Sukses

Keresahan Stephen Hawking soal Kecerdasan Buatan

Liputan6.com, Jakarta - Stephen Hawking, fisikawan kenamaan asal Inggris, diberitakan meninggal dunia hari ini, Rabu (14/3/2018). Pria kelahiran Oxford itu meninggal dunia pada usia 76 tahun.

Fisikawan teoritis ini memang dikenal memiliki kiprah yang luar biasa. Selain berperan di bidang fisika, Hawking sebenarnya turut memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan teknologi dan kemanusiaan.

Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah perkembangan kecerdasan buatan. Menurut Hawking, kecerdasan buatan dapat membahayakan apabila manusia terlalu agresif mengembangkannya.

Tak segan, ia menyebut manusia dapat digantikan produk kecerdasan buatan dalam beberapa tahun ke depan. Ia mengatakan, teknologi ini bak pisau bermata dua, sebab dapat menjadi temuan terbaik sekaligus mimpi buruk manusia.

Dalam wawancarannya baru-baru ini, ia juga memprediksi akan ada masanya teknologi ini akan lebih efektif ketimbang manusia. Hal itu membuat manusia tak lagi berguna.

Kendati demikian, ia mengakui teknologi sebenarnya memiliki manfaat bagi manusia. Akan tetapi, tanpa kehati-hatian, teknologi dapat menjadi hal yang mematikan.

Karena itu, Hawking memperingatkan manusia agar mempersiapkan diri menghadapi akibat dari kecerdasan buatan. Para ahli dan pemangku kepentingan harus menyadari potensi bahaya dan menyelesaikannya sebelum menjadi tak terkendali.

1 dari 3 halaman

Hawking Sebut Bumi Dapat Sepanas Venus

Hal lain yang juga menarik perhatian Hawking adalah soal pemanasan global. Ia menyebut Bumi dapat berakhir seperti Venus, planet tetangga yang suhunya sangat tinggi.

Ia mengatakan, jika manusia tak menghentikan efek rumah kaca dari gas emisi, suatu hari Bumi dapat memiliki suhu sangat tinggi hingga 460 derajat Celsius, seperti kondisi iklim Venus saat ini.

Prediksi tersebut ia ungkapkan saat mengisi serial TV berjudul Favourite Places. Siaran dapat disaksikan secara global melalui situs CuriosityStream.

Hawking bukan tanpa alasan menyebut Bumi bisa menjadi Venus kedua. Berdasarkan data NASA, Venus memang memiliki kondisi yang serupa dengan Bumi sekitar 4 miliar tahun lalu.

Saat itu, Venus memiliki air di permukaannya dan memiliki suhu yang bersahabat seperti Bumi. NASA menyebut planet kuning itu mampu menampung kehidupan sekitar 2 miliar tahun.

Namun, efek rumah kaca yang berlangsung di Venus membuat air di permukaan planet menjadi kering dan menjadikannya sangat panas. Di planet ini, angin bahkan bisa bertiup sangat kencang hingga 300 km/jam.

Venus, menurut Hawking, menjadi contoh bahwa dapat terjadi sesuatu di Bumi ketika efek rumah kaca di atmosfer mencapai tingkat ekstrem.

"Lain kali, saat bertemu dengan orang yang tak mempercayai perubahan iklim, ajak mereka untuk mengunjungi Venus. Saya yang akan membayar perjalanannya," tuturnya.

2 dari 3 halaman

Stephen Hawking Ingin Bulan Jadi Permukiman Manusia

Hawking juga menuturkan Bumi akan hancur dalam 100 tahun lagi. Untuk mengantisipasinya, ia menyarankan umat manusia harus pindah ke planet lain, setidaknya jauh dari Bumi di bintang Alpha Centauri.

Terbaru, pria kelahiran 8 Januari 1942 itu menciptakan ide alternatif jika manusia tidak mampu pindah ke planet di Tata Surya lain. Ia menyarankan, manusia sebaiknya pindah ke Bulan.

Hawking juga diketahui sedang memasuki proses negosiasi dengan negara-negara maju untuk mengirimkan astronot dari Badan Antariksa masing-masing negara ke Bulan pada 2020.

Tujuannya, agar para astronot bisa membangun permukiman di Bulan. Ia memperkirakan butuh waktu setidaknya 30 tahun untuk membangun sebuah pemukiman di Bulan, setelahnya baru manusia bisa hidup di sana.

(Dam/Ysl)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: 

Artikel Selanjutnya
Stephen Hawking Divonis Hidup Hanya 2 Tahun, Faktanya 50 Tahun Lebih
Artikel Selanjutnya
Stephen Hawking Meninggal, Duka Warganet di Media Sosial