Diabetes Bisa Berujung Kebutaan, Jangan Abaikan Skrining Retina

Retinopati diabetik salah satu komplikasi yang paling umum terjadi pada pasien diabetes.

Diterbitkan 21 Juli 2026, 19:53 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Diabetes yang tidak terkontrol bukan hanya meningkatkan risiko penyakit jantung atau gangguan ginjal. Bisa juga berdampak pada mata hingga berujung kebutaan.

Maka dari itu penyandang diabetes disarankan menjalani pemeriksaan retina secara rutin meski belum merasakan gangguan penglihatan.

"Retinopati diabetik justru salah satu komplikasi yang paling umum terjadi, tetapi banyak pasien menganggap penurunan penglihatan sebagai hal yang wajar karena usia atau diabetes, sehingga datang berobat ketika kondisinya sudah berat," kata Prof. dr. Muhammad Bayu Sasongko, M.Epid., Ph.D., SpM dalam sebuah sesi di Jakarta. 

Retinopati diabetik terjadi akibat kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama sehingga merusak pembuluh darah kecil pada retina. Kerusakan tersebut dapat menyebabkan kebocoran atau perdarahan pada retina yang secara bertahap menurunkan kemampuan melihat.

Menurut Bayu, risiko retinopati diabetik lebih tinggi pada penyandang diabetes yang tidak mengendalikan kadar gula darah, memiliki hipertensi, kolesterol tinggi, atau kebiasaan merokok. Risiko juga meningkat seiring lamanya seseorang hidup dengan diabetes.

Bayu menjelaskan, retinopati diabetik pada tahap awal hampir tidak menimbulkan gejala. Kondisi inilah yang membuat banyak pasien baru memeriksakan diri ketika penglihatannya mulai kabur atau menurun seperti mengutip Antara.

Ia mengimbau penyandang diabetes untuk menjalani skrining retina secara berkala meski belum merasakan keluhan pada mata. Pemeriksaan dapat dilakukan melalui foto fundus atau foto retina yang kini tersedia dalam berbagai jenis alat, termasuk perangkat portabel.

 

 

Kontrol Gula Darah

Di kesempatan yang sama, Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni), Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD., K-EMD., menambahkan bahwa pengendalian gula darah tetap menjadi langkah utama untuk memperlambat kerusakan retina. Upaya tersebut harus disertai pemeriksaan mata secara rutin.

Menurut Yunir, sekitar 70 persen dari lebih 20 juta penyandang diabetes di Indonesia diperkirakan belum mengetahui dirinya mengidap penyakit tersebut. Akibatnya, banyak kasus baru terdiagnosis setelah komplikasi mulai muncul.