Sukses

Pertamina Gandeng ITS Ciptakan Inovasi Bidang Listrik

Liputan6.com, Jakarta - Salah satu masalah yang dihadapi Terminal BBM (TBBM) PT Pertamina Regional Surabaya adalah konsumsi listrik yang sangat besar. Setiap bulan, Terminal BBM Pertamina di Surabaya harus merogoh kocek hingga Rp 300 juta hanya untuk listrik.

Melihat hal tersebut, Staf Pertamina Surabaya Wahyu Nugroho bersama timnya menciptakan Kinematic Flywheel Convertion (KFC), alat yang dapat mengubah energi gerak menjadi listrik.

Menurut Wahyu, alat yang diciptakan sangat murah, mudah dan hemat biaya. Menariknya, cara kerja KFC sama dengan mesin jahit, yakni mendapatkan sumber energi dari pijakan truk BBM.

Kemudian menekan piston yang akan menggerakkan roda gigi dan dikonversikan pada flywheel untuk memutar altenator.

“Altenator merupakan energi alternatif yang merubah gerak menjadi listrik, nantinya akan disimpan pada aki dan dapat menghidupkan lampu di beberapa titik,” ujar Wahyu Nugroho yang menduduki posisi Ketua Tim KFC, Jumat (9/3/2018).

Wahyu memaparkan distribusi listrik terdapat pada pintu masuk truk BMM yang menghidupkan 6-8 lampu dan pos satpam 2-4 lampu.

“Karena operasional pengisian truk BBM 24 jam non stop, maka aki dari dari KFC akan terus terisi. Manfaatnya, pengeluaran listrik dapat ditekan empat persen tiap bulan, sehingga satu tahun mencapai angka penghematan hingga 160 juta,” tuturnya.

Namun, untuk dapat melewati KFC truk BBM Pertaminamemiliki kualifikasi tersendiri yakni harus dalam keadaan kosong dengan kapasitas 8, 16, 24, 32, dan 40 kiloliter (kl). “Untuk mencegah kerusakan alat, truk yang sudah ada isinya kami arahkan pada jalur lain,” ujarnya.

 

1 dari 2 halaman

Gandeng Mahasiswa

Dalam proses pengerjaan, Pertamina menggandeng dua mahasiswa, Ilham Kuncoro (Diploma Teknik Mesin Industri) dan Alan Budi Pratama (S1 Teknik Sistem Perkapalan). Membutuhkan waktu empat bulan untuk menyelesaikan KFC.

“Kami mengikutsertakan mahasiswa agar mendapatkan keakuratan dua sisi, yakni data dan perhitungan secara sistematis, meskipun halangan terberat adalah mengganti desain hingga empat kali dikarenakan konstruksi materialnya,” ungkap Wahyu.

Di akhir, ia menambahkan sejak dioperasikan pada bulan Oktober, alat ini telah meraih berbagai penghargaan yakni Best of The Best Inovasi Wilayah Jawa Timur, Bali, NTT dan NTB, dan Predikat Emas untuk Pertamina Direktorat Pemasaran.

“Kami berharap ke depannya, KFC dapat diaplikasikan di cabang Pertamina yang lain dan digunakan pada jalan tol,” pungkasnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Artikel Selanjutnya
PP Holding BUMN Migas Terbit, Pertamina Siapkan RUPS Caplok PGN
Artikel Selanjutnya
Bangun Kilang Tuban, Pertamina Rosneft Tunjuk Direksi dan Komisaris Baru