Curhatan Monty Tiwa, Sempat Kesulitan Cari Tempat untuk Dibakar di Film GJLS: Berapi-Api

Monty Tiwa sebut adegan kebakaran di GJLS: Berapi-Api merupakan 50% api sungguhan dan 50% CGI.

Diterbitkan 31 Oktober 2026, 06:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Trio GJLS, Rigen Rakelna, Ananta Rispo, dan Hifdzi Khoir, kembali ke layar lebar dengan film keduanya yang bertajuk GJLS: Berapi-Api. Film garapan Monty Tiwa ini mengangkat kisah persahabatan yang haru namun tetap dibumbui komedi.

Memiliki banyak adegan yang bersinggungan dengan api karena fokus pada profesi sebagai petugas damkar, Monty Tiwa selaku sutradara mengatakan memiliki tantangan dalam pemilihan tempat, mulai dari sulit mendapat persetujuan, hingga tidak cocok secara artistik.

“Kita butuh benar-benar mereka merasakan sensasi ketakutan yang real. Itu makanya kita beberapa kali juga mencari tempat untuk syuting. Ada beberapa tempat yang ternyata pemiliknya keberatan untuk kita bakar. Tapi beberapa tempat yang bisa dibakar, secara artistik enggak cocok. Jadi susah banget,” kata Monty dalam konferensi pers yang dihelat di kawasan Kuningan, Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Hingga sudah mendapatkan tempat nya pun, mereka mesti memolesnya kembali sampai mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginan awal.

“Akhirnya kita memutuskan untuk mengambil gudang tua di PFN yang boleh dibakar. Cuma, secara artistik kita enggak cocok karena sudah terlalu kumuh. Akhirnya, ada beberapa adegan yang kita taruh di beberapa titik api. Jadi, misalnya 50 persen api yang ada di adegan itu real, 50 persen sisanya kita tambah dengan CGI,” katanya.

Bentuk Apresiasi bagi Petugas Pemadam Kebakaran

Di sisi lain, Indra Yudhistira selaku produser mengungkapkan alasan bawa profesi damkar karena merasa profesi tersebut selalu hadir di keadaan genting, namun jarang sekali disorot.

"Kita tahu waktu kita pilih damkar, kita tuh merasa pemadam kebakaran adalah satu profesi yang jarang disorot. Tapi dia selalu hadir pada saat kita genting,” ungkap Indra.

Ia juga mengatakan bahwa film ini menjadi apresiasi bagi para petugas damkar di luar sana. "Ini juga merupakan salah satu apresiasi kita buat para pemadam kebakaran. Semoga film ini juga bisa menghibur dan mudah-mudahan memberi apresiasi juga,” tambahnya.

Sebut Film Kedua Jadi Bukti GJLS Bisa Serius Berkarya

Menjadi film keduanya setelah GJLS: Ibuku Ibu-Ibu yang rilis 2025 lalu, Rigen Rakelna mengatakan merilis film keduanya ini merupakan salah satu mimpi mereka bertiga selama berkarya di dunia hiburan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

"Kalau ditanya soal mengejar mimpi, bisa ada di sini tuh adalah salah satu mimpi kita bertiga juga. Kita bisa ada diberi kepercayaan untuk bikin film kedua sama Amadeus,” katanya. Baginya, film pertama mereka adalah bagaimana mereka memperkenalkan GJLS ke masyarakat luas. Sedangkan di film keduanya, mereka ingin membuktikan bahwa mereka sungguh-sungguh dalam berkarya. "Kalau yang pertama kita tahu kita bisa memperkenalkan GJLS seperti apa ke masyarakat luas, dan yang kedua ini kita bisa memperlihatkan bahwa kita juga bisa seserius ini dalam membuat film. Jadi ini adalah salah satu mimpi kita juga bertiga,” tambahnya.

Halaman
Show All
Nola Vemiliana, Ratnaning AsihTim Redaksi
Copy Link
Batalkan