Rasisme di Piala Dunia: Suara dari Tribune yang Berasal dari Masa Silam

Rasisme di tribune Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa prasangka di stadion lahir dari sejarah panjang, bukan ledakan sesaat.

Diterbitkan 13 Juli 2026, 14:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Chant yang kembali diarahkan kepada Prancis pada Piala Dunia 2026 bukan cerita baru. Pola serupa sudah muncul setelah final Piala Dunia 2022, lalu kembali memicu kemarahan pada Copa America 2024 ketika video para pemain Argentina menyanyikannya di dalam bus tim beredar luas.

Pengulangan itu penting dicatat karena menunjukkan bahwa persoalannya bukan hanya pada satu atau dua orang. Ada narasi yang terus diwariskan, diulang, lalu dinormalisasi oleh sebagian suporter hingga berubah seolah-olah menjadi bagian dari kultur stadion.

Akar Sejarah di Argentina

Untuk memahami mengapa narasi seperti itu bisa bertahan, sejarah Argentina perlu dibaca lebih jauh. Pada abad ke-19, elite politik negara itu berusaha membangun identitas nasional yang dekat dengan Eropa dan menjauh dari warisan penduduk asli serta masyarakat non-Eropa.

Domingo Faustino Sarmiento menjadi salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam gagasan tersebut. Ia mendorong pandangan bahwa kemajuan identik dengan peradaban Eropa, sementara kelompok adat diposisikan sebagai lambang keterbelakangan.

Cita-cita itu kemudian masuk ke dalam kebijakan negara. Konstitusi Argentina tahun 1853 membuka pintu lebar bagi imigran Eropa, lalu jutaan orang dari Italia, Spanyol, dan negara lain datang ke sana dalam gelombang besar.

Antara pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20, sekitar enam juta pendatang mengubah komposisi penduduk Argentina. Dari sana, lahir citra bahwa Argentina adalah “bangsa Eropa di Amerika Latin”, sebuah identitas yang lama-kelamaan menyingkirkan keberagaman yang lebih rumit di dalam negeri.

Blanqueamiento dan Penghapusan yang Sunyi

Di balik citra modern itu, ada proses keras yang jarang masuk ingatan publik. Pada 1878 hingga 1885, pemerintah Argentina menjalankan Conquest of the Desert untuk memperluas wilayah ke Pampas dan Patagonia yang dihuni komunitas adat, termasuk Mapuche.

Ribuan orang tewas, ditangkap, atau dipindahkan secara paksa dalam operasi tersebut. Tanah mereka lalu dibagi kepada negara, pemukim baru, dan para pemilik lahan yang diuntungkan dari ekspansi itu.

Banyak sejarawan dan organisasi masyarakat adat menilai operasi itu sebagai bentuk genosida. Walau istilah tersebut masih diperdebatkan di ruang akademik, dampaknya tidak pernah diperdebatkan, yakni perubahan demografi dan penguatan proyek pemutihan penduduk.

Konsep blanqueamiento berkembang luas di Amerika Latin pada masa itu. Gagasannya sederhana sekaligus berbahaya, bahwa semakin Eropa wajah sebuah negara, semakin modern dan beradab negara itu dianggap.

Di saat yang sama, komunitas Afro-Argentina perlahan menghilang dari narasi resmi. Keberadaan mereka terhapus oleh perang, wabah, perkawinan campuran, migrasi besar-besaran, dan proses invisibilization yang membuat kontribusi mereka jarang hadir dalam sejarah nasional.

Identitas yang Dipersoalkan di Lapangan Hijau

Dari situ, lahir cara pandang yang bertahan lama, bahwa menjadi orang Argentina identik dengan akar Eropa. Anggapan itu hidup dalam bahasa sehari-hari, dalam cara negara memandang dirinya sendiri, dan dalam komentar yang melupakan bahwa identitas nasional tidak pernah tunggal.

Ketika chant rasial kepada tim Prancis kembali terdengar, yang dipersoalkan bukan prestasi para pemainnya. Yang dipersoalkan adalah hak mereka untuk dianggap Prancis meski memiliki garis keturunan Afrika, Karibia, atau Afrika Utara.

Kylian Mbappe lahir di Paris dan sah sebagai warga negara Prancis. Rekan-rekannya di tim nasional juga datang dari latar belakang keluarga yang beragam, dan itu tidak mengurangi keprancisan mereka sedikit pun.

Dalam dunia modern, kewarganegaraan ditentukan oleh hukum, bukan oleh warna kulit. Namun, bagi mereka yang masih memelihara logika rasial, keberagaman tetap dipandang sebagai gangguan terhadap gambaran bangsa yang mereka inginkan.

Rasisme yang Melampaui Argentina

Tentu, persoalan ini tidak berhenti di Argentina atau Amerika Latin. Rasisme telah lama menjadi penyakit global, hadir di berbagai liga, turnamen, dan negara yang mengaku telah selesai dengan masa lalu kolonialnya.

Vinicius Junior berulang kali menerima pelecehan rasial di Liga Spanyol, sementara Romelu Lukaku juga pernah menghadapi hal serupa di Italia. Setiap insiden memperlihatkan bahwa stadion belum sepenuhnya bersih dari cara pandang yang memisahkan manusia berdasarkan asal-usul biologis.

FIFA, UEFA, dan CONMEBOL sudah berkali-kali mengampanyekan antirasisme. Namun, kampanye di papan reklame dan pidato resmi belum tentu cukup bila budaya di tribune masih memberi ruang bagi penghinaan yang sama.

Piala Dunia 2026 pada akhirnya menghadirkan paradoks yang keras. Turnamen ini menampilkan wajah dunia yang semakin beragam, tetapi pada saat yang sama memperlihatkan bahwa sebagian orang masih belum sanggup menerima keberagaman itu tanpa curiga.

Piala Dunia dan Prasangka yang Tidak Bisa Dipatahkan

Piala Dunia tidak menciptakan rasisme, dan turnamen ini juga bukan penyebab lahirnya prasangka. Yang dilakukan Piala Dunia hanyalah membuka panggung yang sangat besar sehingga sejarah, identitas, dan kebiasaan buruk ikut tampil tanpa bisa disembunyikan.

Ketika puluhan ribu orang bernyanyi bersama di stadion, yang terdengar bukan hanya dukungan untuk tim favorit. Ada juga cara pandang tentang bangsa, ras, dan siapa yang dianggap pantas mewakili sebuah bendera.

Oleh karena itu, rasisme yang muncul di tribune stadion bukanlah fenomena yang lahir dalam semalam. Ia adalah hasil dari sejarah panjang kolonialisme, proyek pemutihan identitas, dan upaya memaksa manusia masuk ke kotak-kotak rasial yang sempit.

Selama akar sejarah itu tidak benar-benar dihadapi, stadion akan terus menjadi tempat yang memperlihatkan dua hal sekaligus. Sepak bola memang mampu menyatukan jutaan orang, tetapi ia juga sanggup membuka wajah prasangka yang belum selesai dipatahkan.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Gia Yuda PradanaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan