Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai peluncuran exchange traded fund (ETF) emas menjadi langkah strategis untuk memperdalam sektor keuangan Indonesia. Instrumen ini dinilai tidak hanya menambah pilihan investasi, tetapi juga berpotensi meningkatkan likuiditas pasar emas nasional.
Airlangga mengatakan kehadiran ETF emas dapat menghubungkan berbagai pelaku dalam ekosistem keuangan, mulai dari manajer investasi, bank kustodian, bank bullion, dealer, hingga Bursa Efek Indonesia (BEI).
"Saya harapkan memang produk ini menghubungkan antara manajer investasi, custodian bank, bank bullion, dealer, dan bursa efek. Dan emas bukan hanya menambah pilihan investasi, tetapi juga meningkatkan likuiditas,” kata Airlangga dalam peluncuran ETF emas, di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (10/8/2026).
Advertisement
Menurut Airlangga, ETF emas juga membuka peluang bagi industri asuransi untuk berinvestasi pada emas melalui instrumen pasar modal. Sebelumnya, industri asuransi memiliki keterbatasan untuk berinvestasi langsung pada bullion.
"Dengan ETF, maka asuransi bisa investasi emas. Sebelumnya asuransi tidak bisa investasi di bullion. Jadi ini salah satu yang kita akan terus dorong,” ujarnya.
Airlangga melihat potensi pengembangan ETF emas Indonesia cukup besar. Ia menyebut nilai ETF emas global telah mencapai sekitar US$4.047 miliar, dengan Amerika Serikat sekitar US$526 miliar, China US$45 miliar, dan India US$17,5 miliar.
Di sisi lain, jumlah emas yang dikelola Pegadaian mencapai sekitar 153 ton atau setara sekitar US$20 miliar. Menurut Airlangga, besarnya potensi tersebut memberikan ruang bagi Indonesia untuk mengejar pasar ETF emas negara lain di kawasan.
"India sebetulnya bisa kita balap dengan waktu cepat. Jadi kita akan dalam waktu cepat bisa melampaui Singapura. Dan dengan demikian tentu kita lebih dalam lagi," ujar dia.
Bahas Pajak terhadap Transaksi EGR
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320077/original/008407800_1786334345-IMG_6363.jpg)
Airlangga juga menilai keberadaan Electronic Gold Receipt (EGR) menjadi bagian penting dalam pengembangan ETF emas. Ia mengapresiasi OJK yang memungkinkan EGR dicatat sebagai efek dalam portofolio ETF emas.
Menurut dia, pemerintah juga tengah membahas perlakuan perpajakan terhadap transaksi EGR, termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22.
“Harapannya bisa meningkatkan transaksi dan setara dengan transaksi yang lain, terutama yang di bursa,” ujarnya.
Airlangga mengatakan, pengembangan ETF emas berlangsung di tengah fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai tetap kuat. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% pada kuartal II 2026 dan mencatat pertumbuhan 5,45% pada semester I 2026.
Advertisement
Perkuat Kedalaman Sektor Keuangan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262967/original/037733000_1781854981-publikasi_1781853751_6a34ee37ba05e.jpeg)
Pertumbuhan tersebut berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi global yang sekitar 3%. Sementara itu, investasi Indonesia tumbuh 7,2% secara tahunan dengan nilai lebih dari Rp 1.000 triliun.
Airlangga menilai kondisi tersebut perlu dijaga karena kebutuhan pembiayaan ekonomi Indonesia diproyeksikan meningkat dari sekitar Rp 7.400 triliun pada 2026 menjadi Rp 9.200 triliun pada 2029.
“Harapannya dengan produk baru ETF, kita akan terus memperkuat Indonesia punya kedalaman sektor keuangan,” kata Airlangga.
Ia menambahkan penguatan pasar keuangan juga perlu dibarengi reformasi agar sektor keuangan Indonesia semakin kredibel, inovatif, dan berdaya saing.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6210955/original/079363800_1779089133-cek_fakta_BLT_umkm.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9295706/original/066644800_1783939615-cek_fakta_-_prasetyo_hadi_umumkan_dana_pensiunan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317894/original/043579200_1786076765-Screenshot_2026-08-07_110222.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318485/original/050923200_1786098399-Cek_fakta_-_blt_umkm_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320078/original/017683700_1786334345-IMG_6362.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1299755/original/005358200_1469608319-airlangga-hartarto.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1412168/original/032906400_1479724398-Indonesia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9319976/original/022441200_1786330468-IMG_6352.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9319960/original/028305400_1786329208-IMG_6354.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3458471/original/078083500_1621321945-20210518-Harga-Emas-Antam-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309012/original/011632200_1785214700-Gemini_Generated_Image_5o6uim5o6uim5o6u.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309011/original/063278500_1785214678-ChatGPT_Image_Jul_28__2026__07_13_04_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4013694/original/080364800_1651632347-000_329D9VK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5472767/original/057429900_1768375315-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4103062/original/041640700_1658923820-Harga_emas_menguat_tipis-ANGGA_7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5382998/original/053653000_1760612390-2.jpg)