Bursa Asia Tertekan, Ketegangan AS-Iran Guncang Pasar Global

Bursa Asia dibuka melemah setelah Donald Trump memberlakukan blokade terhadap Iran. Lonjakan harga minyak dan data inflasi AS menjadi perhatian investor.

Diterbitkan 14 Juli 2026, 08:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia dibuka melemah pada perdagangan Selasa (14/7/2026) setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mengguncang pasar keuangan global. Sentimen tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pemberlakuan kembali blokade terhadap pelayaran Iran di Selat Hormuz.

Mengutip CNBC, kontrak berjangka indeks saham AS bergerak relatif datar pada perdagangan Senin malam waktu setempat setelah Wall Street ditutup melemah pada sesi sebelumnya.

Kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average turun sekitar 40 poin atau 0,1%. Sementara itu, kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq-100 bergerak tipis di sekitar level penutupan sebelumnya.

Sebelumnya, indeks-indeks utama Wall Street terkoreksi setelah Trump mengumumkan kebijakan baru terhadap Iran.

"Kami memberlakukan kembali blokade Iran, yang dinamakan demikian karena hanya menghentikan kapal-kapal Iran atau pelanggan mereka untuk masuk maupun keluar," tulis Trump melalui platform Truth Social.

Pengumuman tersebut langsung memicu lonjakan harga minyak dunia sekaligus menekan pasar saham global.

 

Nikkei dan Kospi Tertekan

Indeks S&P 500 ditutup melemah 0,8%, sedangkan Nasdaq Composite turun 1,6%. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average kehilangan lebih dari 100 poin atau sekitar 0,3%.

Di pasar komoditas, harga minyak Brent melonjak lebih dari 9%, mencatat kenaikan harian terbesar sejak 2020.

Sentimen negatif tersebut turut menekan pergerakan Bursa Asia pada awal perdagangan.

Indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,17%, sedangkan Topix melemah 0,51%.

Di Korea Selatan, indeks Kospi merosot 2,01% dan Kosdaq yang berisi saham berkapitalisasi kecil turun 1,8%.

Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia dibuka melemah 0,29%. Kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong juga berada di level 24.158, lebih rendah dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di 24.213,72.

Di sisi lain, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS meningkat tajam karena investor khawatir lonjakan harga minyak akan mendorong inflasi tetap tinggi.

 

Menanti Laporan Keuangan

Pelaku pasar kini juga menantikan dimulainya musim laporan keuangan emiten di Amerika Serikat.

Sejumlah bank besar, seperti JPMorgan Chase, Goldman Sachs, dan Bank of America dijadwalkan merilis kinerja keuangannya sebelum pembukaan perdagangan Selasa waktu setempat.

Direktur Riset dan Strategi Investasi Canaccord Genuity, Michael Graham, menilai pelemahan pasar pada perdagangan sebelumnya lebih bersifat sementara.

"Hari ini memang sedikit berbeda karena hampir semua aset bergerak turun. Namun secara umum, hal itu tidak mengubah pandangan kami terhadap musim laporan keuangan. Kami tetap optimistis terhadap saham-saham teknologi berkapitalisasi besar dan menilai laba perusahaan masih berpotensi melampaui ekspektasi," ujarnya kepada CNBC dalam program Closing Bell: Overtime.

Berdasarkan data FactSet, laba perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500 diperkirakan tumbuh 23,6% pada kuartal II 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Â