Tak Lagi 2 Tahun Sekali, Ini Alasan Pengguna Ogah Ganti iPhone Baru

Pengguna iPhone kini ogah buru-buru mengganti perangkat baru. Ini alasannya.

Diterbitkan 17 Juni 2026, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di masa-masa awal era smartphone, pemandangan pengguna yang rela mengantre demi menukar perangkat lama adalah hal lumrah. Bahkan, beberapa operator seluler sempat memanjakan konsumen dengan skema kontrak yang membuat iPhone baru bisa dibawa pulang tanpa harus bayar full.

Namun, lanskap itu kini telah bergeser. Era di mana pengguna buru-buru mengganti ponsel mereka setiap dua tahun sekali sudah menghilang.

Mengutip BGR, Rabu (17/6/2026), laporan terbaru menunjukkan tren menarik, di mana pengguna iPhone kini mempertahankan perangkat mereka jauh lebih lama dari sebelumnya.

Pada medio 2007 hingga 2012, Apple merilis inovasi perangkat keras dan fitur perangkat lunak dengan kecepatan yang agresif. Kehadiran teknologi revolusioner seperti Touch ID pada iPhone 5s atau Face ID pada iPhone X memaksa pengguna untuk terus memperbarui gawai mereka jika tak ingin ketinggalan zaman.

Ditambah lagi, model iPhone lawas kala itu kerap mengalami penurunan performa signifikan alias lemot setelah beberapa tahun pemakaian.

Kondisi hari ini sangat berbeda. Perangkat keras iPhone modern dibekali spesifikasi premium yang membuatnya tetap tangguh meski telah berusia bertahun-tahun. Penurunan performa yang dulu menjadi momok, kini nyaris tak dirasakan oleh mayoritas pengguna.

"Dulu saya ganti iPhone setiap dua tahun sekali. Tapi kemarin, saya memakai iPhone 11 Pro sejak akhir 2019 dan baru upgrade ke iPhone 17 pada 2025. Enam tahun tanpa kendala berarti. Siklus ganti ponsel saya berubah dari dua tahun, jadi tiga tahun, dan sekarang enam tahun," ungkap seorang pengguna setia Apple dalam sebuah forum diskusi.

 

Durabilitas Tinggi

Fenomena ini bukan kasus tunggal. Berdasarkan jajak pendapat di platform Reddit, mayoritas pengguna iPhone mengaku baru mengganti ponsel mereka setelah 3 hingga 4 tahun pemakaian.

Menariknya, alasan mereka upgrade bukan karena mesin yang lambat, melainkan karena kerusakan fisik seperti layar retak atau port pengisian daya yang aus.

Bagi sebagian besar pengguna, mereka memilih jalan pintas yang lebih ekonomis untuk memperpanjang napas perangkat mereka: ganti baterai. Langkah murah ini terbukti ampuh mengembalikan performa iPhone seperti baru tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli unit anyar.

Faktor durabilitas juga memegang peran kunci. Sejak lini iPhone 12, Apple telah menyematkan teknologi Ceramic Shield dan sertifikasi IP68 yang membuat ponsel tahan air hingga kedalaman 6 meter selama 30 menit. Ponsel yang lebih tangguh dan tidak mudah hancur saat terjatuh otomatis menekan angka pembelian perangkat baru.

 

Apple Tetap di Atas Angin

Banyak analis memprediksi bahwa melambatnya siklus upgrade ini akan memukul pendapatan Apple. Namun, prediksi tersebut meleset jauh.

Buktinya, pada kuartal fiskal Maret 2026, raksasa teknologi asal Cupertino, Amerika Serikat (AS) ini justru berhasil mencetak rekor pendapatan kuartal kedua (Q2) baru sebesar USD 111,2 miliar dolar AS (sekitar Rp 1.969 triliun).

Meski konsumen tidak lagi membeli iPhone setiap tahun, loyalitas mereka terhadap ekosistem Apple yang kokoh tetap menjaga pundi-pundi sang raksasa teknologi tetap gemuk. Kualitas produk yang awet kini bukan lagi ancaman bagi bisnis, melainkan sebuah pembuktian mutu.

Â