Outlook Fitch Ratings Jadi Negatif, Purbaya: Saham Turun Justru Good Time to Buy

Fitch Ratings mempertahankan sovereign credit rating Indonesia di level BBB atau kategori investment grade.

Diterbitkan 08 Maret 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings mempertahankan sovereign credit rating Indonesia di level BBB atau kategori investment grade. Namun, Fitch menyesuaikan outlook Indonesia dari sebelumnya stabil menjadi negatif.

Perubahan outlook tersebut memunculkan sentimen di pasar keuangan, termasuk potensi tekanan terhadap pasar saham. Meski demikian, pemerintah menilai kondisi tersebut tidak perlu disikapi dengan kekhawatiran berlebihan.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat, sehingga perubahan outlook tersebut tidak mencerminkan pelemahan yang signifikan.

Ia bahkan melihat koreksi pasar saham yang terjadi justru dapat menjadi peluang bagi investor untuk masuk ke pasar dengan harga yang lebih menarik.

“Jadi, kalau sudah turun, oh betul-betul. Tidak apa-apa. Itu kemarin itu turun lagi ya (saham) Good time to buy. Jadi tidak usah takut,” kata Purbaya dalam Media Briefing di kantor Kemenkeu, Jakarta, ditulis Minggu (8/3/2026).

Purbaya mengatakan penurunan harga saham yang dipicu oleh sentimen global atau keputusan lembaga pemeringkat bukanlah hal yang perlu ditakuti oleh investor.

Menurutnya, kondisi tersebut justru dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk melakukan pembelian saham. Ia bahkan menyebut kondisi pasar yang melemah bisa menjadi kesempatan investasi yang baik.

Pemerintah Pastikan Mesin Pertumbuhan Tetap Jalan

Di sisi lain, Purbaya juga memastikan berbagai langkah akan terus dilakukan untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional ke depan. Ia mengatakan dirinya terus memantau perkembangan ekonomi dan akan melakukan perbaikan terhadap berbagai fondasi ekonomi agar semakin kuat.

Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah mengoptimalkan peran sejumlah lembaga keuangan milik negara seperti PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII), serta PT Sarana Multigriya Finansial (SMF).

Menurutnya, lembaga-lembaga tersebut memiliki potensi besar untuk didorong lebih aktif dalam mendukung pembiayaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.

“Saya monitor terus perkembangan ekonomi. Yang jelas kita akan perbaiki terus ke depan. kita punya. SMI, LPEI, PII, SMF. Ada banyak lembaga yang belum kita optimalkan,” ujarnya.

  Optimalkan Peran INA

Selain itu, pemerintah juga akan memaksimalkan peran Indonesia Investment Authority (INA) yang dinilai memiliki dana besar namun belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi.

Purbaya menegaskan pemerintah akan memastikan berbagai instrumen fiskal dan lembaga investasi tersebut dapat bekerja lebih optimal sebagai engine of growth.

“Kita punya INA Punya uang banyak ya. Belum terlalu digunakan secara maksimal. Kita akan pastikan dia bekerja lebih keras ke depan. Jadi, engine of growth-nya kita jaga dari segi fiskal juga,” pungkasnya.