Komdigi Dorong Penggunaan AI untuk Bikin Satelit Lebih Murah dan Cepat

Komdigi menilai AI dapat digunakan untuk mengoptimalkan operasional satelit, meningkatkan kualitas layanan, hingga menekan biaya investasi.

Diterbitkan 13 Mei 2026, 14:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Ismail, menegaskan bahwa teknologi satelit bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan bagi Indonesia untuk menjaga konektivitas dan kedaulatan nasional.

Hal tersebut disampaikannya Ismail dalam ajang Asia Pacific Satellite International Conference (APSAT 2026) yang dilegar 12-13 Mei 2026 di Jakarta.

Ia menyoroti posisi geografis Indonesia sebagai negara yang berada di kawasan Ring of Fire. Menurutnya, kerentanan terhadap bencana alam seperti letusan gunung berapi, kebakaran hutan, hingga tsunami menuntut adanya infrastruktur komunikasi yang tangguh dan aman.

"Bagi Indonesia, satelit adalah sebuah keniscayaan. Kita adalah negara dengan tantangan geografis yang luar biasa untuk membangun jaringan terrestrial. Satelit hadir bukan hanya untuk konektivitas, melainkan untuk memastikan inklusifitas agar seluruh masyarakat dapat terhubung secepat mungkin," ujar Ismail.

Ismail juga memaparkan pandangannya mengenai integrasi Artificial Intelligence (AI) dalam industri satelit. Ia menekankan dua aspek krusial: "AI untuk Satelit" dan "Satelit untuk AI".

Ia menjelaskan bahwa AI dapat digunakan untuk mengoptimalkan operasional satelit, meningkatkan kualitas layanan, hingga menekan biaya investasi yang besar pada teknologi satelit, khususnya pada satelit Geostationary Earth Orbit (GEO) di tengah gempuran teknologi Low Earth Orbit (LEO).

"Di sisi lain, satelit juga harus mendukung implementasi AI hingga ke pelosok. Kita butuh AI untuk menyelesaikan berbagai persoalan di sudut-sudut Indonesia, mulai dari penyebaran akses pendidikan, layanan kesehatan, hingga pembangunan ekonomi," Ismail menambahkan.

 

Dorong Produk Lokal dan Talenta Digital

Lebih lanjut, Ismail mengingatkan para pelaku industri global agar tidak sekadar menjadikan Indonesia sebagai pasar. Ia mengajak para investor dan pengembang teknologi internasional untuk berkolaborasi dengan komunitas lokal, khususnya pada pengembangan ground segment.

"(Investor) datanglah sebagai teman. Bergabung dan perkuat komunitas lokal kami. Inovasi yang digabungkan dengan produksi lokal dan talenta digital dalam negeri sangatlah penting bagi kami," tegasnya.

Pemerintah juga menyoroti pentingnya regulasi jangka panjang terkait manajemen spektrum frekuensi. Ismail menilai diskusi mengenai spektrum menjadi sangat mendasar karena kebutuhan akan ruang komunikasi yang kian padat di masa depan.

Transformasi Digital yang Berkeadilan

Sekjen Komdigi menyatakan bahwa komitmen pemerintah dalam transformasi digital adalah untuk mengurangi kesenjangan dan menciptakan kesetaraan peluang bagi seluruh rakyat Indonesia.

Teknologi satelit diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi digital di berbagai sektor, termasuk agrikultur.

"Teknologi harus menjadi alat untuk memperkuat kesetaraan dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi semua orang. Indonesia tetap berkomitmen untuk berkontribusi secara konstruktif melalui inovasi dan tata kelola pemerintah yang bertanggung jawab," Ismail memungkaskan.

Indonesia saat ini diakui sebagai salah satu pasar satelit terbesar di kawasan Asia Pasifik, yang menjadikan ajang APSAT 2026 sebagai momentum strategis untuk merumuskan kebijakan ruang angkasa dan konektivitas nasional di masa depan.