Waspada Phishing Berbasis AI, Ini Cara Mengenali Tautan Jebakan

Taktik penipuan siber kini kian canggih dengan memanfaatkan kecerdasan buatan. Kenali detail-detail kecil ini sebelum mengeklik tautan berbahaya.

Diterbitkan 13 Juli 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Maraknya aksi penipuan digital membuat pengguna internet harus semakin waspada setiap kali menerima tautan (link) dari email, SMS, atau pesan instan. Para pelaku kejahatan siber saat ini memanfaatkan berbagai cara, termasuk kecerdasan buatan (AI), untuk membuat pesan palsu yang terlihat sangat meyakinkan agar korban tanpa sadar mengeklik tautan berbahaya tersebut.

Menurut laporan BGR, dikutip Senin (13/7/2026), sebagian besar tautan jebakan sebenarnya dapat dikenali jika pengguna tidak terburu-buru dalam mengambil tindakan. Kunci utamanya adalah tetap tenang, berpikir logis, dan memeriksa setiap detail secara saksama sebelum menekan sebuah link.

Modus penipu biasanya mengandalkan rasa panik, ketakutan, atau iming-iming hadiah besar agar korban segera bertindak tanpa berpikir panjang.

1. Verifikasi Identitas Asli Pengirim

Langkah berikutnya yang sangat krusial adalah memastikan identitas pengirim pesan. Bila email yang masuk mengatasnamakan bank, sekolah, perusahaan, atau institusi resmi lainnya, jangan hanya melihat nama tampilan (display name) pengirim saja.

Periksa juga alamat email lengkap yang digunakan karena pelaku phishing kerap memakai alamat yang sekilas sangat mirip, tetapi memiliki perbedaan kecil dari domain resmi. Jika memungkinkan, bandingkan dengan email asli yang pernah Anda terima sebelumnya dari institusi tersebut. Selain itu, perhatikan pula kualitas tulisan di dalam pesan.

Email atau pesan palsu sering kali dipenuhi oleh kesalahan ejaan, tata bahasa yang janggal, atau susunan kalimat yang terasa tidak alami.

 

2. Cermati Gaya Bahasa dan Struktur Kalimat

Meskipun kini banyak penipu telah memanfaatkan AI generatif untuk membuat pesan yang jauh lebih rapi dan meyakinkan, gaya bahasa yang terlalu kaku atau terasa berbeda dari pola komunikasi resmi sebelumnya tetap bisa menjadi tanda adanya upaya penipuan.

3. Gunakan Metode "Hover" untuk Memeriksa URL

Apabila Anda masih ragu dengan tautan yang diterima, jangan langsung mengekliknya. Jika Anda menggunakan komputer, arahkan kursor ke atas hyperlink tersebut tanpa menekannya (hover). Peramban (browser) biasanya akan menampilkan alamat URL yang sebenarnya di bagian pojok bawah layar.

Jika tautan tersebut mengarah ke situs resmi, alamatnya umumnya akan terlihat jelas dan menggunakan domain yang sesuai. Sebaliknya, URL yang dipenuhi oleh kombinasi huruf dan angka acak, atau bahkan salah eja, patut dicurigai secara mendalam.

Perlu diingat bahwa melihat alamat URL dengan cara hover ini sepenuhnya aman, karena ancaman digital baru akan aktif ketika tautan benar-benar dibuka.

 

4. Waspadai Pesan dari Orang Terdekat

Sementara itu, Anda juga perlu berhati-hati saat menerima link dari teman atau anggota keluarga sendiri. Tidak menutup kemungkinan bahwa akun media sosial atau pesan instan mereka telah diretas, sehingga penipu memanfaatkan identitas mereka untuk menyebarkan tautan berbahaya ke seluruh daftar kontak.

Untuk mengantisipasinya, lakukan konfirmasi melalui saluran komunikasi lain, seperti menelepon langsung, mengirim pesan melalui aplikasi yang berbeda, atau berbicara secara tatap muka guna memastikan apakah pesan tersebut benar-benar berasal dari orang yang bersangkutan.

Di tengah semakin canggihnya teknik phishing, kebiasaan memeriksa detail sebelum mengeklik tautan menjadi salah satu tameng paling efektif untuk melindungi data pribadi. Luangkan waktu beberapa detik untuk memverifikasi pengirim, mengecek alamat URL, serta memastikan isi pesan masuk akal.