Sukses

Canggih, Satelit Kembar Ini Bisa Monitor Potensi Bencana di Bumi

Jakarta - Satelit radar kembar yang mengorbit Bumi dalam posisi terbang rapat, mengirimkan gelombang elektromagnetik ke Bumi dan mengukur pantulannya. Uniknya, satelit ini ditugaskan untuk mendeteksi potensi bencana Bumi.

Data ini kemudian digabungkan untuk menciptakan citra permukaan Bumi.

Prof. Alberto Moreira, Direktur Institut Gelombang Pendek dan Radar di DLR mengungkapkan keunggulan satelit  monitoring milik Jerman tersebut. 

"Satelit ini bisa membuat citra permukaan Bumi dengan resolusi tinggi terlepas dari kondisi cuaca dan cahaya matahari," ujarnya sebagaimana dikutip DW, Selasa (23/10/2018).

Terra-SAR X mengorbit Bumi dan mengirimkan data ke kantor pusat Badan Antariksa Jerman, DLR.

Baik Terra-SAR X maupun satelit serupa Tandem X dikontrol dari DLR. Dua satelit radar berarti juga data dalam jumlah besar dan citra yang sangat rinci.

Data radar memungkinkan akurasi hingga beberapa meter. Citra tersebut menampilkan ibukota Jerman, Berlin. 

"Dengan Tandem X kami menciptakan topografi baru Bumi yang 30 kali lipat lebih akurat ketimbang apa yang selama ini ada", tambah Alberto Moreira.

Satelit radar juga terbukti berguna dalam kasus bencana alam. DLR memiliki pusat pengawasan krisis yang dapat menghimpun citra radar untuk area gempa bumi atau banjir. 

Dr. Tobias Schneiderhan, pimpinan satellite-based crisis information DLR, merinci keunggulan teknik satelit ini.

"Terutama untuk skenario banjir, saat areanya ditutupi awan, citra optik menjadi tidak berguna, karena kita cuma akan melihat permukaan awan saja," kata Schneiderhan.

"Untuk itu kita perlu data radar yang dengan panjang gelombangnya bisa menembus awan dan membuat citra permukaan Bumi. Untuk skenario semacam itu, kami menggunakan data radar," tambahnya.

Animasi ini menunjukkan dampak banjir di Jerman. Citra ini dibuat berdasarkan data radar dari satelit kembar DLR yang diterbangkan melewati area bencana. Sinyal kedua satelit dan peta yang ada bisa digabungkan buat menciptakan peta baru.

Dengan data ini, bantuan darurat bisa disalurkan ke lokasi yang paling membutuhkan, di mana penduduk terkonsentrasi atau di mana wilayah yang aman.

Informasi tersebut penting untuk efisiensi bantuan darurat. Bahkan DLR membuat peta bagi misi kemanusiaan Perserikatan Bangsa-bangsa.

Saat ini DLR merencanakan pengembangan dua satelit yang akan digunakan untuk melakukan survei perubahan akibat gempa bumi, penebangan hutan dan penggurunan. Informasi tersebut dibutuhkan dalam situasi krisis dan bencana di masa depan.

2 dari 3 halaman

Uji Coba di Laboratorium Modern

Sistem radar buat satelit diujicoba di laboratorium kedap suara setinggi 10 meter.

Ruang tersebut mampu meredam sisa gelombang pendek yang bisa mengganggu proses pengukuran. Uji coba kali ini melibatkan antena radar selebar 3,8 meter dengan bobot 300 kilogram.

Antena bisa diputar hingga 0,03 derajat. Dengan cara ini, ilmuwan ingin mengetahui kemampuan antena menangkap pantulan gelombang pendek.

Cuma, jika mereka menemukan gelombang mana yang ditangkap dan dengan cara apa oleh antena tersebut, ilmuwan bisa mengambil kesimpulan yang tepat.

Sebelum uji coba, antena dikalibrasi secara akurat dengan menggunakan gelombang khusus.

Pendekatan yang akurat dan rinci diperlukan selama fase persiapan, karena masih ada tantangan besar lain yang menunggu para ilmuwan selama mengembangkan satelit kembar tersebut.

 

3 dari 3 halaman

Citra Tiga Dimensi Akurat

Keuntungan satelit kembar adalah kemampuan menyiasati bayangan gelombang radio di pegunungan atau gedung-gedung perkotaan.

Namun, penerbangan paralel hampir mustahil karena dua orbit yang berbeda. Untuk itu, lintasan terbang kedua satelit berbentuk asimetris.

"Hasil finalnya, gerakan satelit pertama yang terbang memutari satelit kedua dengan pola yang mirip ulir DNA pada manusia," jelas Dr. Manfred Zink, pimpinan proyek Tandem X DLR.

Terbang tandem kedua satelit memungkinkan pembuatan citra tiga dimensi planet Bumi. Ada lapisan data yang berbeda buat setiap resolusi, tetapi apa fungsinya? 

Ilmuwan dari seluruh dunia menggunakan data-data satelit itu, seperti di Pusat Penelitian Ilmu Kebumian di dekat Berlin.

Misalnya ada peta yang  menampilkan penurunan tanah di dekat Teheran akibat eksploitasi air.

Dr. Mahdi Motagh Surveyorpada German Research Center für Geo Sciences mengungakpkan, "Kami menggunakan data radar dari berbagai satelit untuk menilai ancaman pergerakan topografi secara alami dan buatan di berbagai negara. Contohnya di Chile, Amerika Selatan, dan juga di Asia Tengah seperti Kirgizstan atau Iran."

Reporter: DW

Sumber: DW Indonesia

(Jek)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Live Streaming EMTEK GOES TO CAMPUS 2018 di Surabaya

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Tiongkok Garap Bulan Buatan untuk Gantikan Lampu Jalanan
Artikel Selanjutnya
Jepang dan Eropa Kirim Pesawat Eksplorasi Planet Merkurius