Oscar 2016: Film Senyap dan 5 Adegannya yang Bikin Bergidik

Film Senyap atau The Look of Silence yang masuk dalam nominasi Oscar 2016, banyak menampilkan adegan yang membuat bergidik.

Diterbitkan 25 Februari 2016, 22:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Apa pun arti tawa tersebut, yang jelas cara pria itu bercerita yang begitu kontras dengan hal yang ia ceritakan, dijamin membuat penonton merasa terusik saat melihatnya.

Pertemuan Adi dengan Inong

Pertemuan Adi dengan Inong

Inong adalah seorang pria tua dengan mata yang mulai rabun dan gigi yang hampir tak bersisa. Tubuhnya kini boleh jadi terlihat renta, tapi film Senyap memberikan satu keterangan yang sedikit mengerikan di bawah namanya, yakni pemimpin pasukan pembunuh tingkat desa.

Adi datang dan mengaku sebagai optometris ke hadapan Inong, lalu mulai memeriksa mata lelaki tua tersebut sambil menanyakan masa lalunya. Termasuk pengakuannya yang terbilang menyeramkan saat menghabisi mereka yang dahulu dianggap Gerwani.

Namun dalam ceritanya, terselip pengakuannya bahwa peristiwa 1965 itu memiliki beban berat bagi jiwanya. Karenanya, saat itu ia mengambil cara apa pun untuk mempertahankan kewarasannya. "Makanya untung saja saya itu sempat minum darah orang. Kalau nggak sempat minum darah orang saya sudah gila," katanya sambil menyilangkan jari telunjuk di depan dahinya.

Adi Bertemu dengan Pamannya

Adi Bertemu dengan Pamannya

Salah satu paman Adi, ternyata ikut menjaga para tahanan yang dianggap PKI. Salah satunya adalah Ramli. Di salah satu adegan, Adi mendatangi pamannya tersebut dan menanyakan mengapa ia tak bisa melindungi keponakannya sendiri kala itu. Pamannya menyebut kala itu ia tak berdaya, karena massa dan ABRI, telah memberi perintah untuknya. "Awak disuruh jaga tahanan, ya sudah," katanya.

Penjelasan sang Paman selanjutnya, memberikan pemahaman tentang kondisi psikologis masyarakat kala itu. Bahwa daripada ia dituduh sebagai bagian dari PKI, mau tak mau ia ikut bekerja dalam operasi tersebut. "Pokoknya kita jangan ikut membunuh," katanya.

 

Penjelasan Guru di Sekolah Vs Penjelasan Ayah di Rumah

Penjelasan Guru di Sekolah Vs Penjelasan Ayah di Rumah

Salah satu adegan dalam film ini menunjukkan salah satu anak Adi yang bersekolah. Kala itu, gurunya secara gamblang memberikan penjelasan tentang kekejaman PKI. Tentang bola mata yang dicongkel dan kulit yang disilet pisau Inggris. Sejumlah anak tampak menggeleng dan mengernyit mendengar penjelasan mengerikan tersebut.

Sang guru juga menjelaskan bahwa dosa-dosa PKI tersebut diturunkan pada anak cucu mereka. "Heey, ini anak dari antek-antek PKI dulu, tidak boleh duduk di pemerintahan. Hey, dulu kakekmu ikut PKI, tak boleh jadi tentara," kata guru tersebut. Alis anak Adi bertaut, ia tampak berpikir keras mencerna penjelasan gurunya.

Di rumah, ia ganti bertanya pada ayahnya tentang penjelasan guru tersebut. "Itu semua bohong," kata Adi. Menurut Adi, semua penjelasan guru tersebut tak benar. Bocah laki-laki itu kembali mengernyitkan alisnya. Memikirkan dua penjelasan bertolak belakang yang diterimanya di rumah dan di sekolah.

Saat Anak Korban Bertemu dengan Anak Pelaku

Permintaan Maaf

Seperti di sepanjang film, di akhir film Adi kembali mengunjungi tempat tinggal seorang pelaku 1965 di sebuah rumah sederhana. Namun kali ini terdapat satu peristiwa yang berbeda.

Ia bertemu dengan satu pelaku yang ditemani seorang anak perempuannya. Awalnya, sang anak menyebut ia merasa bangga dengan sang ayah, yang dianggap masyarakat sebagai pemberantas PKI. Namun raut wajah perempuan tersebut mulai berubah saat mendengar sang ayah dulu mesti meminum darah agar tak menjadi gila.

Suasana tiba-tiba berubah saat Adi mengakui bahwa kakaknya adalah satu dari orang yang dibantai di tahun 1965 tersebut. Suasana yang canggung kemudian berubah saat Adi memeluk anak sang pelaku, yang kemudian mengucapkan maaf. "Minta maaf ya atas kesalahan bapakku," katanya. (Rtn)

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Aditia Saputra, Hotnida Novita SaryTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan