BUMI Tawarkan Obligasi Rp 612,75 Miliar, Segini Kisaran Bunganya

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menawarkan obligasi tahap IV 2025 dengan nilai Rp 612,75 miliar berjangka waktu tiga tahun.

Diterbitkan 25 Januari 2026, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menawarkan obligasi berkelanjutan I BUMI Tahap IV Tahun 2025 sebesar Rp 612,75 miliar. Obligasi tersebut bagian dari penawaran umum berkelanjutan obligasi berkelanjutan I Bumi Resources dengan target dana Rp 5 triliun.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Minggu (25/1/2026), PT Bumi Resources Tbk menawarkan obligasi dengan nilai 100% dari jumlah pokok obligasi yang ditawarkan Rp 612,75 miliar. Tingkat bunga yang ditawarkan perseroan sebesar 7,25% per tahun dengan jangka waktu tiga tahun sejak tanggal emisi. Pembayaran obligasi dilakukan secara penuh sebesar 100% dari jumlah pokok obligasi pada saat tanggal jatuh tempo.

“Bunga obligasi dibayarkan setiap triwulan sejak tanggal emisi, di mana bunga obligasi pertama akan dibayarkan pada 20 Mei 2026, sedangkan bunga obligasi terakhir sekaligus jatuh tempo obligasi akan dibayarkan pada pada 20 Februari 2029,” demikian seperti dikutip.

Perseroan akan memakai dana penawaran obligasi untuk pembayaran pokok pinjaman sebesar USD 20,45 juta atau setara Rp 347,33 miliar kepada Indies Special Oppurtunities III Ltd dan Indies Sepcial Opportunities IV Ltd berdasarkan perjanjian fasilitas 25 April 2025. “Sisanya akan digunakan untuk modal kerja perseroan,” demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi BEI.

Adapun yang bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi obligasi antara lain PT Mandiri Sekuritas, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk, PT BCA Sekuritas, PT Indo Premier Sekuritas. Selain itu, PT Sucor Sekuritas dan PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia. Sedangkan PT Bank Rakyat Indonesia (Perseri) Tbk bertindak sebagai wali amanat.

Jadwal penawaran obligasi:

  • Tanggal efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 26 Juni 2025
  • Masa penawaran umum pada 9-13 Februari 2026
  • Tanggal penjatahan pada 18 Februari 2026
  • Tanggal pengembalian uang pemesanan pada 20 Februari 2026
  • Tanggal distribusi secara elektronik pada 20 Februari 20026
  • Tanggal pencatatan di BEI pada23 Februari 2026

Kinerja IHSG Sepekan

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan 19-23 Januari 2026. Koreksi IHSG sepekan didorong sentimen geopolitik hingga nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). 

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (24/1/2026), IHSG merosot 1,37% ke posisi 8.951,01 selama sepekan. Pada pekan lalu, IHSG naik 1,5% ke posisi 9.075,40.

"Meskipun demikian, sepekan ini, IHSG sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa yaitu ditutup pada posisi 9.134,70 pada Selasa, 20 Januari 2026,” ujar Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, dalam keterangan resmi.

Sementara itu, kapitalisasi pasar merosot 1,62% menjadi Rp 16.244 triliun dari Rp 16.512 triliun pada pekan lalu.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, selama sepekan IHSG melemah 1,37% dan disertai dengan munculnya tekanan jual. Pihaknya perkirakan secara sentimen IHSG dapat dipengaruhi sejumlah faktor. Pertama, memanasnya kondisi geopolitik Amerika Serikat-Greenland dan juga mengancam akan mengenakan tarif impor bagi negara-negara Eropa khusus yang menentang rencana tersebut, meski sudah mulai mereda saat ini.

“Kedua, dengan kondisi ketidakpastian tersebut, investor cenderung wait and see dan berpindah ke aset minim risiko seperti emas sehingga harga komoditas emas dunia juga menguat dan membentuk adanya all time high baru,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

Ia menambahkan, faktor ketiga, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di mana hal ini imbas dari kekhawatiran  defisit fiskal Indonesia yang hampir mencapai 3%.

 

Faktor Lainnya

Faktor keempat, pelanggaran kebijakan the Federal Reserve (the Fed) masih menjadi perhatian investor. "Faktor kelima, terkoreksinya emiten-emiten konglomerasi, di mana hal ini diakibatkan karena adanya antisipasi perubahan metodologi MSCI dan dikhawatirkan akan menjadi outflow ke depannya,” ujar dia.

Di sisi lain, peningkatan tertinggi terjadi pada rata-rata volume transaksi harian bursa pada pekan ini sebesar 9,32% menjadi 65,73 miliar saham dari 60,13 miliar saham pada pekan lalu.

Selanjutnya rata-rata nilai transaksi harian BEI meningkat 3,59% menjadi Rp 33,85 triliun dari Rp 32,67 triliun pada pekan lalu. Rata-rata frekuensi transaksi harian turun 2,66% menjadi 3,75 juta kali transaksi dari 3,86 juta kali transaksi pada pekan lalu.

Pada pekan ini, investor asing melepas saham Rp 3,25 triliun. Pekan lalu investor asing masih membukukan aksi beli sebesar Rp 4,2 triliun.