Kapitalisasi Saham Syariah Dongkrak Pasar Modal Syariah Tumbuh 38,01 Persen

Pasar modal syariah Indonesia meroket 38,01% per November 2025, tumbuh hampir 4 kali lipat lebih cepat dibanding sektor konvensional.

Diterbitkan 04 Maret 2026, 19:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) mencatat pasar modal syariah tumbuh 38,01 persen YoY, pertumbuhan didukung peningkatan kapitalisasi saham syariah.

Direktur Infrastruktur Ekonomi Syariah KNEKS Sutan Emir Hidayat, menyampaikan dalam paparannya per November 2025, total aset pasar modal syariah tumbuh 38,01 persen (YoY), meningkat dari Rp 8.549,74 triliun menjadi Rp 11.799 triliun, dengan pangsa pasar sebesar 47,07 persen.

“Nah, ini untuk pasar modal syariah tumbuh (38,01 persen),” kata Sutan dalam Forum Jurnalis Jagoan, di Kantor Pusat Bank Jago, Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Pertumbuhan ini tercatat 3,8 kali lipat lebih tinggi dibandingkan pasar modal konvensional yang tumbuh hanya sebesar 9,97 persen (YoY) pada periode yang sama.

Kinerja positif tersebut terutama didorong oleh peningkatan kapitalisasi saham syariah yang mencapai Rp 9.981 86 triliun, serta didukung oleh pertumbuhan aset Sukuk, Reksa Dana, dan SCF Syariah yang mencapai Rp 1.818,01 triliun.

Adapun dengan diterbitkannya POJK No. 8 Tahun 2025 memperketat kriteria Daftar Efek Syariah (DES) dengan menurunkan batas rasio utang berbasis bunga menjadi 33 persen (bertahap 10 tahun) dan membatasi pendapatan tidak halal maksimal 5 persen (berlaku 2026).

Meski bertujuan memperkuat integritas pasar, aturan ini berisiko mengurangi jumlah emiten syariah. Oleh karena itu, diperlukan koordinasi lintas lembaga (OJK, BEI, KNEKS) untuk mendampingi emiten agar tetap patuh dan menjaga keberlanjutan pasar modal syariah.

Tren Nilai Aset Terus Menguat

 Secara historis, nilai aset pasar modal syariah sempat mengalami tekanan pada 2022. Pada 2021, pangsa pasar modal syariah tercatat sebesar 33,98 persen, sebelum turun ke 31,47 persen pada 2022.

Namun sejak 2023, tren berbalik positif. Pangsa pasar meningkat menjadi 38,75 persen pada 2023 dan kembali naik ke 40,79 persen pada 2024. Memasuki 2025, pertumbuhan semakin kuat dengan capaian 45,88 persen pada Oktober dan 47,07 persen pada November.

Dengan posisi yang sudah mendekati 50 persen, pasar modal syariah semakin memperkuat perannya sebagai salah satu pilar utama dalam sistem keuangan nasional.

 

Kapitalisasi Saham Syariah Jadi Penopang Utama

Dari sisi komposisi instrumen, kapitalisasi saham syariah menjadi kontributor terbesar. Per November 2025, kapitalisasi saham syariah tercatat sebesar Rp 9.981,86 triliun atau mendominasi sebagian besar total aset pasar modal syariah.

Sementara itu, Sukuk Negara berkontribusi Rp 1.649,54 triliun, menunjukkan peran signifikan pembiayaan berbasis syariah dalam mendukung APBN. Adapun Sukuk Korporasi tercatat Rp 85,91 triliun.

Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksa Dana Syariah mencapai Rp 81,54 triliun, sedangkan Securities Crowdfunding (SCF) Syariah masih relatif kecil di angka Rp 1,02 triliun namun menunjukkan potensi pertumbuhan ke depan.

Sebagai pembanding, total pasar modal konvensional tercatat Rp 13.268,37 triliun. Meski masih lebih besar secara nominal, jarak antara pasar konvensional dan syariah semakin menyempit, menandakan daya saing instrumen syariah yang kian menguat di pasar domestik.