Krisna Mukti Minta Hengky Kurniawan Jangan Cengeng

Hengky Kurniawan sempat mengadu ke DPR karena film yang diporoduserinya sepi penonton.

Diterbitkan 26 Januari 2016, 14:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
ul class="baca-juga__list">
  • Hengky Kurniawan Kapok Jadi Produser Film?
  • Artis dan Musisi Sambangi Pimpinan DPR
  • Mesranya, Artis-artis Ini Ciuman Bibir Setelah Resmi Menikah
  • Parwez menambahkan, aturan yang diusulkan Hengky bisa menghancurkan industri film Tanah Air. Sineas tidak terlecut membuat film bagus, penonton tidak mau datang, tetapi bioskop harus memberikan layar bagi film yang tidak berkualitas. "Bahaya besar jika itu terjadi di Indonesia. Bukan itu yang kita mau. Yang kita mau adalah, buatlah film yang bagus, karena ada supply yakni bioskop dan demand yakni penonton," lanjut Parwez.

    Chand Parwez mengingatkan para produser untuk meningkatkan kualitas film yang dibuat. Karena dengan film berkualitas, penonton akan datang sehingga pengusaha bioskop juga akan memberikan layar yang lebih banyak. "Makanya kurang tepat, jika ada produser yang mengeluh karena filmnya tidak mendapat layar. Mereka harus introspeksi mengenai mutu film yang dibuatnya," kata Parwez.

    Foto profil Chand Parwez (Deki Prayoga/bintang.com)

    Dalam kacamata Parwez, sineas sebenarnya memang tidak perlu menuntut jumlah layar. Sebab, secara otomatis jumlah layar tersebut akan ditambah, jika film yang ditayangkan memang bagus. Buat apa mendapat layar banyak, tetapi tidak ada yang menonton.

    "Jadi lebih baik mana, ditonton 10.000 orang dengan 100 layar atau 10.000 orang dengan hanya 10 layar? Tentu lebih baik yang hanya 10 layar. Apalagi, kalau ditambah layar pun jumlah penonton tidak banyak meningkat," ujar Parwez.

    Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI) Kemala Atmodjo mengatakan, pemerintah harus berhati-hati dengan kebijakan proteksi film nasional. Bisa jadi, kebijakan tersebut justru akan merugikan dan menghancurkan perfilman Tanah Air. Menurut Kemala, dalam mengeluarkan regulasi, pemerintah tidak bisa mengeluarkan aturan yang hanya menguntungkan satu pihak namun merugikan pihak lain. Karena sebagai regulator, pemerintah memang harus berdiri di tengah dan hanya mengatur hal-hal yang penting.

    Hal senada diungkapkan aktor senior Gusti Randa. Menurutnya, jika para sineas ingin mendapat layar yang banyak, maka harus membuat film yang laku dan bermutu. Dengan begitu, lanjutnya, maka penonton akan datang dengan sendirinya dan pengusaha bioskop akan memberikan layar yang lebih banyak.

    Ketua Badan Perfilman Indonesia, Kemala Atmodjo saat menghadiri konferensi pers

    Menurut Gusti, jika dipaksakan memberikan layar banyak kepada film-film yang tidak laku dan bemutu, maka akan sangat merugikan pengusaha bioskop. Dan jika di hilir rugi, maka akan merugikan pula para sineas sebagai industri hulu perfilman.

    "Jadi jangan memaksakan membuat film yang secara kuantitas besar, namun tidak berkualitas dan tidak diminati. Percuma saja. Karena tahun pertama bisa membuat film, tahun berikut bisa bangkut," ungkapnya.

    Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

    Halaman
    Show All
    Aditia Saputra, Desika PemitaTim Redaksi
    Share
    Copy Link
    Batalkan