Ketum ASSI: Indonesia Perlu Perkuat Kedaulatan Teknologi Satelit di Era AI

Teknologi satelit kini bukan lagi sekadar pelengkap infrastruktur telekomunikas, melainkan kebutuhan strategis untuk mendukung konektivitas nasional.

Diterbitkan 12 Mei 2026, 10:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) Risdianto Yuli Hermansyah menegaskan bahwa teknologi satelit telah menjadi infrastruktur strategis yang tidak dapat dipisahkan dari masa depan konektivitas dan kedaulatan digital Indonesia.

Dalam pembukaan ajang Asia Pacific Satellite International Conference (APSAT) 2026, Selasa (12/5/2026) di Jakarta, Risdianto mengatakan APSAT 2026 menjadi tonggak penting karena merupakan penyelenggaraan ke-22 sejak konferensi tersebut pertama kali digelar lebih dari dua dekade lalu.

"APSAT telah berkembang dari forum berskala kecil menjadi salah satu ajang industri satelit paling dikenal di kawasan Asia Pasifik," ujarnya.

ASSI, kata Risdianto, didirikan pada 1998 dengan misi mendorong pengembangan industri satelit sekaligus memperkuat komunitas satelit di Indonesia.

Selama 27 tahun terakhir, organisasi tersebut terus berupaya menjadikan APSAT sebagai platform strategis untuk memperkuat dialog, membangun kolaborasi, dan menentukan arah pengembangan ekosistem satelit di Indonesia maupun global.

“Keberadaan seluruh peserta hari ini menjadi bukti bahwa forum ini masih relevan dan menunjukkan adanya komitmen bersama untuk membangun dunia yang lebih terkoneksi,” ujar Risdianto di hadapan peserta konferensi yang terdiri dari perwakilan pemerintah, organisasi internasional, operator satelit, pelaku teknologi, investor, akademisi, hingga pemimpin industri dari sejumlah negara.

Ia menilai Indonesia memiliki tantangan konektivitas yang unik sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Dengan lebih dari 17 ribu pulau dan jumlah penduduk melampaui 270 juta jiwa, pemerataan akses digital dinilai tidak mungkin hanya mengandalkan jaringan terestrial.

"Teknologi satelit kini bukan lagi sekadar pelengkap infrastruktur telekomunikasi, melainkan kebutuhan strategis untuk mendukung konektivitas nasional secara menyeluruh, terlebih di era AI saat ini," ucapnya menambahkan.

Teknologi tersebut juga dinilai penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi, ketahanan nasional, konektivitas maritim, mitigasi bencana, hingga akses digital yang inklusif bagi masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.  

Penguatan Kedaulatan Nasional

Ia menambahkan, peran satelit akan semakin penting seiring langkah Indonesia menuju Visi Indonesia Emas 2045. Dalam konteks tersebut, satelit dipandang sebagai fondasi utama pembangunan digital dan penguatan kedaulatan nasional di era ekonomi berbasis data.

Di sisi lain, Risdianto menyoroti perubahan besar yang tengah terjadi di industri satelit global. Ia menyebut ekspansi sistem konstelasi satelit, pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam operasional satelit, serta integrasi jaringan satelit dengan jaringan terestrial sedang mengubah arsitektur konektivitas global secara fundamental.

"Perkembangan tersebut membuka peluang besar bagi industri, namun sekaligus menghadirkan tantangan baru yang harus diantisipasi bersama. Beberapa isu yang menjadi perhatian antara lain keberlanjutan ruang angkasa, kepadatan orbit satelit, keamanan siber, tata kelola data, hingga kedaulatan teknologi," ia memaparkan.

Risdianto menekankan bahwa bagi negara seperti Indonesia, kemampuan untuk menjaga kemandirian dalam infrastruktur satelit, layanan berbasis antariksa, dan tata kelola data menjadi hal yang sangat penting.

“Di dunia yang semakin digital, kedaulatan teknologi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk menjaga ketahanan nasional dan otonomi strategis,” katanya menambahkan.

 

Kolaborasi dalam Membangun Ekosistem Satelit

Tema APSAT 2026 sendiri mengangkat “The Future of Satellite Ecosystems: The Importance of Sovereignty, AI, Innovation, and Technological Integration”.

Menurut Risdianto, tema tersebut merupakan seruan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun ekosistem satelit yang inovatif, berkelanjutan, dan berdaulat.

"Kami mengajak pemerintah, pelaku industri, institusi riset, hingga mitra internasional untuk berpikir lebih strategis dan bertindak lebih cepat dalam menghadapi perubahan industri yang semakin dinamis," ujarnya.

Selama dua hari pelaksanaan konferensi (12-13 Mei 2026) di Fairmont Jakarta, peserta dijadwalkan mengikuti berbagai sesi diskusi panel dan presentasi dari pembicara internasional yang membahas perkembangan terbaru di sektor satelit dan teknologi antariksa.

Risdianto berharap forum tersebut dapat menjadi sarana pertukaran wawasan sekaligus membuka peluang kerja sama baru antar pelaku industri.