Harga Minyak Menguat Setelah Bank Sentral AS Keluarkan Pernyataan

Harga minyak Brent yang merupakan patokan harga minyak dunia mengalami kenaikan sebesar US$ 2,4 per barel atau 4,5 persen.

Diterbitkan 19 Maret 2015, 06:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, New York - Hasil rapat Dewan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) memberikan sedikit angin segar kepada harga minyak. Namun kemungkinan hal tersebut tak berlangsung lama karena pasar melihat bahwa pasokan minyak dunia masih terlalu besar.

Mengutip Wall Street Journal, Kamis (19/3/2015), harga minyak Brent yang merupakan patokan harga minyak dunia mengalami kenaikan sebesar US$ 2,4 per barel atau 4,5 persen ke level US$ 55,91 per barel di ICE Futures Europe.  Sedangkan harga minyak di AS melonjak 2,8 persen menjadi US$ 44,66 per barel di New York Mercantile Exchange.

Selama ini harga patokan minyak di Amerika terus tertekan karena persediaan minyak di negara tersebut terus mengalami lonjakan. Stok minyak di fasilitas penyimpanan Cushing, Oklahoma, AS, yang merupakan fasilitas penyimpanan terbesar di negara tersebut mencapai rekor tertinggi pada pekan lalu.

Dengan terus meningkatnya stok tersebut pelaku pasar melihat bahwa ada potensi bahwa kilang yang ada tidak akan cukup menampung produksi minyak sehingga akan dijual dengan harga berapapun.

"Harga minyak sesungguhnya akan terlihat bukan dari sentimen The Fed melainkan kapasitas penyimpanan di Cushing," jelas mitra pendiri Again Capital, New York, AS, John Kilduff. Ia memperkirakan harga minyak akan berada di kisaran US$ 40 per barel.

Berdasarkan data dari Departemen Energi Amerika Serikat, persediaan minyak nasional di AS naik 9,6 juta barel pada pekan lalu sehingga menyentuh level 458,5 juta barel. Stok tersebut telah naik terus menerus selama 10 minggu bertutur-turut dan terus mencetak rekor tertinggi sejak 1982.

Pada Rabu (18/3/2015), The Fed memberikan sinyal selangkah lebih maju untuk menaikkan suku bunga ke level yang lebih tinggi sejak 2006 lalu. Namun kenaikan suku bunga ke tingkat yang normal akan cukup lambat karena mereka menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi.

The Fed menghapus kata sabar dalam pernyataannya. Selama ini, mereka selalu menggunakan kata sabar dalam setiap pernyataan yang berkaitan dengan langkah untuk menaikkan suku bunga. Dengan hilangnya kata sabar tersebut menandakan bahwa pintu untuk menaikkan suku bunga terbuka lebar dalam beberapa bulan ke depan.

Namun, The Fed juga memangkas estimasi median untuk Federal Funds rate, yang merupakan kunci untuk suku bunga overnight. Di akhir tahun kemarin, The Fed memperkirakan Federal Funds rate akan berada di kisaran 1,25 persen di akhir tahun ini. Namun pada pertemuan kali ini diturunkan menjadi 0,625 persen.

"Hanya karena kami menghapus kata sabar dalam pernyataan bukan berarti kami tidak akan sabar," jelas Gubernur Bank Sentral AS Janet Yellen dalam konferensi pers. (Gdn)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6