Resensi Film KKN di Desa Penari: Bukan Horor Pada Umumnya, Babak Akhir Sajikan Dampak Paling Ngeri

Membukukan 315 ribuan penonton pada hari pertama penayangan membuat KKN di Desa Penari menjadi film Lebaran terlaris tahun ini. Berikut resensi filmnya.

Diterbitkan 02 Mei 2022, 15:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

“Diagnosis” sementara berdasar ritual minum kopi memperlihatkan Widya sasaran empuk lelembut desa. Nur sebaliknya, karena ada sosok tak kasat mata yang sejak awal menjaganya. Bagaimana dengan Bima?

Kesan pertama menyaksikan film ini, sinematografi penuh gaya dari high angle, rotasi gambar menuju titik pandang ideal, lanskap “agungnya” Desa Penari, hingga pohon-pohon yang menuntun jalan ke sumber petaka. Dari elemen teknis saja, KKN Di Desa Penari telah memperlihatkan kelasnya.

Terpikat Adinda Thomas

Belum lagi tata musik dan suara. Bagi yang menonton di studio bioskop dengan tata suara Dolby Atmos, terasa betul bagaimana music and sound efektif membangun hawa wingit, di samping unsur artistiknya.

Para pemain tampil apik. Pujian patut diberikan kepada Adinda Thomas yang tampil meyakinkan. Ekspresinya merefleksikan sesuatu yang mengintai, asing, dan berbahaya. Sejumlah adegan kritis ia eksekusi secara pas.

Kiki Narendra, Aty Cancer, dan Boneng tampil effortless. Penampilan natural para bintang senior ini memperlihatkan bahwa tokoh yang mereka mainkan benar orang lawas. Sesepuh. Mereka menyimpan rahasia tak terucap yang tersingkap dengan sendirinya.

 

3 Catatan Kritis

KKN di Desa Penari bukan horor kebanyakan yang menempatkan hantu sebagai serial killer dan manusia punya hak jejeritan sehebohnya sebelum cerita berakhir. Tema besarnya, “legenda” dari daerah yang dikonfirmasi layaknya kasus kriminal.

Ada saksi, korban, saksi ahli, TKP, barang bukti, dan tersangka. Misteri disibak lewat sejumlah klu. Efek ngeri bukan dari penampakan plus suara gedombrangan melainkan akibat-akibat fatal. Awi Suryadi menggiring cerita ke babak akhir yang menampilkan akibat paling ngeri.

KKN Di Desa Penari menyisakan sejumlah catatan. Pertama, bahasa Jawa yang digunakan broken alias gado-gado. Misalnya, nyelokoi (mencelakai) semestinya nyilakani. Kata kelakuane bisa dikoreksi menjadi solahbawane atau tumindake. Laopo kamu seharusnya laopo kon, atau laopo kowe.

Kedua, latar belakang karakter terasa samar. Ini berdampak pada pengembangan karakter secara keseluruhan. Ketiga, dampak dari samarnya latar belakang tokoh membuat babak kedua terasa agak melelahkan. Untung dibayar dengan babak ketiga yang mendebarkan.

Membangun Euforia

Setiap film punya plus minus, begitu pula KKN Di Desa Penari. Meski demikian, kita patut mengapresiasi mereka yang di depan maupun belakang layar film ini. Tunda tayang dua kali jelas berdampak besar pada euforia dan kekhawatiran hilangnya momen.

Ajaibnya, film ini tak kehilangan momen. Para kreator membangun momen sendiri salah satunya lewat dua versi: Cut dan Uncut. Jelas versi Uncut lebih bikin penasaran karena film ini menempatkan diri sebagai horor dewasa. Genre horor saja sudah masuk kategori dewasa.

LSF biasanya melabeli genre ini 17 tahun ke atas. KKN di Desa Penari berani ambil risiko membuat dua versi untuk penonton. Ini memantik euforia. Terbukti, Sabtu (30/4/2022) kata uncut trending di Twitter melampaui kata KKN di Desa Penari itu sendiri.

315 Ribuan Penonton, Selamat!

Belum lagi libur Lebaran kali ini, level PPKM makin longgar. Mudik diizinkan. Kepercayaan orang terhadap bioskop membaik. Terakhir, yang membuat film ini tak kehilangan euforia adalah kedekatan cerita terhadap masyarakat Indonesia.

Salah satu yang membuat saya dekat dengan film ini adalah sosok yang dipanggil Mbah Dok. Mbah Dok di Jawa merujuk pada kata Mbah Wedok atau eyang putri. Anda bisa tonton sendiri di bioskop siapa dia.

Pada hari pertama penayangan, KKN Di Desa Penari merangkul 315 ribuan penonton. Tertinggi ketiga dalam sejarah sinema. Inilah kemenangan bagi KKN Di Desa Penari. Ralat. Ini kemenangan bagi film Indonesia. Selamat!

 

 

 

Pemain: Tissa Biani, Achmad Megantara, Adinda Thomas, Kiki Narendra, Calvin Jeremy, Fajar Nugraha

Produser: Manoj Punjabi

Sutradara: Awi Suryadi

Penulis: Lele Laila, Gerald Mahamit

Produksi: MD Pictures, PicHouse Films

Durasi: 128 menit

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Meiristica NurulTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan