Rupiah Hari Ini Melambung ke 17.888 per Dolar AS, Analis Ungkap Pemicunya

Sejumlah sentimen internal membawa rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa, (21/7/2026).

Diterbitkan 21 Juli 2026, 18:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa sore, (21/7/2026). Penguatan rupiah terhadap dolar AS itu seiring meredanya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia seiring defisit yang terkendali.

Mengutip Antara, kurs rupiah naik 60 poin atau 0,33% menjadi 17.888 per dolar AS dari sebelumnya 17.948 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga bergerak menguat di level Rp 17.909 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.976 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menuturkan, penguatan rupiah dipengaruhi meredanya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia.

"Rupiah ditutup menguat cukup besar terhadap dolar AS di tengah meredanya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia setelah pemerintah melaporkan defisit APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) sebesar 0,76 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto) hingga Juni serta mempertahankan proyeksi defisit APBN 2026 di bawah batas 3 persen dari PDB,” ujar dia.

Tercatat, pendapatan negara terhimpun sebesar Rp 1.459,4 triliun atau 46,3% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp 3.153,6 triliun.

Kinerja pendapatan negara ditopang oleh peningkatan aktivitas ekonomi, pengawasan dan tata kelola pajak dan bea cukai, serta peningkatan layanan kementerian/lembaga (K/L) dan badan layanan umum (BLU).

Penerimaan perpajakan tercatat sebesar Rp 1.187,8 triliun atau 44,1% dari target Rp 2.693,7 triliun. Rinciannya, penerimaan pajak terkumpul sebesar Rp 1.035,7 triliun (43,9 % dari target Rp 2.357,7 triliun) serta kepabeanan dan cukai Rp 152 triliun (45,2% dari target Rp 336 triliun).

Sementara penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp 271 triliun atau 59% dari target Rp 459,2 triliun.

Di sisi lain, belanja negara terealisasi sebesar Rp 1.656 triliun atau 43,1% dari target Rp 3.842,7 triliun, tumbuh sebesar 17,8% (yoy).

 

Belanja Pemerintah

Belanja pemerintah pusat telah tersalurkan sebanyak Rp 1.298,6 triliun atau 41,2% dari target Rp 3.149,7 triliun.

Pada sisi belanja kementerian/lembaga (K/L, realisasi tercatat sebesar Rp 658,9 triliun atau 43,6% dari target Rp 1.510,5 triliun, dan belanja non-K/L terealisasi Rp 639,7 triliun atau 39% dari target Rp 1.639,2 triliun.

Sementara itu, penyaluran transfer ke daerah tercatat sebesar Rp 357,4 triliun atau 51,6% dari target Rp 693 triliun.

Seiring kinerja itu, APBN mengalami defisit sebesar Rp 196,5 triliun atau 0,76% terhadap produk domestik bruto (PDB). Sedangkan keseimbangan primer mengalami surplus sebesar Rp 85,1 triliun.

“Beberapa bulan terakhir, banyak dana asing yang keluar oleh kekhawatiran defisit bisa melewati 3 persen, malah ada yang memperkirakan 4 persen,” kata Lukman.

 

Sentimen Lain

Sentimen lain berasal dari antisipasi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis points (bps) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada Rabu, 22 Juli 2026.

Sebagai catatan, kenaikan BI-Rate sebesar 50 basis poin (bps) pada Mei 2026 menjadi penyesuaian pertama setelah bunga acuan berada pada level 4,75% sejak September 2025. Namun, rupiah masih terus melemah hingga sempat menembus level 18 ribu per dolar AS pada awal Juni.

Melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Mingguan pada 9 Juni 2026, BI kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps. Sejak keputusan tersebut, rupiah secara bertahap kembali bergerak di bawah level  18 ribu per dolar AS.

Pada RDG Bulanan 18 Juni 2026, BI juga melanjutkan pengetatan kebijakan moneter dengan kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen. Selanjutnya, BI dijadwalkan kembali menggelar RDG Bulanan pada 21-22 Juli 2026.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6