Harga Minyak Dunia Terbang Tersengat Konflik AS-Iran

Harga minyak dunia Brent menyentuh US$ 90 per barel seiring konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memanas.

Diterbitkan 20 Juli 2026, 08:56 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak menguat pada Senin, (20/7/2026). Kenaikan harga minyak dunia terjadi setelah konflik yang terus berlanjut antara Amerika Serikat (AS) dan Iran meningkatkan kekhawatiran gangguan pengiriman energi melalui Selat Hormuz. Hal ini menyusul serangkaian serangan AS dan korban jiwa di kalangan militer AS.

Mengutip CNBC, harga minyak Brent, yang termasuk harga patokan internasional untuk pengiriman September naik sekitar 2,27% menjadi lebih dari US$ 90 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus naik 2,4% menjadi US$ 84,49.

Eskalasi terbaru ini terjadi setelah militer AS mengkonfirmasi anggota militer Amerika Serikat telah tewas dalam operasi baru-baru ini. Sementara itu, penyelidik menemukan jenazah tak dikenal di dekat lokasi serangan Iran di Yordania yang sebelumnya menewaskan dua personel AS dan menyebabkan satu lainnya hilang.

Pasukan Amerika telah memulai serangan malam kesembilan berturut-turut terhadap target Iran. “Serangan-serangan tersebut akan terus melemahkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal-kapal komersial dan pelaut sipil yang melintasi Selat Hormuz,” kata Komando Pusat AS dalam sebuah pernyataan pada tanggal X.

Konflik yang kembali terjadi telah menghidupkan kembali kekhawatiran tentang keamanan salah satu jalur transit minyak terpenting di dunia.

Komando Pusat AS mengatakan telah menargetkan sistem pengawasan pantai dan pertahanan udara Iran, aset maritim, serta fasilitas penyimpanan rudal dan drone dalam serangannya. Pasukan Amerika juga telah menyerang unit-unit Korps Garda Revolusi Islam yang terkait dengan serangan 17 Juli terhadap personel AS di Yordania.

David Roche dari Quantum Strategy menyoroti dalam sebuah catatan pada Senin kalau pasar minyak mentah global telah menjadi jauh lebih ketat karena ekspor Teluk menyusut.

“Dengan laju penipisan ini, persediaan minyak akan menipis pada bulan September dan bahkan AS pun akan tertekan. Itu akan meningkatkan tekanan TACO pada Presiden Trump. Tetap beli Brent dengan target US$ 95 hingga $105 per barel,” ujar dia.

Harga Minyak Melambung Setelah Iran Serang Kuwait

Sebelumnya, harga minyak menguat pada Jumat, 17 Juli 2026. Lonjakan harga minyak terjadi setelah Kuwait mengatakan, Iran menyerang pembangkit listrik dan pabrik desalinasi air di tengah meningkatnya pertempuran di Teluk Persia.

Mengutip CNBC, Sabtu (18/7/2026), harga minyak Brent menguat sekitar 4,6%, dan ditutup di US$ 88,10 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bertambah 4,5%, dan ditutup di US$ 82,49.

Kementerian Listrik, Air dan Energi Terbarukan Kuwait menuturkan, serangan tersebut merusak fasilitas memicu kebakaran yang mempengaruhi sejumlah besar unit pembangkit listrik. Demikian dilaporkan The Kuwait Times.

Kuwait sangat bergantung pada pabrik desalinasi untuk air minum. Para analis telah lama khawatir Iran akan menyerang infrastruktur yang penting untuk mendukung kehidupan sipil di Timur Tengah.

Iran mengatakan, pihaknya menyerang target AS di Bahrain, Yordania, Kuwait, Oman, Qatar, dan Suriah sebagai balasan atas serangan terbaru oleh Washington, menurut kantor berita pemerintah PressTV.

 

Sentimen Harga Minyak Lainnya

Sebuah kapal tanker terkena proyektil di lepas pantai Oman yang menyebabkan kerusakan ringan, kata Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris dalam laporan insiden pada hari Jumat. Iran telah berulang kali menyerang kapal tanker selama seminggu terakhir dalam upaya memaksa kapal sipil untuk melintasi Selat Hormuz melalui perairannya.

Komando Pusat AS mengatakan, telah menyelesaikan serangan malam keenam berturut-turut terhadap Iran, menghantam puluhan target militer seperti infrastruktur logistik militer dan kemampuan maritim.

Centcom mengatakan lebih dari 50.000 anggota militer beroperasi di seluruh Timur Tengah. Centcom menambahkan kalau mereka "tetap waspada, mematikan, dan siap."

Pertempuran yang meningkat ini terjadi ketika gencatan senjata yang rapuh yang dicapai bulan lalu telah runtuh, sekali lagi mengganggu aliran energi melalui Selat Hormuz yang sangat penting secara strategis, yang biasanya menangani sekitar 20% lalu lintas minyak dunia.

Rystad’s Head of Geopolitical Analysis, Jorge Leon menuturkan, Rystad Energy masih melihat kesepakatan terbatas antara Washington dan Teheran sebagai hasil yang paling mungkin meskipun kepercayaan pada penilaian ini telah melemah.

Leon menuturkan, Iran dan AS masih memiliki insentif ekonomi yang kuat untuk menghindari kegagalan total dalam pembicaraan, dengan AS berupaya menurunkan harga minyak menjelang pemilihan paruh waktu November dan Iran enggan untuk melepaskan insentif ekonomi.

"Teheran memiliki paket ekonomi substansial yang ditawarkan, termasuk akses ke aset yang dibekukan dan keringanan ekspor, yang tidak ingin mereka tinggalkan secara permanen,” kata León.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6