Jurnalis Batam Mengetuk Pintu Langit untuk Kawan yang Hilang di Selat Sunda

Jurnalis Batam menggelar acara doa bersama untuk 5 jurnalis dan 3 kru kapal yang sampai saat ini belum ditemukan.

Diterbitkan 14 September 2026, 05:22 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Batam - Temaram cahaya lilin menerangi Taman Aspirasi di kawasan DPRD Batam, Minggu malam (13/9/2026). Di antara cahaya yang berpendar, sejumlah jurnalis berdiri dalam suasana hening.

Foto lima rekan mereka yang hingga kini belum ditemukan terpampang di tengah-tengah cahaya Lilin. Para jurnalis Batam berkumpul untuk mengetuk pintu langit, memohon satu hal, agar lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang saat menjalankan tugas peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau, segera ditemukan dan kembali ke rumah dalam keadaan selamat.

Doa bersama bertajuk Mengetuk Pintu Langit dari Batam itu digelar Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kepri bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Batam, dan Ikatan Wartawan Online (IWO) Kepri. Sebelumnya di tempat terpisah, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kepri juga menggelar doa bersama untuk keselamatan para korban.

Suasana khidmat terasa sejak doa dimulai. Raut wajah para jurnalis tampak penuh harap dan cemas.

Mereka membayangkan keluarga di rumah yang masih menunggu kabar, sementara di laut, operasi pencarian terus dilakukan. Hingga memasuki hari keenam pencarian, keberadaan delapan orang tersebut belum diketahui.

Mereka sebelumnya berangkat menggunakan speedboat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin sekitar pukul 07.00 WIB. Tujuannya mendekati kawasan perairan Gunung Anak Krakatau untuk memantau sekaligus meliput aktivitas erupsi.

Sekitar pukul 14.42 WIB, salah seorang jurnalis masih sempat mengabarkan lokasi terakhir rombongan kepada rekan sesama jurnalis di Lampung. Namun, sekitar pukul 15.04 WIB, komunikasi dengan Muhammad Bagus Khoirunnas, jurnalis Kantor Berita ANTARA, tidak lagi dapat dilakukan. Harapan sempat muncul sekitar pukul 16.00 WIB.

Heriyanto, pemandu wisata yang berada di kapal tersebut, masih sempat mengirimkan foto kepada istrinya. Dalam pesan itu, ia mengabarkan bahwa rombongan berada di sekitar Gunung Anak Krakatau dan dalam kondisi aman. Setelah pesan tersebut, semuanya sunyi.

Tak ada lagi kabar. Tak ada komunikasi. Rombongan juga tidak kunjung kembali ke daratan. Kekhawatiran keluarga dan rekan-rekan mereka pun berubah menjadi kecemasan yang semakin dalam.

Keesokan harinya sekitar pukul 13.55 WIB, pihak keluarga bersama perwakilan media melaporkan kejadian tersebut kepada Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Banten. Laporan itu menjadi langkah resmi untuk meminta pencarian dan pertolongan terhadap delapan orang yang belum diketahui keberadaannya.

Lima jurnalis yang berada dalam rombongan tersebut yakni Muhammad Bagus Khoirunnas, pewarta foto ANTARA Biro Banten; Arie Basuki, pewarta foto senior Merdeka.com; Yudistiro Pranoto, jurnalis iNews; Firdaus Wajidi, jurnalis visual Anadolu Agency dan Donal Husni, jurnalis lepas.

Sementara tiga kru kapal yang turut hilang yakni Warta, selaku kapten atau nakhoda; Surakman, anak buah kapal (ABK); serta Heriyanto, pemandu wisata.

 

Bentuk Solidaritas

Ketua PFI Kepri Tommy Purniawan mengatakan doa bersama tersebut merupakan bentuk solidaritas sekaligus dukungan moral bagi para jurnalis, kru kapal, dan keluarga yang masih menunggu kabar. Tommy mengaku bisa merasakan kesedihan keluarga yang hingga kini belum mendapatkan kepastian mengenai keberadaan orang-orang yang mereka cintai.

"Saya bisa merasakan betapa sedihnya keluarga teman-teman kita yang belum ditemukan hingga saat ini," ujar Tommy.

Menurut Tommy, pekerjaan jurnalistik memang membawa para pewarta ke tengah berbagai peristiwa, termasuk ketika sebagian orang justru berusaha menjauh dari lokasi bencana. Namun, keberanian itu bukan berarti mereka tidak memiliki rasa takut.

"Ketika yang lain menghindari bencana, jurnalis justru mendatangi. Bukan karena kami tidak takut, tapi karena kami ingin mengabarkan informasi terbaru untuk masyarakat," katanya.

Karena itu, ia berharap operasi pencarian terus dilakukan secara maksimal hingga seluruh korban ditemukan.

Di tempat dan suasana yang sama Ketua AJI Kota Batam Yogi Eka Sahputra mengajak para jurnalis di Batam ikut hadir dalam doa bersama tersebut. Baginya, solidaritas tidak selalu harus diwujudkan melalui aksi besar. Dalam situasi seperti ini, berkumpul dan mendoakan rekan seprofesi menjadi cara sederhana untuk saling menguatkan.

"Kita kirimkan doa terbaik untuk kawan-kawan kita yang mengalami musibah ketika mencari informasi untuk kepentingan publik," kata Yogi.

Yogi mengatakan AJI Indonesia juga telah mendesak seluruh pihak dan otoritas terkait mengerahkan seluruh sumber daya yang diperlukan serta memperkuat koordinasi dalam operasi pencarian.

Harapannya sederhana, kelima jurnalis bersama seluruh orang yang berada dalam rombongan tersebut segera ditemukan dan dibawa pulang dalam keadaan selamat.

"Kami juga menyampaikan solidaritas dan dukungan kepada keluarga, sahabat, dan seluruh rekan kerja mereka yang saat ini berada dalam situasi penuh kecemasan," ujarnya.

 

Tidak Kehilangan Harapan

Di tengah kecemasan itu, Ustaz Syarif Hidayatullah yang memimpin doa menyampaikan pesan agar para jurnalis dan keluarga tidak kehilangan harapan. Baginya, dalam keadaan apa pun, selalu ada kuasa Tuhan yang tidak bisa dibatasi oleh perkiraan manusia.

"Tidak ada yang mustahil bagi Sang Maha Pencipta," kata Ustaz Syarif dalam doa bersama tersebut.

Ia kemudian menceritakan pengalaman seseorang yang dikenalnya ketika bekerja sebagai pekerja migran di Malaysia.

Orang tersebut, kata Syarif, pernah mengalami insiden ketika perahu yang ditumpanginya tenggelam di tengah laut. Ia kemudian dikabarkan hilang dan bahkan sempat dinyatakan meninggal dunia.

Waktu berlalu. Keluarga dan orang-orang terdekatnya berada dalam ketidakpastian. Namun, kuasa Tuhan berkata lain. Orang yang sebelumnya dikabarkan meninggal itu akhirnya kembali dan ditemukan dalam keadaan selamat.

Kisah tersebut disampaikan Syarif bukan untuk memastikan apa yang akan terjadi terhadap beberapa orang yang hilang di sekitar Anak Krakatau, melainkan untuk mengingatkan bahwa harapan tidak boleh berhenti selama pencarian masih berlangsung.

"Mudah-mudahan jurnalis yang hilang dapat segera ditemukan dan kembali dengan selamat," harapnya.(*)

Sejumlah Jurnalis yang terdiri dari Persatuan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kepri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Batam beserta Ikatan Wartawan Online (Kepri) mengelar Aksi Solidaritas Doa Bersama Untuk 5 jurnails yang belum di tukan saat meliput europsinAnak gunung Krakatau di Selat Sunda)