6 Penyebab Siksa Kubur yang Sering Dianggap Sepele, Malapetaka di Alam Barzakh

Sebab dosa kecil yang dilakukan dalam keseharian itu seringkali justru menjadi pemicu malapetaka di alam barzakh

Diterbitkan 13 Juli 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Keadaan mayit di alam barzahh tergantung pada amal dan perbuatannya semasa di dunia. Maka itu, selain menghindarkan diri dari dosa-dosa besar, umat Islam perlu sungguh-sungguh mewaspadai penyebab siksa kubur yang sering dianggap sepele.

Sebab dosa kecil yang dilakukan dalam keseharian itu seringkali justru menjadi pemicu malapetaka di alam barzakh. Gara-gara dosa yang dianggap sepele tersebut, seseorang justru menghadapi siksa kubur.

Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi dalam ebook Siksa Kubur Sebuah Aqidah yang Absolut menegaskan, kondisi di alam kubur ini wajib diimani setiap muslim. Rasulullah SAW mengisahkan dua penghuni kubur yang disiksa bukan karena dosa besar, melainkan murni akibat kebiasaan harian yang selalu diremehkan.

Abu Asma Andre dalam Ebook Kehidupan Alam Kubur dan Keadaan Penghuninya Sampai ke Hari Kebangkitan juga mengingatkan agar umat Islam tak lalai. Sebab, dosa-dosa kesalahan-kesalahan yang dianggap sepele itu akan turut dihisab di hari kiamat.

Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah penyebab-penyebab siksa kubur yang kerap kali dianggap sepele sehingga sering dilakukan tanpa sadar.

6 Penyebab Siksa Kubur yang Sering Dianggap Sepele

1. Tidak Bersuci (Istinja') Secara Sempurna

Kecerobohan dalam membersihkan sisa buang air kecil merupakan pemicu utama datangnya azab barzakh. Percikan najis yang tertinggal di pakaian atau badan akan merusak keabsahan shalat seorang hamba.

Rasulullah SAW melewati dua kuburan dan bersabda, "Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan tidaklah keduanya disiksa karena dosa yang dianggap besar... yang satu disiksa karena tidak bersuci setelah kencing." (HR. Bukhari dan Muslim).

Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi dalam Ebook Siksa Kubur Sebuah Aqidah yang Absolut memaparkan bahwa menyepelekan percikan air kencing membatalkan kesucian yang merupakan syarat mutlak shalat. Hal ini sejalan dengan pandangan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Kitab Fathul Bari yang menegaskan bahwa mayoritas azab kubur bermula dari kecerobohan menjaga kebersihan dari najis ringan ini.

2. Namimah (Mengadu Domba)

Menyebarkan perkataan untuk merusak hubungan antarmanusia adalah kejahatan lisan yang dampaknya sangat merusak. Meskipun terkesan sekadar "obrolan ringan", hukumannya dibayar tunai di alam kubur.

Lanjutan dari hadits di atas, Rasulullah SAW bersabda, "...dan yang lainnya disiksa karena ia senantiasa berjalan ke sana-kemari dengan menyebarkan namimah (adu domba)." (HR. Bukhari dan Muslim).

Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi dalam Buku Amalan-Amalan Pelebur Dosa menyebutkan bahwa dosa lisan mematikan empati dan ukhuwah sosial. Imam An-Nawawi dalam Kitab Syarh Shahih Muslim menguraikan bahwa adu domba menghancurkan kehormatan masyarakat, sehingga Allah menyegerakan balasan fisik di alam barzakh bagi pelakunya.

3. Ghibah (Membicarakan Aib Orang Lain)

Menggunjing saudara sesama muslim acapkali dianggap sebagai bumbu pergaulan. Namun, di alam kubur, ghibah termanifestasi menjadi siksaan fisik yang mengerikan.

"Ketika aku dimi'rajkan, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga, mereka mencakari wajah dan dada mereka sendiri... merekalah orang-orang yang memakan daging manusia (ghibah)." (HR. Abu Dawud).

Abu Asma Andre merujuk dalil ini untuk menekankan betapa hinanya ghibah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Majmu' Al-Fatawa menyatakan bahwa ghibah adalah kezaliman hak manusia (Haqqul Adami) yang tidak akan dimaafkan Allah SWT sebelum orang yang dighibahi memberikan kemaafan.

4. Berkhianat dan Korupsi Skala Kecil (Ghulul)

Mengambil hak orang lain atau barang fasilitas umum secara diam-diam (ghulul), walau nominalnya teramat kecil, akan mendatangkan kobaran api di alam kubur.

"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh mantel yang ia ambil dari harta rampasan perang pada hari Khaibar... benar-benar akan menyala menjadi api yang membakarnya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam Ebook Siksa Kubur Sebuah Aqidah yang Absolut, Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi menjelaskan bahwa korupsi selembar kain atau hal remeh lainnya langsung menjadi api di dalam kubur.

Syaikh Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi dalam Kitab At-Tadzkirah mengategorikan ghulul sebagai dosa besar yang mengunci rahmat Tuhan di alam barzakh.

5. Utang yang Dibiarkan Tidak Terbayar

Menunda-nunda pembayaran utang padahal mampu, atau meninggal dunia dengan meninggalkan utang tanpa wasiat penyelesaian, akan menyandera kebebasan roh di alam penantian.

"Jiwa seorang mukmin itu terkatung-katung (tertahan) karena utangnya, sampai utangnya itu dilunasi." (HR. Tirmidzi).

Sutejo Ibnu Pakar melalui Buku Tradisi Amaliyah Warga NU Tahlilan, Hadiyuan, Dzikir, Yasinan, Ziarah Kubur memaparkan urgensi solidaritas sosial di mana keluarga yang ditinggalkan atau kerabat harus segera mengambil alih dan melunasi utang jenazah.

Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Kitab Nihayatuz Zain secara spesifik menegaskan bahwa utang menahan roh dari nikmat dan ampunan, sehingga pembebasan tanggungan menjadi prioritas sebelum pemakaman.

6. Niyahah (Meratapi Jenazah Secara Berlebihan)

Banyak keluarga yang meratap, menjerit, dan memukul-mukul dada karena kehilangan sanak famili. Ratapan yang melampaui batas kewajaran ini justru menyiksa jenazah di alam kubur.

"Sesungguhnya mayit itu disiksa di dalam kuburnya karena ratapan (keluarganya) kepadanya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi dalam Buku Amalan-Amalan Pelebur Dosa menyoroti bahwa bersedih dan menangis diperbolehkan, namun meratap histeris (niyahah) adalah bentuk ketidakterimaan terhadap takdir Allah.

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam Kitab Ar-Ruh merincikan bahwa azab ini menimpa mayit apabila semasa hidup ia membiarkan atau bahkan mewasiatkan keluarganya untuk meratap dengan tradisi jahiliyah.

Pertanyaan Seputar Penyebab Siksa Kubur

1. Apa penyebab utama siksa kubur menurut Islam?

Penyebab utama siksa kubur terbagi menjadi dosa akidah (kesyirikan, kekafiran, kemunafikan) dan dosa maksiat harian (seperti tidak suci usai kencing, ghibah, adu domba, dan utang) yang terus dilakukan tanpa bertaubat sebelum maut menjemput.

2. Apakah kencing sembarangan benar-benar bisa menyebabkan siksa kubur?

Ya. Hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim secara definitif menyebutkan bahwa salah satu dari dua penghuni kubur yang diazab adalah karena ia tidak membersihkan sisa kencingnya dengan benar, yang berakibat langsung pada batalnya ibadah shalat yang ia kerjakan.

3. Mengapa adu domba (namimah) dihukum sangat berat di alam kubur?

Karena namimah adalah penyakit lisan yang merusak tatanan sosial, memutus tali silaturahmi, dan memicu permusuhan serta pertumpahan darah di antara manusia. Islam sangat melindungi kehormatan dan persaudaraan sesama muslim.

4. Bagaimana cara agar mayit terhindar dari azab kubur akibat utang?

Ahli waris wajib mengambil alih tanggung jawab tersebut dengan segera melunasi utang sang mayit menggunakan harta peninggalan (tirkah) sang mayit. Jika tirkah tidak mencukupi, keluarga sangat dianjurkan melunasinya dari harta pribadi mereka agar roh mayit terbebas dari penangguhan.

5. Apakah menangisi orang meninggal akan menyebabkan mayit disiksa?

Menangis secara wajar karena kesedihan yang fitri diperbolehkan dalam Islam. Yang menyebabkan mayit disiksa adalah niyahah, yakni ratapan berlebihan seperti menjerit-jerit, merobek pakaian, menampar pipi, dan melontarkan kata-kata yang menentang takdir Allah.

Â