Koperasi di Eropa Kelola Real Madrid hingga Rabobank

Ketua Umum Dekopin menilai koperasi di luar negeri mampu mengelola klub sepak bola hingga bank besar. Indonesia kini didorong membangkitkan peran koperasi.

Diterbitkan 13 Juli 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Bambang Haryadi menilai stigma bahwa koperasi hanya identik dengan usaha kecil dan model ekonomi yang sudah usang perlu dihapus. Menurutnya, berbagai negara justru membuktikan koperasi mampu mengelola bisnis berskala besar, mulai dari klub sepak bola hingga perbankan.

Bambang mengatakan, selama hampir tiga dekade gerakan koperasi di Indonesia belum mendapatkan perhatian yang sepadan sebagaimana amanat Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 ayat (1). Namun, kondisi tersebut mulai berubah dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

"Setelah sekian lama atau hampir 3 dekade, gerakan koperasi di Indonesia tidak mendapat perhatian yang sepadan sesuai dengan mandat Undang-Undang Dasar 45 Pasal 33 ayat 1," kata Bambang dalam Puncak Peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79, dikutip Senin (13/7/2026).

Ia menilai Hari Koperasi Nasional ke-79 menjadi momentum kebangkitan koperasi nasional karena pemerintah menjadikan sektor tersebut sebagai salah satu prioritas dalam pembangunan ekonomi masyarakat.

"Baru dalam pemerintahan Bapak Presiden, Gerakan Koperasi Indonesia mendapat perhatian dan menjadi program prioritas ekonomi masyarakat. Hari Koperasi Nasional ke-79 ini menjadi momentum bangkitnya gerakan koperasi di Indonesia kita. Dan kita yakin di bawah kepemimpinan Bapak Presiden, koperasi akan menjadi salah satu pilar utama penggerak rakyat Indonesia," ujarnya.

 

Institusi Modern

Untuk menunjukkan bahwa koperasi mampu berkembang menjadi institusi modern, Bambang mencontohkan sejumlah organisasi besar di Eropa yang menerapkan sistem koperasi dalam pengelolaannya.

Menurut dia, anggapan bahwa koperasi hanya cocok untuk usaha kecil tidak sesuai dengan kenyataan di sejumlah negara maju.

"Stigma koperasi selama ini dinilai sebagai alat ekonomi kuno dan kecil, sangat tidak relevan, dan salah besar," katanya.

Ia mencontohkan klub-klub sepak bola ternama di Eropa yang dikenal memiliki basis pendukung besar.

"Kami contohkan cabang olahraga yang sangat digandungi masyarakat, yaitu sepak bola. Klub-klub besar di Eropa seperti Real Madrid, Barcelona, Bayern Munchen, bahkan dikelola dengan sistem koperasi," ujar Bambang.

Tak hanya di sektor olahraga, ia juga menyinggung sektor perbankan. Menurut Bambang, salah satu bank terbesar di Belanda, Rabobank, juga dimiliki oleh koperasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa model koperasi mampu berkembang menjadi organisasi dengan skala bisnis besar dan berdaya saing tinggi.

 

Masuk Fase Baru

Bambang optimistis gerakan koperasi di Indonesia akan memasuki fase baru seiring meningkatnya dukungan pemerintah. Salah satu bentuk keberpihakan tersebut, menurut dia, terlihat dari pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang kini menjadi program nasional.

"Kami yakin koperasi akan bangkit kembali di era kepemimpinan Bapak. Keberpihakan Bapak Presiden kepada Gerakan Koperasi bukan hanya slogan semata. Itu terbukti nyata dengan dibentuknya koperasi desa dan koperasi Kelurahan Merah Putih," katanya.

Ia juga menilai perhatian Presiden Prabowo terhadap koperasi bukanlah hal yang baru. Menurut Bambang, dukungan tersebut telah ditunjukkan jauh sebelum Prabowo menjabat sebagai kepala negara.

"Kami melihat perjuangan Bapak terhadap pergerakan koperasi sudah dimulai sejak lama bahkan sebelum Bapak menjadi presiden. Kakek dan ayahanda Bapak Presiden adalah juga tokoh koperasi. Dan terakhir atas dedikasi dan perjuangan Bapak terhadap Gerakan Koperasi dari dulu hingga sekarang, kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya," tutup Bambang.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6