Liputan6.com, Tangerang Selatan - "Aku pengen lihat karyaku di setiap mal." Kalimat sederhana itu menjadi gambaran besar tentang mimpi Satya, pemuda 26 tahun dengan down syndrome yang memiliki kecintaan terhadap dunia seni.
Lewat pensil, kertas, hingga komputer, Satya menuangkan imajinasi dan bakatnya dalam berbagai karya, mulai dari wayang, Candi Borobudur, Monumen Nasional (Monas), pemandangan alam, hingga desain pakaian.
Karya Satya bahkan mendapat kesempatan untuk ditampilkan dalam koleksi fesyen melalui kolaborasi Bohopanna dan Seribu Paras, komunitas pendamping anak-anak dengan down syndrome. Kolaborasi tersebut menjadi ruang bagi Satya dan anak-anak lainnya untuk menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya.
Advertisement
Satya ditemui dalam Grand Launching untuk menyambut Kemerdekaan di Tangerang, 23 Juli 2026. Saat bercerita mengenai objek yang gemar dia gambar, Satya mengatakan dirinya menyukai pemandangan.
"Aku suka pemandangan-pemandangan seperti itu," kata Satya.
Menggambar memang menjadi salah satu aktivitas yang paling disukai Satya. Oleh sebab itu, dia mengaku senang ketika mendapat kesempatan untuk terlibat dalam kolaborasi tersebut.
Menurut ibu Satya, putranya telah bergabung dengan Seribu Paras sejak sekitar 2021, saat pandemi Covid-19. Selama bergabung, Satya mendapatkan ruang untuk berkembang sekaligus mengeksplorasi minat dan bakatnya.
"Tahun berapa ya... 2021 kali ya, pas pandemi," kata ibu Satya.
Berkarya Tanpa Dibantu
Dalam kolaborasi tersebut, Satya membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk menyelesaikan karyanya. Founder Seribu Paras, Cindy Go, mengatakan anak-anak diberikan kebebasan untuk berkarya tanpa bantuan orang lain.
Cara tersebut dilakukan agar anak dapat menuangkan imajinasi sesuai dengan kemampuan dan kreativitasnya masing-masing.
"Tapi katanya nggak boleh dibantu mami, ya?" ujar Cindy kepada Satya.
Ketika ditanya mengapa tidak ingin dibantu ibunya saat menggambar, Satya menjawab singkat,"Karena aku bisa sendiri."
Jawaban tersebut memperlihatkan sisi kemandirian Satya. Dia diberi kesempatan untuk menentukan apa yang ingin dibuat sekaligus menyelesaikan karyanya dengan kemampuannya sendiri.
Tak Hanya Menggambar, Satya Juga Bisa Desain Digital
Bakat Satya tidak berhenti pada gambar manual. Dia juga mampu membuat desain digital menggunakan komputer.
Satya bahkan gemar mendesain pakaian dengan tema anime favoritnya, Demon Slayer. Minat tersebut membuatnya memiliki harapan untuk membawa karya-karyanya ke tempat yang lebih luas.
"Aku pengen lihat karyaku di setiap mal," kata Satya.
Di balik semangatnya berkarya, Satya tetap menghadapi sejumlah tantangan. Sang ibu mengatakan salah satunya berkaitan dengan suasana hati atau mood saat menggambar.
"Kalau anak-anak seperti ini, mood-nya sih ya. Tapi, begitu mereka lagi on (bersemangat), langsung mau," ujarnya.
Menurutnya, anak-anak berkebutuhan khusus membutuhkan pendampingan dan arahan untuk membantu mereka mengenali serta mengembangkan potensinya sejak dini.
Meski begitu, kesempatan untuk berkarya memberikan pengalaman emosional yang positif bagi Satya. Selain menjadi sarana menyalurkan kreativitas, aktivitas tersebut membantu meningkatkan rasa percaya dirinya.
"Very happy and very excited," ujar Satya antusias ketika ditanya mengenai perasaannya.
Setiap Anak Punya Minat dan Bakat Berbeda
Ibu Satya mengatakan setiap anak memiliki minat dan bakat yang berbeda. Ada yang menyukai renang, musik, piano, hingga desain.
Karena itu, menurutnya, orangtua tidak perlu memaksakan satu kemampuan tertentu kepada anak. Sebaliknya, anak perlu diberikan kesempatan untuk menemukan hal yang disukai, kemudian diarahkan dan didampingi untuk mengembangkannya.
"Ada yang suka berenang, ada yang suka musik, ada yang suka desain. Yang ini bisa renang, ayo. Yang ini bisa piano, ayo bisa. Kalau aku, terserah anaknya aja, kita bantu arahin," kata ibu Satya.
Bagi Satya, kesempatan untuk berkarya bukan sekadar menghasilkan sebuah gambar atau desain.
Lebih dari itu, ruang tersebut menjadi cara untuk menunjukkan kemampuan, membangun kepercayaan diri, dan perlahan mewujudkan mimpinya agar karyanya dapat dilihat lebih banyak orang.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9307902/original/001690200_1785120590-Pjs_Gubernur_BI_Destry_Destry_Damayanti-27_Juli_2026d.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528276/original/060137100_1782459682-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T143742.924.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320159/original/079435700_1786338337-Screenshot_2026-08-10_105856.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320337/original/020715600_1786345570-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-10T140430.897.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309494/original/092353700_1785229552-WhatsApp_Image_2026-07-28_at_15.59.24.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312319/original/018856800_1785487208-mensos.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310851/original/068009000_1785377434-WhatsApp_Image_2026-07-30_at_9.07.27_AM.jpeg)