Hari Koperasi Nasional, Prabowo Kritik Ekonomi Neoliberal

Presiden Prabowo menilai paham ekonomi neoliberal bertentangan dengan UUD 1945 dan menegaskan koperasi menjadi fondasi ekonomi kerakyatan.

Diterbitkan 12 Juli 2026, 17:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menegaskan pembangunan ekonomi Indonesia harus kembali berlandaskan amanat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 melalui penguatan ekonomi kerakyatan dan koperasi.

Menurutnya, model ekonomi neoliberal yang berkembang selama beberapa dekade terakhir tidak mampu menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat luas dan justru bertentangan dengan cita-cita para pendiri bangsa.

Hal itu disampaikan Prabowo saat memberikan pidato dalam Puncak Peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 di Indonesia Arena, Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu (12/7/2026).

"Kita melihat ekonomi Indonesia dikuasai oleh paham ekonomi neoliberal yang sesungguhnya adalah bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945," kata Prabowo.

Menurut Presiden, pemerintah telah berjuang mengembalikan arah pembangunan ekonomi nasional agar kembali mengacu pada konsep ekonomi kekeluargaan yang memberikan kesempatan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk berperan dalam pembangunan.

"Cukup lama kita berjuang untuk mengembalikan arah pembangunan ekonomi ke arah yang dirancang oleh pendiri-pendiri bangsa kita, yaitu ekonomi kekeluargaan, ekonomi kerakyatan, ekonomi di mana semua unsur harus berperan dan harus diberi kesempatan," ujarnya.

 

Tidak Mencari Kesalahan

Prabowo mengatakan perubahan arah pembangunan tersebut bukan untuk menyalahkan kebijakan masa lalu. Ia menilai para pemimpin Indonesia pada saat itu memiliki keyakinan bahwa sistem ekonomi Barat mampu membawa kemajuan dalam waktu singkat.

"Saudara-saudara, kita tidak mencari kesalahan masa lalu. Kita akui itu kesalahan kita bersama, kesalahan para elit. Waktu itu mungkin kita terkesima oleh keunggulan Barat," katanya.

Namun, setelah puluhan tahun berjalan, Prabowo menilai sistem kapitalisme neoliberal tidak memberikan manfaat yang diharapkan bagi masyarakat luas.

"Saya termasuk mungkin salah satu yang dari awal sudah memperingatkan bahwa paham kapitalisme neoliberal tidak akan berhasil dan tidak akan membawa kesejahteraan dan tidak mungkin membawa kesejahteraan kepada rakyat banyak," tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Prabowo juga mengungkapkan rasa kedekatannya dengan gerakan koperasi yang menurutnya selalu mendukung perjuangannya selama bertahun-tahun.

"Koperasi itu memang saya merasa adalah keluarga saya. Walaupun saya kalah presiden berapa kali, saya merasa gerakan koperasi selalu berada bersama saya," ucap Prabowo.

 

Kekayaan Negara

Presiden menambahkan, setelah memimpin pemerintahan, ia semakin menyadari besarnya potensi sumber daya Indonesia. Namun, di sisi lain, ia juga prihatin karena banyak kekayaan nasional yang dinilai tidak memberikan manfaat optimal bagi rakyat.

"Sesudah saya dilantik dalam minggu-minggu pertama saya jadi presiden, saya sadar betapa kayanya bangsa Indonesia. Tetapi saya juga sedih. Saya juga merasa dihantam di ulu hati saya melihat betapa besar kekayaan Indonesia dicuri. Betapa besar kekayaan kita dibawa ke luar negeri," kata Prabowo.

Karena itu, ia menegaskan pemerintah akan terus bekerja keras untuk memastikan kekayaan Indonesia dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat, sesuai amanat konstitusi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6