SHOWBIZ UNCENSORED: Pacarku Ternyata Tidak Menyukai Wanita (Bagian 1)

Showbiz Uncensored kembali menyajikan kisah terbaru. Simak drama menarik tentang curhat sang artis.

Diterbitkan 06 Januari 2020, 20:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Mandinya Lama Banget

“Oke, anggap topik pulang syuting sudah clear. Sekarang jelasin ke gue kenapa lo yakin Riga gay,” kata Dipta sambil meletakkan cangkir. Dia menatapku serius.

“Mandinya lama banget. Gue yang cewek saja kalah lama. Sekalinya keluar kamar mandi, buset baunya kayak peri. Gue kalah wangi, Dip,” jawabku.

“Sayangku, sejak kapan durasi mandi bisa dijadikan indikator seseorang itu gay atau lesbi? Don’t be shallow. Jangan bikin gue ilfil karena lo gue anggap salah satu artis cerdas di negara ini.”

 

Enggak Pernah Diapa-apakan

“Itu dugaan awal, Dip. Lo tahu selama pacaran gue enggak pernah diapa-apakan,” beri tahuku.

“Hei, siapa tahu dia lagi rajin ikut perkumpulan religius. Sekarang, kan lagi tren artis hijrah. Lo belum dinikahi tapi ngarep diapa-apain ya berarti lo kegatelan. Coba jelasin dengan lebih masuk nalar kenapa ujug-ujug lo menduga Riga gay. Jangan sampai pacaran empat tahun ambyar gara-gara dugaan lo yang enggak beralasan,” Dipta memperingatkan. Sampai di sini, aku bingung mulai menjelaskan dari mana.

 

Riga Beda dengan Evan

Benar, tak ada bukti autentik yang memastikan Riga gay. Dia juga tak punya aplikasi khusus LGBT untuk bersosialisasi atau perilaku yang mencurigakan. Seperti ngondek, misalnya. Toh zaman sekarang ngondek bisa dijadikan profesi seperti untuk melawak.

Memahami bahasa gaul dan kegemaran memakai kaus ketat yang memperlihatkan bentuk tubuh juga tak lantas membuat seorang laki-laki layak dituduh gay.

Yang kuingat, saat merayakan ulang tahun jadian pertama di Menjangan, Bali. Kami berciuman dan anehnya, aku tak merasakan chemistry apa pun. Beda dengan ketika aku dipacari Evan. 

Tentang Prasangka

Lagi-lagi, ini pun tak bisa dijadikan acuan. Beda orang, kan beda gaya dan selera. Istilah kasarnya, beda rasa. Hujan akhirnya reda. Aku diantar pulang Dipta. Pertanyaan Dipta gagal kujawab. Besok libur syuting.

Aku akan bikin kejutan dengan mengunjungi Riga di lokasi syuting sinetronnya dengan membawa makanan favoritnya. Sebelum turun dari mobil, Dipta mengingatkanku untuk berpikir jernih.

“Prasangka, kalau dibiarkan akan menjelma jadi akar yang leluasa menembus tanah. Makin lama didiamkan, makin sulit dicabut,” ia mengingatkan. Aku hanya mengangguk.

 

Makin Kuat Dugaanku

Makin kuingat nasihat Dipta, makin kuat dugaanku. Bagiku ini sangat aneh. Setelah mandi dan pakai piyama, aku rebahan di ranjang sambil menghubungi asisten pribadi Riga, Rini, buat memastikan jadwal syutingnya. 

“Rin, besok Riga dapat panggilan syuting jam berapa?” tanyaku lewat sambungan telepon.

“Ya, seperti biasa Mbak. Riga mah panggilan pagi melulu,” cetus Rini.

Keesokan paginya, aku memasak macaroni schotel bareng Mama. Satu loyang kecil sengaja kusisihkan untuk kubawa ke lokasi syuting.

 

Riga dan Dion

Jam 9 pagi aku berangkat dari rumah menuju lokasi syuting sinetron, di Bintaro. Tiba di sana, beberapa kru menyambutku dengan senyum. Yang lain melihatku dengan tatapan aneh antara tak enak hati atau malah kasihan?

Tak tahan mendapat tatapan seperti ini, aku mempercepat langkah menuju ke ruang artis. Sampai di sana, aku langsung membuka pintu. Riga yang sedang telanjang dada syok. “Kenapa enggak bilang kalau mau ke sini, sih?” sapanya, panik.

Belum sempat kujawab. Yang kulihat di ruang artis membuatku lebih panik. Riga dengan Dion. Berdua.

 

(Bersambung)

 

(Anjali L.)

 

Disclaimer: 

Kisah dalam cerita ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan jalan cerita, tokoh dan tempat kejadian itu hanya kebetulan. Seluruh karya ini dilindungi oleh hak cipta di bawah publikasi Liputan6.com.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Anjali LTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan