Benarkah AI Bisa 'Hilangkan' Lowongan Pekerjaan? Ini Profesi Paling Terdampak

Semakin berkembangnya kecerdasan buatan (AI), perusahaan mulai banyak yang beralih mempekerjakan AI.

Diterbitkan 24 Juli 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan-perusahaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membuat klaim perangkat mereka bisa menggantikan tenaga kerja manusia.

Sebagian pekerjaan akan digantikan oleh AI dan sebagiannya akan diperkuat dengan AI. Bahkan perusahaan mengalokasikan uang dalam jumlah fantastis demi teknologi tersebut, karena menyadari potensi penghematan biaya tenaga kerja.

Terdapat istilah “Flat is the new up” yaitu jumlah karyawan yang tidak bertambah adalah tren baru. Istilah ini muncul bersamaan dengan pertanyaan investor mengenai suatu pekerjaan dilakukan karyawan baru atau Agen AI saja.

Dikutip dari BBC, Jumat (24/7/2026), jika klaim ini benar dampaknya akan meluas di berbagai sektor maupun karir, dan hal itu bisa terjadi lebih cepat.

Para ekonom peraih Nobel baru-baru ini memberikan peringatan dunia “harus bertindak sekarang” agar AI bisa meningkatkan standar hidup dan bukan menjadi penyebab hilangnya lapangan (lowongan) pekerjaan secara massal.

Contohnya, bulan lalu kalangan bisnis di London menyatakan kesulitan mendapatkan tenaga kerja dengan kemampuan yang sesuai akibat disrupsi AI di pasar kerja.

Dalam sebuah data menunjukkan tolok ukur industri mengenai kemampuan berbagai model AI dalam mengerjakan tugas yang sebelumnya dikerjakan manusia. Dalam kasus ini, menggunakan dan mengembangkan perangkat lunak komputer.

Hasilnya menunjukkan tiga tahun lalu, Large Language Model (LLM) hanya mampu menyelesaikan tugas sederhana yang bisa dikerjakan manusia hanya dalam beberapa detik atau menit. Kini, model-model tersebut dapat menyelesaikan tugas rumit, biasanya manusia mengerjakannya butuh sekitar satu jam.

Bahkan beberapa model AI dapat menemukan masalah pada kontrak mata uang kripto dan mengembangkan serta menyempurnakan model itu sendiri. Biasanya, manusia membutuhkan beberapa jam.

Model generasi terbaru bisa mulai mengembangkan dirinya sendiri dalam waktu dekat. Meskipun masih sebatas penulisan kode perangkat lunak, namun pola serupa terlihat dalam bidang analisis keuangan, pekerjaan dasar di bidang hukum, hingga pekerjaan level pemula di industri kreatif.

Penggunaan AI Besar-Besaran

Analisi lain dari AS menggunakan data empat tahun untuk menganalisis ketenagakerjaan berdasarkan usia di berbagai jenis pekerjaan. Seperti contohnya pengembang perangkat lunak dan layanan pelanggan masuk di paling terdampak oleh AI. Tenaga kesehatan, pengasuh anak, dan penata rambut, masuk paling sedikit terdampak.

Penelitian dari Universitas Stanford menemukan adanya penurunan kesempatan bekerja sebesar 2,7% pada kelompok usia 22-25 tahun sejak ChatGPT merajalela. Angka ini meroket hingga 12,8% di bidang-bidang paling terdampak AI, seperti keuangan, perangkat lunak, dan industri kreatif.

Selain kesempatan bekerja, jumlah lowongan kerja pun ikut terdampak sejak peluncuran ChatGPT dan model LLM lainnya. Meskipun terdapat banyak faktor lain, seperti suku bunga dan pajak, hasil analisis lembaga internasional OECD  menunjukkan adanya perbedaan lowongan kerja antara sektor paling terdampak AI dengan yang kurang terdampak.

 

Lonjakan Penggunaan AI

Inggris menjadi negara yang cukup terdampak dengan masalah ini, bahkan terjadi ketika suku bunga sedang stabil atau turun. Menurut sebagian tolok ukur internasional, karena Inggris mengandalkan sektor jasa, sehingga membuat negara tersebut rentan akan hilangnya lapangan pekerjaan akibat AI.

Penggunaan AI diukur dalam satuan “token” yaitu potongan-potongan kecil teks digunakan AI untuk memahami dan merangkai kata. Satu token kira-kira setara dengan tiga perempat kata dalam bahasa Inggris.

Perusahaan-perusahaan besar hingga membuat “papan peringkat token” agar karyawan terdorong menggunakan AI demi menunjang produktivitas kerja. Pada 2026, terjadi lonjakan penggunaan AI dan token, menyebabkan biaya ikut melonjak tinggi. Mereka bahkan menghabiskan triliunan hingga ribuan triliun token dalam beberapa bulan terakhir.

Karena hal tersebut, perusahaan mulai membatasi penggunaan AI. Namun, banyak juga yang mulai beralih ke model AI dengan biaya lebih ramah di kantong. Hal ini menjadikan masa depan dunia kerja akibat AI menjadi tidak pasti.