Harga Memori DRAM Meroket, Siap-Siap iPhone Makin Mahal pada 2027

Apple telah menyetujui kontrak harga DRAM dari Samsung untuk iPhone yang lebih tinggi dari harga sebelumnya. Seberapa jauh dampaknya?

Diterbitkan 18 September 2026, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Eks CEO Apple, Tim Cook, menyebut kelangkaan memori DRAM akibat kecerdasan buatan (AI) sebagai peristiwa yang tak terhindarkan. Situasi ini memengaruhi biaya produksi iPhone dan penyesuaian harga pada konsumen.

Lonjakan harga awalnya berdampak pada hampir semua produk kecuali iPhone. Namun kemudian, iPhone turut naik untuk jajaran perangkat terbaru. Demikian sebagaimana dikutip dari Apple Insider, Jumat (18/9/2026).

Menurut data rantai pasok, Apple menyepakati kontrak harga DRAM dari Samsung sebesar USD 2 (Rp 35.532) per GB untuk pengiriman tahun depan. Angka ini melonjak tajam dibanding harga saat ini, yaitu USD 1,50 (Rp 26.611) per GB.

Sebelumnya, perusahaan teknologi asal Cupertino tersebut berhasil menekan harga dengan menanggung sebagian beban serta mengoptimalkan efisiensi rantai pasok. Pada akhirnya, Apple tak dapat membendung biaya ini.

Laporan itu menunjukkan permintaan akan meningkat sebesar 36,2%, sementara pasokan hanya akan naik 19,3%. Keduanya akan semakin melebar dari -8,1% pada 2026 menjadi -13,6% pada 2027.

Kenaikan harga rata-rata USD 100 (sekitar Rp 1,7 juta) sudah ditetapkan pada lini iPhone terbaru, sementara varian berkapasitas penyimpanan tinggi seperti iPhone Duo 2TB bisa menembus angka USD 3.000 (sekitar Rp 53,2 juta).

 

Investasi AI Besar-besaran

Akar permasalahan ini bersumber dari investasi AI secara besar-besaran. Produsen memori global kini memprioritaskan alokasi produksi wafer untuk High Bandwidth Memory (HBM), yang digunakan demi mendukung pusat data AI.

Biasanya dibutuhkan oleh raksasa teknologi seperti NVIDIA, OpenAI, Microsoft, Google, hingga SpaceXAI yang menjadi pendorong utama karena permintaan pembangunan pusat data secara masif.

Selain itu, Apple turut berperan melalui permintaan mereka untuk Private Cloud Compute, namun dampaknya jauh lebih kecil.

Akibatnya, porsi kapasitas manufaktur untuk memori tingkat konsumen tergerus secara signifikan. Spesifikasi pabrik yang telah dialihkan untuk memproses wafer pusat data tidak dapat dialihkan untuk kebutuhan memori ponsel pintar.

 

Dampak Gelombang AI

Perusahaan-perusahaan di atas umumnya akan mengamankan lahan untuk lokasi pusat data, lalu melakukan pembelian awal DRAM serta perangkat komputasi lain demi pusat data yang bahkan belum dibangun.

Situasi tersebut memicu ekspansi karena memperoleh pembiayaan yang mengandalkan nilai estimasi pusat data di masa depan.

Kondisi ini juga memperkuat tingginya spekulasi dan memicu inflasi biaya komponen secara global karena pengeluaran modal untuk infrastruktur AI yang belum menghasilkan profit.

Meskipun penambahan kapasitas pabrik memori baru dijadwalkan beroperasi pada 2028 hingga 2029, namun ada kemungkinan akan berdampak pada pasokan jika permintaan terus meningkat.

Sejauh ini, Apple terbukti cukup mampu dalam menghadapi krisis DRAM. Tetapi, pengguna masih harus bersiap menghadapi kenaikan harga pada peluncuran produk-produk terbaru mendatang.