Badan Geologi: Ada Indikasi Likuifaksi usai Gempa NTT

Dampaknya Likuifaksi diperkirakan tidak sebesar likuifaksi yang terjadi di Palu beberapa tahun lalu.

Diterbitkan 15 Agustus 2026, 17:26 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Badan Geologi mendeteksi indikasi kecil likuifaksi di NTT pasca gempa.
  • Dampak likuifaksi diperkirakan rendah, tidak seperti di Palu; tim sedang verifikasi.
  • Masyarakat diminta tenang, waspada gempa susulan, dan ikuti arahan pemerintah.

Liputan6.com, Jakarta - Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan hasil analisis cepat menunjukkan adanya indikasi kecil likuifaksi setelah gempa yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026).

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menegaskan kepastian mengenai fenomena tersebut masih menunggu pemeriksaan lapangan.

Namun, ia memastikan dampaknya diperkirakan tidak sebesar likuifaksi yang terjadi di Palu beberapa tahun lalu.

“Kami perlu menegaskan ini masih indikasi awal. Dari analisis sementara, dampaknya diperkirakan rendah hingga sedang dan tidak menunjukkan karakter seperti fenomena likuefaksi di Palu yang dapat mengalir jauh,” ujar Lana dalam konferensi pers daring, Sabtu (15/8/2026).

Lana mengatakan Badan Geologi telah menurunkan tim untuk memastikan kondisi tersebut di lapangan.

“Untuk menyatakan betul itu adalah likuefaksi, kami akan menurunkan tim ke lapangan dan saat ini tim kami sudah berada di lapangan untuk memastikannya,” katanya.

Lana meminta masyarakat tidak berspekulasi dan tetap tenang hingga hasil pemeriksaan lapangan terkonfirmasi.

“Jadi, perlu bantuan dari media untuk memberikan informasi agar masyarakat tidak perlu berspekulasi yang lebih menakutkan, tetapi tetap perlu waspada sampai verifikasi lapangan selesai,” ujar Lana.

“Likuefaksi ini masih kami katakan masuk dalam kategori indikasi. Jadi, tidak perlu dikhawatirkan terlebih dahulu, meskipun tetap perlu waspada dan mengikuti informasi lebih lanjut,” sambungnya.

 

Waspada Gempa Susulan

Selain potensi likuifaksi, Badan Geologi meminta masyarakat mewaspadai gempa susulan yang masih dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan.

“Prioritas masyarakat saat ini adalah mengikuti arahan pemerintah dan BPBD, mewaspadai gempa susulan, memeriksa keamanan bangunan sebelum digunakan kembali, menjauhi tebing yang berpotensi longsor, serta mematuhi rambu dan jalur evakuasi,” ujar Lana.

Lana mengatakan berdasarkan pengalaman, gempa susulan dapat berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu, dengan frekuensi dan kekuatan yang cenderung menurun.

“Berdasarkan pemantauan dan analisis statistik saat itu, BMKG memperkirakan rangkaian gempa susulan meluruh dalam sekitar dua sampai tiga minggu,” ujarnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6