Tulisan Arab La Haula Wala Quwwata Illa Billah yang Benar, Makna dan Fadhilahnya

Dzikir merupakan salah satu bentuk ibadah yang paling dicintai Allah SWT.

Diterbitkan 14 Juli 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tulisan Arab La haula wala quwwata illa billah yang benar menjadi salah satu modal pengetahuan yang perlu dipahami oleh setiap muslim dalam mengamalkan dzikir ini. Kalimat yang sering disebut sebagai hauqalah ini merupakan salah satu bacaan dzikir yang memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam.

Rasulullah SAW bahkan menyebutnya sebagai salah satu simpanan surga, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits shahih. Keistimewaan ini menjadikan kalimat la haula wala quwwata illa billah sebagai amalan yang sangat dianjurkan untuk dilafalkan dalam berbagai kesempatan. Menulis kalimat thayyibah seperti hauqalah juga menjadi sarana untuk melatih kemampuan menulis huruf hijaiyah dengan benar sekaligus menghafalkan bacaannya.

Dzikir merupakan salah satu bentuk ibadah yang paling dicintai Allah SWT. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman yang memerintahkan hamba-Nya untuk memperbanyak dzikir, “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya” (QS. Al-Ahzab: 41).

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari juga menguraikan makna mendalam dari kalimat ini, bahwa tidak ada yang memiliki daya untuk menghindar dari maksiat kecuali dengan penjagaan Allah, dan tidak ada kekuatan untuk melakukan ketaatan kecuali dengan taufiq dari Allah SWT.

Tulisan Arab La Haula Wala Quwwata Illa Billah yang Benar, Lengkap Latin dan Artinya

Berikut adalah tulisan Arab la haula wala quwwata illa billah yang benar lengkap dengan harakat, tulisan latin, dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Tulisan Arab: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ

Latin: Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīm(i)

Artinya: "Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung."

Tajwid dalam Bacaan Hauqalah

Berikut adalah beberapa kaidah tajwid yang perlu diperhatikan ketika membaca kalimat la haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil adzim:

1. Mad Thabi'i (Mad Asli)

• Pada lafaz لَا (Lā): huruf lam berharakat fathah diikuti alif, dibaca panjang 2 harakat.

• Pada lafaz قُوَّةَ (quwwata): huruf qaf berharakat dhammah diikuti wawu sukun, dibaca panjang 2 harakat.

• Pada lafaz إِلَّا (illā): huruf hamzah berharakat kasrah diikuti lam bertasydid dan alif, dibaca panjang 2 harakat.

• Pada lafaz بِاللهِ (billāh): huruf ba berharakat kasrah diikuti lam bertasydid dan alif, dibaca panjang 2 harakat.

• Pada lafaz العَظِيْمِ (al-‘azhīm): huruf zha berharakat kasrah diikuti ya sukun, dibaca panjang 2 harakat.

2. Idgham (إدغام)

• Pada lafaz وَلَا (wa lā): terdapat idgham karena huruf lam pada wa bertemu dengan lam pada lā.

• Pada lafaz إِلَّا (illā): terdapat idgham pada huruf lam yang bertasydid.

3. Tafkhim (Tebal) dan Tarqiq (Tipis)

• Lafaz الله (Allah) dibaca tafkhim (tebal) karena diawali huruf lam jalalah.

• Lafaz العَظِيْمِ (al-‘azhīm) dibaca tafkhim pada huruf zha karena termasuk huruf isti'la.

4. Qalqalah

Pada lafaz قُوَّةَ (quwwata): huruf qaf termasuk huruf qalqalah (kubra) karena berharakat dhammah dan berada di tengah kata, dibaca memantul.

5. Lam Jalalah

Lafaz بِاللهِ (billāh): huruf lam pada Allah dibaca tafkhim (tebal) karena didahului huruf berharakat kasrah.

Makna Hauqalah bagi Umat Islam

Kalimat la haula wala quwwata illa billah atau yang dikenal dengan sebutan hauqalah memiliki makna yang sangat mendalam bagi kehidupan seorang muslim. Kalimat ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah pengakuan dan penyerahan diri secara total kepada Allah SWT.

Imam An-Nawawi dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi menjelaskan makna kalimat ini sebagai berikut: "Kalimat la haula wala quwwata illa billah adalah kalimat yang penuh kepatuhan dan kepasrahan diri (kepada Allah), dan sungguh seorang hamba tidak memiliki urusannya sedikit pun, ia tidak memiliki daya untuk menolak keburukan dan tidak memiliki kekuatan untuk menarik kebaikan, kecuali dengan kehendak Allah SWT."

Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Syarah Kasyifatussaja menambahkan bahwa makna hauqalah adalah tidak ada kemampuan menghindari maksiat kecuali dengan pertolongan Allah, dan tidak ada kekuatan melakukan ketaatan kecuali dengan pertolongan-Nya.

Dengan kata lain, seorang hamba benar-benar menyadari bahwa dirinya tidak memiliki daya dan upaya apa pun tanpa izin dan pertolongan dari Allah SWT.

Imam as-Syadzili juga memberikan penafsiran bahwa kalimat ini adalah bentuk penolakan segala keburukan yang menimpa seorang hamba. Dengan mengucapkan kalimat ini, seakan hamba tersebut menyatakan, 'Jauhkan segala keburukan dariku, dan aku alihkan daya upayaku kepada daya dan upaya Allah SWT' .

Rasulullah SAW bersabda: "Wahai Abdullah bin Qais, maukah aku tunjukkan kepadamu suatu simpanan dari berbagai simpanan surga?" Aku menjawab: "Tentu, wahai Rasulullah." Kemudian beliau bersabda: "La haula wala quwwata illa billah." (HR al-Bukhari)

Syekh Muhammad Asyraf bin Amir Syaraful Haq as-Siddiqi (wafat 1329 H) dalam kitab ‘Aunul Ma’bûd Syarhu Sunan Abî Dâwud menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan simpanan (kanzun) pada hadits di atas adalah pahala yang oleh Allah disimpan di dalam surga yang kelak di akhirat akan diberikan kepada orang-orang yang membaca kalimat la haula wala quwwata illa billah; atau bisa juga diartikan sebagai barang surga yang sangat indah yang sudah dipersiapkan oleh Allah untuk orang-orang yang membacanya.

Fadhilah La Haula Wala Quwwata Illa Billah

Berikut adalah lima keutamaan (fadhilah) utama dari amalan membaca kalimat la haula wala quwwata illa billah beserta dalil dan pendapat ulama:

1. Simpanan Surga (Kanzun min Kunuzil Jannah)

Keutamaan paling agung dari kalimat hauqalah adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih bahwa ia merupakan salah satu simpanan surga. Rasulullah SAW bersabda:

"Maukah aku tunjukkan kepadamu salah satu bacaan yang menjadi simpanan kekayaan di dalam surga?" Maka sahabat menjawab, 'Tentu wahai Rasulullah'. Rasulullah menjelaskan, 'Bacalah La hawla wa la quwwata illa billah'." (HR Muslim)

Syekh Muhammad Asyraf as-Siddiqi dalam ‘Aunul Ma’bûd menjelaskan bahwa simpanan surga ini adalah pahala yang disimpan Allah untuk diberikan kepada orang-orang yang mengamalkan bacaan ini.

2. Terhindar dari Kefakiran

Membaca hauqalah secara rutin menjadi benteng dari kefakiran. Syekh M Nawawi Al-Bantani dalam kitab Kasyifatus Saja mengutip hadits riwayat Ibnu Abid Dunya:

"Siapa saja yang membaca Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi setiap hari sebanyak 100 kali, maka ia selamanya takkan ditimpa oleh kefakiran."

3. Dibukakan Jalan Keluar dari Kesulitan

Bagi mereka yang sedang dilanda kesulitan dan kebimbangan, membaca hauqalah menjadi jalan keluar. Syekh M Nawawi Al-Bantani dalam Kasyifatus Saja menyatakan:

"Bila kebimbangan hinggap di hati seseorang lalu ia membaca Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi sebanyak 300 kali, niscaya Allah membukakan jalan keluar baginya, maksudnya Allah mengurangi beban kesulitannya."

4. Penolak Keburukan dan Bala

Kalimat hauqalah menjadi benteng perlindungan dari berbagai keburukan. Imam as-Syadzili menjelaskan bahwa kalimat ini adalah bentuk penolakan segala keburukan yang menimpa seorang hamba. Membaca hauqalah juga disebutkan dapat membuka 70 pintu cobaan, kefakiran, dan malapetaka, serta membantu menjauhkan penyakit, terutama yang berkaitan dengan kegundahan hati.

5. Memudahkan Ibadah dan Menjauhkan dari Maksiat

Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Syarah Kasyifatussaja menjelaskan bahwa makna hauqalah adalah pengakuan bahwa tidak ada kemampuan menghindari maksiat kecuali dengan pertolongan Allah dan tidak ada kekuatan melakukan ketaatan kecuali dengan pertolongan-Nya. Dengan memperbanyak membaca hauqalah, seorang hamba akan dimudahkan dalam beribadah dan dijauhkan dari perbuatan maksiat.

Waktu Tepat Mengamalkan La Haula Wala Quwwata Illa Billah

Kalimat la haula wala quwwata illa billah dapat diamalkan kapan saja, namun terdapat beberapa waktu yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak bacaan ini:

1. Setelah Salat Fardhu

Waktu yang paling utama untuk membaca hauqalah adalah setelah menunaikan salat lima waktu. Habib Sholeh bin M. Al-Haddar dalam bukunya Doa-Doa Mustajab Para Nabi & Rasul menganjurkan umat Islam untuk membaca dzikir ini sebanyak 100 kali setelah salat lima waktu.

2. Saat Menghadapi Kesulitan

Syekh M Nawawi Al-Bantani dalam Kasyifatus Saja menyatakan bahwa hauqalah merupakan lafal yang baik dibaca ketika seseorang tengah dirundung kesulitan dan kebuntuan.

3. Saat Mendaki Tempat Tinggi atau Membawa Beban Berat

Rasulullah SAW menganjurkan untuk membaca hauqalah ketika naik gunung atau membawa barang yang berat. Abu Musa Radhiyallahu Anhu berkata, "Kami pernah mendaki lereng bersama Rasulullah orang-orang memekikkan allahu akbar sedangkan aku sendiri mengucapkan la haula wa la quwwata illa billah."

4. Setiap Hari sebagai Wirid

Dianjurkan untuk menjadikan hauqalah sebagai wirid harian, baik 100 kali maupun 300 kali, sesuai dengan keutamaan yang telah disebutkan.

Pertanyaan Seputar Bacaan la haula wala quwwata illa billah

1. Apa itu hauqalah?

Hauqalah adalah sebutan untuk kalimat la haula wala quwwata illa billah yang berarti "Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah". Kalimat ini merupakan salah satu dzikir yang sangat dianjurkan dalam Islam.

2. Bagaimana tulisan Arab la haula wala quwwata illa billah yang benar?

Tulisan Arab yang benar adalah: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ.

3. Apa keutamaan membaca la haula wala quwwata illa billah?

Keutamaan utamanya adalah sebagai simpanan surga, terhindar dari kefakiran, dibukakan jalan keluar dari kesulitan, penolak keburukan, serta memudahkan ibadah dan menjauhkan dari maksiat.

4. Berapa kali sebaiknya membaca la haula wala quwwata illa billah?

Dianjurkan membaca 100 kali setiap hari untuk terhindar dari kefakiran, atau 300 kali saat menghadapi kesulitan untuk dibukakan jalan keluar.

5. Kapan waktu terbaik membaca la haula wala quwwata illa billah?

Waktu terbaik adalah setelah salat lima waktu, saat menghadapi kesulitan, saat mendaki tempat tinggi, atau sebagai wirid harian.