RI Bakal Untung jika AS Menang Perang Dagang
Artikel Selanjutnya
Sri Mulyani: RI Harus Perbaiki Kelemahan Ekonominya