Profil Diding Boneng: Perjalanan Sang Aktor dari Teater ke Peran Ikonis di Film Warkop

Diding Boneng meninggal dunia pada Senin (3/8/2026). Perjalanan kariernya sangat panjang, sejak tahun 1970-an.

Diterbitkan 03 Agustus 2026, 10:59 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Industri perfilman Indonesia berduka dengan kabar meninggalnya Zainal Abidin, atau yang lebih dikenal dengan nama Diding Boneng. Berita duka ini datang pada Senin (3/8/2026), dan mendiang berpulang pada usia 76 tahun. 

Perjalanan karier Diding Boneng di dunia hiburan Tanah Air terbilang sangat panjang. Dilansir dari profil mendiang di Kapanlagi.com, sang aktor lahir pada tanggal 3 Maret 1950 dan memulai kariernya di dunia teater sejak tahun 1973. Ia juga sering menjadi pemenang dalam festival teater remaja pada masa itu, dan telah menerima banyak medali, sertifikat, dan piagam penghargaan. 

Dalam dunia perfilman, Zainal Abidin Zetta memulai karier dengan bermain dalam film Tiga Dara Mencari Cinta dan makin dikenal lewat serial TV Rumah Masa Depan dari tahun 1984 hingga 1986. Namanya semakin melambung ketika beliau bermain dalam beberapa film bersama Warkop DKI di era 80-an hingga 1994 yang menjadi peran-peran ikonisnya. 

Beberapa film yang beliau bintangi antara lain Godain Kita Dong (1989), Lupa Aturan Main (1990), Mana Bisa Tahan (1990), Bebas Aturan Main (1991), Bisa Naik Bisa Turun (1991), Sudah Pasti Tahan (1991), Masuk Kena Keluar Kena (1992), Bagi-Bagi Dong (1993), dan Pencet Sana Pencet Sini (1994).

Yang menarik, ternyata keterlibatannya dalam film Warkop ini terjadi tanpa audisi khusus. 

"Saya bukannya sombong ya. Saya kan bilang tadi, saya nggak pernah ikut casting, termasuk sama Warkop. Tiba-tiba PT-nya yang memproduksi Warkop, Soraya waktu itu dia calling saya. Saya disuruh dateng ke kantor Soraya Film. Di sana saya ketemu Warkop. Saya diajak main," kata Boneng, dalam wawancara eksklusif dengan Kapanlagi.com pada 2018. 

 

Boneng Tetap Aktif di Dunia Seni Peran

Masuk era 2000-an, Boneng mulai jarang terlibat dalam proyek film maupun sinetron. Dilansir dari Wikipedia, film-filmnya selama dua dekade terakhir bisa dihitung jari, seperti Ngebut Kawin, Kabayan Jadi Milyuner, KKN di Desa Penari, Badarawuhi di Desa Penari, dan The Torture: Beranak dalam Kubur.

Meski tak terlalu sering tampil di sinetron maupun layar lebar, hingga beberapa tahun lalu ia tetap aktif membaktikan diri di seni peran. Dalam wawancara dengan Kapanlagi pada 2018 silam, ia ternyata aktif mengajar teater di Teater Besar Taman Ismail Marzuki secara rutin.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

"Saya di sini setiap hari. Saya juga ngajar teater. Saya dua kali terpilih sebagai aktor terbaik. Sutradara terbaik tiga kali. Kalau sehari-hari lebih banyak teater walaupun nggak harus latihan kadang diskusi. Lebih banyak sehari-sehari baca buku atau pada saat jam-jam latihan, saya latihan," kata Boneng. Dalam wawancara yang sama, ia pernah mengungkap perbedaan akting di teater dan perfilman, "Di teater nggak liat cantik, jelek, gagah, lagi populer atau nggak, kan kita nggak lihat itu. Siapa yang mampu memegang peran ini atau bisa membuktikan bahwa mereka siap membawakan peran ini, silakan, siapapun. Di film kan nggak, ada ukuran dagangnya. Makanya sangat beda, beda sekali. Film sama teater yang sama, sama-sama bicara pemeranan. Tapi, kedalaman atau menyusuri pemeran itu secara dalam saya nggak yakin kalau di film," kata dia.

Halaman
Show All
Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan