Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, memberikan refleksi tajam mengenai posisi Indonesia di kancah antariksa global dalam ajang Asia Pacific Satellite International Conference (APSAT 2026) yang berlangsung pada 12-13 Mei 2026 di Jakarta.
Dalam keynote speech-nya, ia menegaskan bahwa kedaulatan teknologi tidak boleh hanya dimaknai sebagai kepemilikan aset, melainkan harus diwujudkan melalui penguasaan manufaktur secara mandiri.
Arif membuka pemaparannya dengan mengingatkan kembali memori kolektif bangsa pada tahun 1976, saat Indonesia menjadi negara pertama di Asia yang memiliki satelit komunikasi geostasioner. Namun, ia memberikan catatan bahwa setelah setengah abad, Indonesia masih sangat bergantung pada teknologi luar negeri.
Advertisement
"Hari ini, setengah abad kemudian, kita mengoperasikan enam satelit serupa. Tidak satu pun dari mereka dibuat di Indonesia," ujar Arif, lugas.
Menurutnya, dalam dunia teknologi, kedaulatan adalah tentang penguasaan, bukan sekadar kepemilikan.
Menatap masa depan, BRIN tengah mempersiapkan peluncuran dua satelit baru pada awal 2027, yaitu Nusantara Earth Observation (NEO-1) dan Nusantara Equatorial IoT (NEI).
Kedua satelit ini dirancang untuk memperkuat pemantauan wilayah maritim serta mendukung layanan Internet of Things (IoT) di seluruh wilayah kepulauan.
Namun, Arif tidak menutup mata terhadap hambatan besar yang ada, yakni belum terbentuknya ekosistem industri manufaktur satelit yang utuh.
"Keterbatasan investasi swasta dan kolaborasi industri berarti Indonesia, meskipun memiliki permintaan domestik yang sangat besar, belum membangun industri manufaktur satelit yang lengkap. Inilah celah yang harus kita tutup," ia memaparkan.
Â
Bandara Antariksa di Biak
Pemerintah Indonesia disebut telah menyiapkan landasan regulasi untuk mempercepat perkembangan industri antariksa.
Beberapa di antaranya Peraturan Pemerintah (PP) No. 7 Tahun 2023 tentang Pengadaan Teknologi Antariksa dan pembaruan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2025 yang kini secara formal mengategorikan manufaktur satelit sebagai sektor bisnis resmi.
Arif juga menyoroti rencana strategis pembangunan spaceport (fasilitas peluncuran roket/bandara antariksa) di Pulau Biak yang lokasinya sangat menguntungkan secara geografis bagi kawasan regional.
"Visi besar ini merupakan bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional menuju Indonesia Emas 2045, yang menargetkan penciptaan lapangan kerja bernilai tinggi dan kemakmuran nasional melalui kedaulatan teknologi," ucap Arif menambahkan.
Arif memperingatkan bahwa dinamika geopolitik antariksa global tengah bergeser dengan cepat. Ia menekankan bahwa pilihan yang diambil Indonesia dalam lima tahun ke depan akan menjadi penentu posisi bangsa di masa depan.
"Pilihan yang kita buat akan menentukan apakah pada 2045 nanti, kita sebagai bangsa yang hanya berpartisipasi dalam ekonomi antariksa, atau bangsa yang ikut mendefinisikannya," kata Arif.
Â
Advertisement
Perkembangan Satelit di Indonesia
Merujuk pada konsep Space Technology Ladder yang dikembangkan Profesor Danielle Wood dari MIT, Arif memetakan posisi Indonesia yang saat ini dinilai masih berada di tahap menengah.
Tahapan tersebut dimulai dari pembentukan badan antariksa, akuisisi Low Earth Orbit (LEO), penguasaan satelit geostasioner, hingga kemampuan peluncuran mandiri.
Meski demikian, Arif optimistis mengingat rekam jejak riset domestik yang telah dihasilkan. Ia mengapresiasi kerja keras para insinyur Indonesia yang telah melahirkan satelit LAPAN-A1 hingga A3 untuk berbagai kebutuhan seperti observasi bumi, pemantauan maritim, dan pertanian.
Selain itu, kehadiran Surya Satellite-1 pada 2022 sebagai CubeSat pertama hasil kolaborasi BRIN dan universitas dianggap sebagai fondasi penting bagi ekosistem antariksa nasional.
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3267613/original/079814300_1602679710-Kejahatan_Siber.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471519/original/070085400_1782374653-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8519902/original/067689300_1782446978-Tugas__41_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/155/original/044152800_1745337825-WhatsApp_Image_2025-04-22_at_10.54.48_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/5754390/original/071489400_1778655999-Kepala_BRIN.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/419279/original/055825100_1744875499-Yus_01.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258037/original/028342400_1781299407-000_B6XD8QZ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1541481/original/029951000_1489915850-2022-World-Cup-006.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8584006/original/084196900_1782546499-AP26178201151443.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8583299/original/047451600_1782545178-AP26178061252747.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8526854/original/004442800_1782457565-Hong_Myung-bo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8384804/original/025311600_1782263854-kroasia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8581680/original/086573300_1782542126-AP26178050808259.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8208033/original/056349800_1781066890-063_2280813255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8293308/original/041888100_1782155517-AP26173640031261.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8322380/original/064889600_1782191323-063_2282870058.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578726/original/087210500_1782537285-063_2283517405.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578725/original/075292300_1782537284-063_2283517529.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2969771/original/040716200_1573978849-subak.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263664/original/076657600_1781954437-BRIN_dan_BP_Batam_matangkan_rencana_pembangunan_kawasan_terpadu.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259417/original/050655000_1781499623-BRIN_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6457833/original/035515200_1779321452-20150925144201-ini-kampung-di-bandung-yang-jadi-salah-satu-terpadat-di-dunia-008-dru.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7812750/original/026463200_1780630268-brin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4745850/original/055259400_1708238149-WhatsApp_Image_2024-02-18_at_13.25.05__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/thumbnails/5647207/original/016044800_1778256760-pg08_brin_ipb-0f6527.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1261934/original/090574600_1465736527-20160612-banjir-gholib-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5567619/original/020173800_1777294580-WhatsApp_Image_2026-04-27_at_18.40.48.jpeg)