Sukses

Bagaimana Militer AS Beli Data Pengguna Aplikasi Muslim Pro?

Liputan6.com, Jakarta - Aplikasi Muslim Pro disebut-sebut telah menjual data penggunanya ke militer AS. Data yang dibeli termasuk informasi lokasi serta nama jaringan Wi-Fi yang terhubung dengan pengguna.

Vice melaporkan militer AS membeli data Muslim Pro melalui broker data pihak ketiga yang disebut X-Mode. Pialang data mengumpulkan data atau membelinya dari perusahaan lain.

Aplikasi Muslim Pro disebutkan telah melakukan penjualan data ke sejumlah perusahaan, salah satunya adalah X-Mode.

X-Mode, menyebut, mereka telah melacak 25 juta perangkat di AS tiap bulan dan 40 juta perangkat dari seluruh dunia, termasuk Uni Eropa, Amerika Latin, dan Asia Pasifik.

Ketua komunitas Muslim Pro, Nona Zahariah Jupary, mengatakan bahwa Muslim Pro mulai bekerja sama dengan X-Mode empat minggu lalu, tetapi setelah itu kerja sama dihentikan bersamaan dengan mitra data lainnya.

 

 

2 dari 3 halaman

Pengembang Muslim Pro Bantah Jual Data Pengguna

Pengembang aplikasi Muslim Pro membantah tuduhan menjual data pribadi penggunanya ke militer Amerika Serikat (AS).

Pengembang bernama Bitsmedia itu mengatakan kepada The Straits Times bahwa mereka akan segera memutuskan hubungannya dengan mitra datanya.

"Ini tidak benar. Perlindungan dan penghormatan privasi pengguna kami adalah prioritas utama Muslim Pro," kata Nona Zahariah Jupary, ketua komunitas Muslim Pro.

"Sebagai salah satu aplikasi Muslim paling tepercaya selama 10 tahun terakhir, kami mematuhi standar privasi dan peraturan perlindungan data yang paling ketat, dan tidak pernah membagikan informasi identitas pribadi apa pun," sambung Nona Zahariah.

Dia menambahkan perusahaan telah melakukan penyelidikan internal dan sedang meninjau kebijakan tata kelola datanya untuk mengonfirmasi bahwa semua data pengguna ditangani dengan benar.

3 dari 3 halaman

Pengembang Tak Sadar Data Pengguna Berakhir di Sektor Militer

Mengutip Vice, Muslim Pro telah diunduh lebih dari 98 juta kali. 50 juta kali diunduh oleh perangkat Android dan sisanya di iOS.

Parahnya, berdasarkan investigasi Motherboard melalui wawancara para pengembang aplikasi, mereka tidak sadar ke mana data lokasi milik penggunanya dijual.

Bahkan, ketika pengguna memeriksa kebijakan privasi aplikasi tersebut, pengguna mungkin tidak akan sadar kalau datanya ternyata dijual ke berbagai industri berbeda, termasuk militer.

Meskipun kabarnya salah satu perusahaan, Locate-X memberlakukan data secara anonim, seorang mantan karyawan menyebut, anonimitas data tersebut bisa dijabarkan menjadi milik pengguna tertentu. Dengan begitu, data sifatnya tidak lagi anonim.

(Tin/Isk)