6 Fakta Film The Last Journey, Dokumenter Para Penunggang Vespa Menjelajah Jawa dan Bali yang Indah

Juli 2023, sinema Indonesia diwarnai film dokumenter berdurasi 37 menit, The Last Journey yang mengisahkan para penunggang vespa rute Yogyakarta Bali.

Diperbarui 16 Juli 2023, 22:19 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

4. Syuting 16-17 Hari

Mario Arfani menerangkan, total syuting The Last Journey 16 sampai 17 hari. Ada banyak kenangan selama syuting salah satunya hujan angin di Gunung Bromo. Menuju puncak B29 sangat berkesan sekaligus menantang. Maksud hati ingin mencapai puncak, apa daya hujan angin mengadang.

“Tanpa hujan saja hawanya dingin, apalagi hujan angin. Salah satu kru kami rain coat-nya lepas. Kami khawatir jika nekat ke puncak B29 tanpa rain coat, dia akan kena hipotermia. Keselamatan dan kesehatan kru lebih penting. Makanya kami tak mencapai sana,” paparnya panjang.

 

5. Semalam di Tawangmangu

Selain Bromo, Mario Arfani jatuh hati pada momen singgah semalam di Tawangmangu yang tertelak di kaki Gunung Lawu. Hampir semua warga lokal menyambut hangat kedatangan pemain dan kru The Last Journey.

“Sempat kulineran satai kambing dan tongseng di sana. Itu enak banget. Inap hanya semalam lalu paginya kami sarapan dan melanjutkan perjalanan. Yang saya rasakan, suasananya sangat guyub, udaranya sejuk,” Mario Arfani mengenang.

 

6. Damba Ruang Untuk Film Dokumenter

Beragam kendala selama syuting The Last Journey tak membuat Mario Arfani kapok. Ke depan, ia ingin memproduksi film dokumenter dengan tema dan gagasan yang lebih kaya. Di balik penayangan The Last Journey di Kineforum Studio Asrul Sani Jakarta, terselip sebuah harapan.

“Harapan saya? Cuma pengin film dokumenter lebih diminati banyak orang. Saya juga berharap ke depan makin banyak ruang apresiasi yang memadai untuk menonton film dokumenter agar sinema Indonesia makin maju,” Mario Arfani mengakhiri.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Aditia SaputraTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan