Sukses

Alasan Google Plus Layu Sebelum Berkembang

Liputan6.com, Jakarta - Nama Google+ (baca: Google Plus) kembali menjadi perbincangan publik setelah ditemukan ada kebocoran ratusan ribu data pribadi penggunannya. Sebelum temuan ini, Google Plus sendiri masih kalah dibandingkan layanan lain serupa.

Sekadar informasi, Google+ dikembangkan untuk merambah pasar media sosial. Diluncurkan pertama kali pada 2011, layanan ini dimaksudkan dapat bersaing dengan Facebook atau Twitter.

Namun, layanan ini ternyata tidak berkembang jauh. Secara teknis, jumlah pengguna Google+ sebenarnya tidak kalah dari jejaring sosial lain, bahkan salah satu yang terbesar.

Alasannya, Google memberlakukan sistem 'satu akun untuk semua layanan'. Dengan kata lain, pemilik akun Gmail otomatis memiliki akun di layanan lain, seperti Google Drive, Google Play Store, termasuk Google+.

Kendati demikian, tidak banyak pemilik akun Google yang aktif di layanan ini. Dikutip dari Business Insider, Selasa (9/10/2018), masalah Google+ ini sebenarnya sudah lama diprediksi.

Menurut mantan pegawai Google, layanan ini dianggap masih sulit dipakai oleh para pengguna. Sumber lain menyebut layanan ini terlambat hadir di perangkat mobile, sehingga tidak pernah dilirik oleh pengguna.

Alasan lain adalah tidak sepenuhnya internal Google mendukung produk ini. Terlebih, setelah sosok penting di balik Google+, Vic Gundotra, mundur pada 2014.

Google+ sendiri kini dilaporkan akan segera ditutup. Keputusan ini diambil usai ada celah keamanan yang membuat pengembang aplikasi pihak ketiga untuk mengakses profil dan data pribadi pengguna Google+.

2 dari 3 halaman

Ratusan Ribu Data Pengguna Bocor, Google Plus Bakal Ditutup

Sekadar informasi, Google dikabarkan akan menutup layanan media sosialnya, Google+. Alasannya tak lain karena perusahaan baru saja mengungkap kalau Google+ kebocoran ratusan ribu data pribadi penggunanya.

Dilansir Reuters pada Selasa (9/10/2018), penyebab kebocoran data pengguna ditengarai berasal dari sebuah bug API di dalam platform, yang bisa memberikan akses kepada pengembang aplikasi pihak ketiga untuk mengakses profil dan data pribadi pengguna Google+.

Google sendiri mengklaim kalau sampai detik ini belum ada pengembang yang berani untuk mengakses data pengguna dari bug tersebut.

Dalam blog resmi terbaru Google, perusahaan mengungkap berapa banyak data pengguna yang bocor.

Ada sekitar 500.000 akun pengguna yang datanya bocor, sedangkan ada 438 aplikasi pihak ketiga yang kemungkinan bisa saja mengakses data pribadi pengguna dari bug tersebut.

Adapun data yang bocor meliputi nama pengguna, alamat email, pekerjaan, jenis kelamin, dan usia.

3 dari 3 halaman

Belum Ada Temuan Penyalahgunaan

"Kami belum menemukan bukti kalau ada pengembang yang sudah sadar akan bug ini, atau menyalahgunakan API. Kami juga belum menemukan ada satu data pun yang disalahgunakan,"ujar VP Engineering Google Ben Smith.

Google sendiri mengakui kalau bug tersebut sebetulnya sudah ditambal sejak Maret 2018.

Tidak dapat dipastikan apakah Google+ bakal 'hidup' kembali atau benar-benar dimatikan secara permanen.

Alih-alih demikian, Google nantinya dikabarkan bakal merombak izin akun untuk memungkinkan pengguna memilih data yang ingin dibagikan kepada aplikasi pihak ketiga.

Tak cuma itu, Google juga akan membatasi kemampuan aplikasi pihak ketiga untuk bisa mengakses data penggunanya.

(Dam/Ysl)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: 

Artikel Selanjutnya
Jelang Peluncuran, Spesifikasi Layar dan Warna Pixel 3 Santer Beredar
Artikel Selanjutnya
Google Respons Rumor Pixel Mini