Harga Minyak Anjlok Setelah Iran-AS Kembali Berupaya Negosiasi

Harga minyak Brent dan WTI kompak merosot di tengah sentimen negosiasi Amerika Serikat-Iran.

Diterbitkan 10 Juli 2026, 07:51 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia turun pada Kamis, 9 Juli 2026 (Jumat pagi Jakarta). Harga minyak merosot karena para mediator antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berupaya mencegah pertempuran terbaru ini meningkat menjadi perang besar-besaran.

Mengutip CNBC, Jumat, (10/7/2026), harga minyak Brent turun 2,2% menjadi US 76,30 per barel. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah 2% menjadi US$ 72,08 per barel.

Qatar dan Pakistan sedang berupaya membawa Washington dan Teheran kembali ke meja perundingan, kata para pejabat dari negara-negara tersebut kepada MS NOW.

Harga naik di awal sesi setelah AS membombardir sekitar 90 target di Iran semalam. Ini adalah hari kedua berturut-turut serangan AS sebagai balasan atas serangan Iran minggu ini terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.

Teheran menanggapi dengan menembakkan rudal dan drone ke aset AS di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Yordania, menurut media pemerintah Iran.

Harga WTI naik 4,4% pada Rabu, mencatatkan kenaikan harian terbesar sejak 1 Juni, setelah Presiden Donald Trump mengatakan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir dan mengancam akan memberlakukan kembali blokade angkatan laut AS. Brent ditutup naik 5,4% pada sesi sebelumnya, mencatatkan kenaikan harian terbesar sejak 4 Mei.

Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow menuturkan, lalu lintas kapal tanker melalui Hormuz melambat minggu ini karena situasi keamanan di selat tersebut memburuk. Namun, pasar minyak tidak memperhitungkan penutupan penuh Hormuz.

"Tampaknya pasar memperhitungkan kondisi normal baru di mana periode konflik (mungkin kita bisa menyebutnya bentrokan rudal) terjadi di antara periode relatif tenang (atau tidak nyaman) yang memungkinkan transit kapal tanker,” tulis Lipow dalam catatan Kamis.

 

 

AS-Iran Bakal Negosiasi

Analis Citibank menyebutkan, AS dan Iran kemungkinan akan kembali bernegosiasi dalam beberapa minggu ke depan. Washington dan Teheran akan kehilangan terlalu banyak jika terjadi spiral eskalasi yang mengarah pada kehancuran infrastruktur energi di kawasan tersebut.

"Dari pihak AS, Presiden Trump telah menunjukkan ketertarikan pada harga saham yang kuat dan pasar obligasi yang stabil, jadi ini adalah dasar pandangan kami bahwa ia akan kembali bernegosiasi dalam waktu yang relatif singkat,” kata para analis Citi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6