Sukses

Harga Minyak Dunia Merosot Ganggu Ketahanan Energi

Liputan6.com, Jakarta - Indonesian Petroleum Association (IPA) menyatakan, harga minyak dunia merosot akan membuat ketahanan energi Indonesia terganggu.

President IPA Christina Verchere mengatakan, harga minyak rendah menjadi tantangan jangka panjang untuk menyimpan minyak bagi ketahanan energi. Kegiatan eksplorasi dan produksi yang menurun membuat cadangan minyak Indonesia tak bertambah.

"Sementara, harga minyak yang rendah memicu peningkatan konsumsi," kata Verchere,  di Jakarta, Jumat (8/4/2016).

Namun, IPA mengapreasiasi sejumlah kemajuan dan perbaikan yang dilakukan pemerintah selama setahun terakhir, antara lain pemangkasan perizinan melalui Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Pemerintah juga mengeluarkan sejumlah kebijakan di sektor migas terutama kemudahan dalam pembangunan kilang. Untuk memastikan iklim investasi migas di Indonesia semakin membaik dan ketahanan energi tidak terganggu, upaya reformasi tersebut harus berlanjut dan perlu ditingkatkan.

Verchere menuturkan, IPA selalu siap bekerjasama dengan pemerintah untuk merumuskan dan mengimplementasikan perubahan yang diperlukan.

"Kami juga berharap untuk bekerjasama dengan pemerintah dalam merumuskan inisiatif lain agar industri migas bisa tetap mempertahankan kontribusinya dalam ketahanan energi di tengah situasi yang kurang menguntungkan," tutur Verchere.

Chairperson IPA CONVEX 2016 Marudut Manullang mengatakan tren penurunan harga minyak mentah sejak pertengahan 2014 hingga menyentuh level US$ 32 per barel pada awal Februari 2016 telah menjadi tantangan berat bagi industri minyak dan gas bumi (migas).

Untuk itu, Indonesian Petroleum Association (IPA) mengimbau perubahan paradigma seluruh pemangku kepentingan industri migas dalam menyikapi perkembangan tersebut.

"Kami menyadari pentingnya dialog di antara seluruh pemangku kepentingan untuk menemukan kesamaan pandangan. Terutama dalam menghadapi tantangan-tantangan masa depan industri minyak dan gas di Tanah Air yang semakin berat, sekaligus menemukan solusi," tutur Marudut (Pew/Ahm)

Loading