The Grudge: Misteri Tewasnya Satu Keluarga di Rumah 44 Reyburn Drive

Dibutuhkan kejelian untuk mengikuti alur maju mundur The Grudge agar Anda tak tersesat di tengah jalan.

Diterbitkan 04 Januari 2020, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Grudge artinya amarah bercampur dendam yang memuncak. The Grudge versi 2020 sempalan sekaligus bagian The Grudge (2004) yang dibintangi Sarah Michelle Gellar.

Film ini terbilang sukses hingga dibuat sekuel yang dirilis pada 2006 dan 2009. The Grudge merupakan versi bule dari Ju On, film Jepang karya sineas Takashi Shimizu. Di tangan Nicolas Pesce, peristiwa-peristiwa dalam The Grudge terjadi pada 2004-2006.

Dibutuhkan kejelian untuk mengikuti alur maju mundur The Grudge agar Anda tak tersesat di tengah jalan. Mendapat pujian di awal, The Grudge kemudian tergelincir karena panen kritik. Seperti apa filmnya?

Jenazah Membusuk di Mobil

The Grudge memulai kisahnya dengan kepulangan Fiona Landers (Tara) dari Jepang. Fiona disambut suami, Sam (David) dan putrinya, Melinda (Zoe). Fiona bahagia tapi sorot matanya beda. Beberapa hari kemudian, keluarga Landers dikabarkan tewas. Beberapa minggu berselang, agen properti Peter Spencer (John) mendatangi rumah keluarga Landers yang hendak dijual.

Peter mendapati Melinda di rumah dengan sorot mata dingin dan hidung mimisan. Lalu ia pulang menemui istri yang tengah hamil, Nina (Betty). Peter pun tampak dingin dan aneh. Berbulan-bulan setelah kejadian itu, Detektif Muldoon (Andrea) dan Goodman (Demian) mendapat laporan kecelakaan tunggal yang menewaskan Lorna Moody (Jacki).

Jenazahnya membusuk di dalam mobil. Sebelum ditemukan tewas, Lorna membantu William (Frankie) dan istrinya, Faith Matheson (Lyn). Pasutri ini tinggal di rumah kawasan 44 Reyburn Drive yang dulu dihuni keluarga Landers. Penasaran, Muldoon mendatangi rumah itu. Di sana, ia bertemu dengan sang nyonya rumah.

Tiga Kurun Waktu

Nicolas membelah The Grudge menjadi tiga kurun waktu yakni 2004, 2005, dan 2006. Dalam tiga periode ini, ada peristiwa-peristiwa penting yang beririsan langsung dengan kematian keluarga Landers.

Ketiganya digulirkan silih berganti. Anda mesti fokus, khususnya di segmen Peter-Nina yang seolah berada jauh dari peristiwa keluarga Landers namun sebenarnya dekat.

Salah persepsi memungkin Anda tersesat dan menilai film ini jauh dari nalar. Atau inilah kelemahan Nicolas dalam menempatkan para tokoh sehingga penonton gagal paham.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Bagian lain yang membuat film ini kacau, unsur kejut yang nyaris tak ada. Begini, efek kaget mutlak dibutuhkan dalam genre memedi. Berkaca dari The Ring alias Ringu (1998) misalnya, separuh film ini berisi drama dan penyidikan. Tak ada hantu yang muncul tiap lima menit sekali. Namun babak akhir membuat jantung penonton rasanya mau copot. Pemunculan Sadako bagai tabuhan gong dengan efek gema menembus ruang dan waktu. Sekali muncul bikin orang trauma. Tak heran Sadako melegenda. The Grudge meneror penonton bahkan pada lima menit pertama. Cara menerornya pun klise. Tak perlu menonton film impor untuk mendapat teror semacam ini mengingat karya Nayato Fio Nuala alias Koya Pagayo bisa melakukannya. Walhasil, The Grudge minim kejutan. Tangan menarik kaki korban, wajah mengendap dari bath tub berisi air, dan beberapa teknik penampakan lain yang mudah ditebak penonton dengan benar. Sensasi ngeri film ini dibangun berdasarkan pola The Grudge sebelumnya.

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Meiristica NurulTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan