Dari LEO hingga Direct-to-Device, ASSI Ungkap Peta Jalan Transformasi Satelit Indonesia

Masa depan konektivitas Indonesia tidak lagi hanya soal jangkauan sinyal, melainkan integrasi teknologi canggih seperti Direct-to-Device (D2D) dan satelit LEO.

Diterbitkan 06 Mei 2026, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Industri satelit dinilai sedang mengalami pergeseran paradigma besar-besaran dari sisi teknologi dan konektivitas.

Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI), Risdianto Yuli Hermansyah, memaparkan bahwa masa depan konektivitas Indonesia tidak lagi hanya soal jangkauan sinyal, melainkan integrasi teknologi canggih seperti Direct-to-Device (D2D) dan konstelasi satelit orbit rendah atau Low Earth Orbit (LEO).

Risdianto menjelaskan bahwa kehadiran pemain global seperti Starlink telah mengubah pola pikir konsumen di Indonesia yang kini menginginkan layanan satelit dengan latensi rendah dan perangkat yang bersifat portable.

Namun, ia melihat hal ini sebagai momentum positif bagi industri dalam negeri untuk bergerak dan bertransformasi.

"Teknologi satelit sekarang sudah bergeser melampaui sekadar konektivitas. Kita mulai bicara soal IoT (Internet of Things), sensor, hingga fungsi navigasi dan penentuan posisi (Positioning, Navigation, and Timing/PNT) yang mandiri," kata Risdianto, Selasa (5/5/2026) di Jakarta.

Salah satu inovasi yang paling dinanti adalah teknologi Direct-to-Device, di mana satelit dapat terhubung langsung ke ponsel genggam atau sensor tanpa memerlukan perangkat perantara yang rumit.

"Ada dua skema yang sedang berkembang, yaitu satelit sebagai 'BTS di langit' bagi operator seluler, atau satelit yang bertindak sebagai operator seluler mandiri (jaringan regeneratif).

Namun, untuk memenangkan persaingan di era LEO, Risdianto menekankan empat pilar fundamental yang harus dimiliki Indonesia: kepemilikan spektrum frekuensi yang terdaftar di ITU, kekuatan modal, akses terhadap pabrikan satelit, dan akses terhadap fasilitas peluncur (spaceport).

"Karakteristik LEO itu umurnya pendek, hanya 5 hingga 7 tahun. Jika kita tidak punya akses peluncuran yang berkelanjutan, akan sulit menjaga keberlangsungan layanan. Di sinilah pentingnya penguatan SDM dan kapabilitas dalam negeri, termasuk rencana pembangunan spaceport oleh BRIN," ia memungkaskan.

Transformasi Teknologi Satelit

Industri satelit mengalami pergeseran paradigma dari layanan konvensional berbasis Geostationary Earth Orbit (GEO) yang berfokus pada konektivitas, menuju solusi terintegrasi berbasis satelit di berbagai sektor. Konektivitas menjadi komoditas, di mana nilainya pindah ke solusi spesifik sektor dan integrasi data-intelligence.

Contoh solusi:

  • Maritim: kombinasi broadband untuk komunikasi dan narrowband untuk IoT (tracking posisi kapal, sensor mesin/bahan bakar untuk efisiensi).
  • Navigasi dan PNT (Positioning, Navigation, and Timing): meningkat kebutuhannya seiring tensi geopolitik; tiap negara ingin memiliki data sendiri.
  • Earth Observation: data citra diproses melalui AI untuk menghasilkan insight (earth intelligence).Direct-to-Device (D2D): sedang diujicoba luas; operator global seperti Starlink, Tiantong, AST, dan Link Global menargetkan penyediaan layanan D2D mulai tahun depan.
  • Teknologi D2D mencakup direct-to-cell (spektrum handheld) dan direct IoT (sensor langsung ke satelit). Implementasi dapat bersifat transparan (meneruskan core network terestrial/seluler) atau regeneratif (memiliki core sendiri sebagai mobile operator).

 

Perbedaan Satelit LEO dan GEO

Satelit GEO memiliki cakupan luas dan orbit stabil. Teknologi satelit ini cocok untuk backhaul dan broadcast, di mana pertumbuhannya landai namun tetap dominan di dua fungsi tersebut.

Sedangkan satelit LEO menonjol pada latensi rendah dan kecepatan, diklaim menghadirkan ekspektasi baru pasar dengan latensi rendah, user terminal portabel, dan mudah dipasang. Karakteristik ini membuat LEO cepat terdisrupsi.

Ke depan, Indonesia cenderung mengadopsi pendekatan hibrida (GEO+LEO) sesuai keunggulan masing-masing aplikasi. Konstelasi LEO membutuhkan elemen fundamental: spektrum dan lisensi, kapital, akses ke pabrikan dan peluncur satelit, serta SDM.

Untuk membangun satelit LEO, dibutuhkan sekitar 1 tahun untuk satu satelit, 3 tahun untuk konstelasi lengkap. Sementara membangun GEO, membutuhkan waktu 2–3 tahun.

Dari sisi perizinan resmi atau lisensi dari International Telecommunication Union (ITU), prosesnya sangat panjang. Untuk lisensi GEO dapat mencapai 7 tahun, dan LEO bisa hingga 7+7 tahun.

Secara praktis, evaluasi domestik (Komdigi) bisa memakan waktu 6–12 bulan, dilanjutkan evaluasi ITU selama 6–12 bulan. Lalu, diperlukan proses koordinasi satelit sekitar 4–5 tahun. Semakin banyak konstelasi/frekuensi yang didaftarkan, kian besar kewajiban koordinasinya.

Ringkasan Perkembangan Industri Satelit di Indonesia

  • Indonesia sudah puluhan tahun mengoperasikan satelit GEO di bawah LAPAN (kini BRIN) dengan skala tertentu.
  • Telkomsat dan PSN (dua anggota ASSI) telah mendaftarkan lisensi konstelasi LEO ke ITU melalui Komdigi; BRIN dan Telkomsel juga tercatat melakukan filing. Tahapannya adalah harus koordinasi dengan pemilik satelit yang telah lebih dulu beroperasi. Frekuensi Mobile Satellite Services (MSS) yang relevan adalah 2 GHz dan 1,6 GHz.
  • ITU saat ini sedang membahas penambahan alokasi untuk D2D dengan target perubahan akhir 2027/awal 2028. Banyak operator mendesain D2D memakai frekuensi operator seluler, yang tetap memerlukan kontrol dan regulasi ketat.