Rasisme di Piala Dunia: Suara dari Tribune yang Berasal dari Masa Silam

Rasisme di tribune Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa prasangka di stadion lahir dari sejarah panjang, bukan ledakan sesaat.

Diterbitkan 13 Juli 2026, 14:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Rasisme kembali mengiringi Piala Dunia 2026, masuk ke ruang yang selama ini dipromosikan sebagai pesta terbesar sepak bola dunia. Di tengah meriahnya laga dan selebrasi, ada suara lain yang terus terdengar dari tribune: ejekan yang merendahkan manusia berdasarkan warna kulit dan asal-usul.

Piala Dunia selalu menjual mimpi tentang persatuan lintas bangsa, agama, dan bahasa. Namun, di tribune stadion, mimpi itu berkali-kali retak ketika identitas seseorang dipersoalkan bukan karena permainan, melainkan karena darah yang mengalir di tubuhnya.

Dalam beberapa hari terakhir, dunia kembali menyaksikan bagaimana rasisme menemukan panggungnya sendiri. Chant bernada rasial, hinaan di tribune, hingga perbandingan yang merendahkan martabat pemain muncul di hadapan kamera, seolah ruang publik adalah tempat yang aman untuk prasangka lama.

Chant yang Tak Pernah Benar-benar Hilang

Ketika suporter Argentina kembali melantunkan chant yang mempertanyakan ke-Prancis-an para pemain tim nasional Prancis, peristiwa itu terasa seperti gema dari masa lalu yang belum selesai. Pesan yang dibawa sederhana dan brutal, bahwa seseorang tidak sepenuhnya menjadi bagian dari sebuah bangsa bila memiliki keturunan Afrika.

Di Miami, Darren Watkins Jr. atau IShowSpeed menjadi sasaran ejekan bernada rasial saat berada di tribune stadion. Dalam waktu yang nyaris bersamaan, seorang senator Paraguay menuai kecaman setelah membandingkan Kylian Mbappe dengan seekor monyet.

Peristiwa-peristiwa itu terjadi dalam konteks yang berbeda, tetapi benang merahnya sama. Rasisme bekerja dengan pola yang sama pula, yakni mereduksi manusia menjadi warna kulit, lalu menjadikannya alasan untuk meragukan martabatnya.

Yang paling mengganggu bukan hanya isi hinaannya, melainkan kenyataan bahwa ia diucapkan terang-terangan di tempat yang disaksikan jutaan orang. Stadion, yang semestinya menjadi rumah bagi semangat sportif, justru kerap berubah menjadi ruang tempat prasangka merasa punya legitimasi.

Mengapa Stadion Menjadi Tempat yang Subur

Sepak bola sering dipuji sebagai olahraga yang menyatukan semua lapisan masyarakat. Di saat yang sama, sepak bola juga menyimpan kemampuan untuk memantulkan luka sosial yang sudah lama ada di luar lapangan.

Itulah sebabnya rasisme di stadion tidak bisa dilihat sebagai insiden spontan yang lahir karena emosi sesaat. Yang terdengar di tribune sering kali adalah cermin dari cara masyarakat memandang identitas, sejarah, dan siapa yang dianggap layak masuk ke dalam definisi “kita”.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Chant yang kembali diarahkan kepada Prancis pada Piala Dunia 2026 bukan cerita baru. Pola serupa sudah muncul setelah final Piala Dunia 2022, lalu kembali memicu kemarahan pada Copa America 2024 ketika video para pemain Argentina menyanyikannya di dalam bus tim beredar luas. Pengulangan itu penting dicatat karena menunjukkan bahwa persoalannya bukan hanya pada satu atau dua orang. Ada narasi yang terus diwariskan, diulang, lalu dinormalisasi oleh sebagian suporter hingga berubah seolah-olah menjadi bagian dari kultur stadion.

Halaman
Show All
Gia Yuda PradanaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan